Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Sop buntut


__ADS_3

Laila meminum air yang diberikan oleh Mama Ida, sedangkan Fajar terus mendampingi istrinya. Fajar yang semula ingin menelepon dokter, ia letakkan kembali ponselnya karena melihat sang istri yang sudah siuman.


"Bagaimana keadaanmu? Biar aku panggilkan dokter," ucap Fajar.


"Tidak usah, Mas. Aku baik-baik saja kok, Mama benar, mungkin aku sedang kecapekan, kamu tahu sendiri tamu kita banyak sekali, apalagi aku makannya cuma sedikit." Laila berusaha untuk menjelaskan kepada sang suami agar tidak terlalu panik.


"Oh ya sudah, Mama ambilkan makanan dulu, ya. Biar perutmu tidak kosong," tawar Mama Ida.


"Tidak perlu, Ma. Mama tidak perlu repot-repot, Laila sedang tidak ingin makan, dari kemarin Laila malas lihat makanan," ucap Laila yang merasa mulai tidak nafsu makan.


Mendengar ucapan dari sang istri, Fajar pun tidak bisa membiarkan istrinya seperti itu, karena bagaimanapun juga kesehatan Laila harus dijaga.


"Tidak bisa, kamu harus makan. Aku tidak mau istriku sakit!" protes Fajar. Bibi yang juga ikut melihat kondisi Laila, wanita itupun ikut khawatir dengan kesehatan Laila.


"Pak Fajar benar, Mbak Laila. Mbak Laila harus makan, nanti kalau sakit beneran, kasihan pak Fajar nya, nanti tidak bisa tenang kerjanya. Biar saya ambilkan makanan dulu!" sahut Bibi.


"Bibi tidak perlu repot-repot, beneran Laila nggak mau makan, kayak malas banget gitu lihat makanan," ucap Laila lemas.

__ADS_1


"Nggak bisa, Bibi benar. Ya udah, Bi. Ambilkan saja makanan untuknya," Fajar tetap memaksa agar istrinya tetap makan.


"Aduh Mas, aku beneran nggak lapar, aku hanya pingin kamu peluk aja, sini dong!" suara Laila terdengar manja sembari mengulurkan tangannya agar Fajar mendekati dirinya.


Fajar pun memeluk istrinya, entah kenapa tiba-tiba saja Laila ingin sekali menghirup aroma badan sang suami, seolah itu membuatnya sangat nyaman. Laila membenamkan wajahnya pada ketiak sang suami seolah itu adalah tempat ternyaman. Fajar pun terkekeh karena merasa geli.


"Eh eh geli, Sayang. Ngapain kamu ngumpet di situ, geliiii!"


"Emm ... pokoknya aku mau di sini, aku nggak mau makan, bau ketek kamu udah bikin aku kenyang, Mas."


Mama Ida yang melihat itu tampak senyum-senyum sendiri, mendapati putranya yang bahagia bersama dengan Laila.


"Ini dia sudah datang. Laila kamu makan dulu ya, Nak!" titah Mama Ida sembari menunjukkan piring nasi beserta sayur sop buntut.


Laila melihat ke arah piring yang dibawakan oleh Bibi. Namun, tetap saja dirinya tidak bernafsu untuk memakannya. Lain halnya dengan Fajar, entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa sangat kelaparan saat melihat sepiring nasi sop buntut itu. Air liurnya seakan-akan menetes sendiri ketika sop buntut itu berada di hadapannya.


"Waahh sop buntut, ini adalah makanan kesukaanmu, bukan. Ayo dimakan biar aku yang suapi!" Fajar mengambil piring itu dan berusaha untuk menyuapi istrinya.

__ADS_1


Laila justru menutup mulutnya, sungguh dirinya tidak selera makan. Karena Laila tidak mau membuka mulutnya, maka Fajar pula yang harus memakannya, karena tiba-tiba saja dirinya tergoda dengan sop buntut yang dulu tidak pernah ia sukai.


Sang Mama pun heran, anaknya bukanlah pecinta sop buntut, tapi kenapa sekarang suka dan doyan, bukan istrinya yang makan justru Fajar yang terlihat lahap sekali memakannya.


Mama Ida dan Bibi saling menatap, mereka berdua heran dengan tingkah Fajar yang diluar nurul, diluar prediksi BMKG, tak habis fikri dan sangat menghermankan. Pria yang anti daging-dagingan itu tiba-tiba makan sop buntut dengan lahapnya.


"Nyonya, bukankah pak Fajar itu seorang vegetarian. Kok sekarang makan sop buntut?" bisik Bibi pada Mama Ida.


"Aku juga nggak ngerti, Bi. Dia anti banget makan daging. Apa jangan-jangan ...!" Ekspresi Mama Ida pun spontan berubah. Apa mungkin sang anak sedang ngidam?


"Astaghfirullah, Fajar. Kira-kira dong, itu makanan buat istri kamu, kok malah kamu habisin?" protes Mama Ida yang melihat Fajar menghabiskan makanan itu tanpa sisa.


"Ya habisnya Laila tidak mau, ya sudah daripada mubazir, lebih baik Fajar makan." Kilahnya sambil cengar-cengir.


"Heran tuh Mama sama kamu, bukannya kamu nggak suka daging-dagingan, kok sekarang doyan banget!" Mama Ida geleng-geleng kepala.


"Iya, Ma. Entahlah Fajar juga nggak ngerti. Sekarang Fajar sangat suka sekali dengan daging-dagingan, mungkin efek setiap malam Fajar disuguhi daging terus sama istri, eh astaghfirullah aladzim nih mulut, maaf Ma lupakan, anggap saja pikiran Fajar sedang kongslet!!"

__ADS_1


Fajar terlihat memukul-mukul mulutnya sendiri ketika keceplosan berbicara seperti itu, sedangkan ketiga wanita itu tampak tertawa kecil mendengar ucapan dari Fajar yang terlihat sangat malu dengan menyembunyikan wajahnya pada pangkuan istrinya.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2