Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Tegang semuanya


__ADS_3

Laila meletakkan tangan Fajar di atas kepalanya, mempersilahkan sang suami untuk melepaskan kerudung yang selama ini menutupi kepalanya.


"Hanya tangan suamiku yang bisa menyentuh jilbab ini, dan hanya kamu yang berhak untuk melihat seluruh yang ada dalam diriku!" Laila berkata sembari menatap bola mata sang suami dalam-dalam. Kemudian gadis itu memejamkan matanya dan menunggu sang suami sampai melepaskan hijabnya.Tangan Fajar mulai bergetar saat menyentuh puncak kepala sang istri. Perlahan, tangan Fajar bergerak ke arah bawah dagu sang istri. Melepaskan peniti yang tersemat pada jilbab Laila, sebuah peniti yang mengatupkan jilbab itu agar tidak terbuka.


Finally, peniti itu terlepas dari jilbab Laila, jilbab itu mulai terbuka dan mulai memperlihatkan isi di dalamnya. Fajar menelan ludahnya sendiri saat leher Laila yang putih mulus mulai terlihat nyata di depan matanya.


Perlahan, Fajar menarik kerudung berwarna putih itu dari kepala Laila. Nafas Fajar semakin berat, seolah kadar oksigen di kamar itu mulai menipis, belum lagi keringat yang keluar dari kening pria itu. Kini, jilbab panjang itu berada di tangan Fajar, kemudian Fajar melemparkan jilbab Laila ke sembarang arah.


Sekarang, hanya menyisakan Ciput yang masih menempel di kepala Laila. Laila mulai membuka kedua matanya, ia melihat sang suami yang menatapnya begitu kagum, Laila tersenyum dan ia sendiri yang melepaskan Ciput itu dari kepalanya.


Fajar semakin tidak bisa mengontrol dirinya, nafasnya kian berat, tangannya tidak ingin berhenti bergerak, seolah ingin sekali menyentuh wajah istrinya yang kini terlihat sempurna dengan rambut hitam panjang yang terurai begitu sempurna. Kesempurnaan yang tersembunyi dengan rapi.

__ADS_1


"Subhanallah! Apakah aku sedang melihat bidadari turun dari khayangan?" puji Fajar ketika Laila memperlihatkan rambutnya kepada sang suami.


Laila meletakkan tangan sang suami pada wajahnya, tentu saja Fajar dibuat semakin gelisah apalagi tangannya sudah menyentuh wajah Laila yang putih. Laila mencium telapak tangan sang suami dan mengusapkannya pada wajahnya sendiri, seolah dirinya sedang memeluk sebuah boneka.


Tangan Fajar kian gemetaran dan Laila pun merasakan hal itu. Spontan Laila melihat ke arah sang suami dan tersenyum. "Kok tangan kamu gemetaran gini sih, Mas? Kamu sakit?" tanya Laila.


"Hmm ... iya, aku sakit. Badanku rasanya panas dingin!" sahut Fajar sambil mengusap keringat pada dahinya.


"Panas dingin? Coba kulihat!"


"Nggak panas kok? Sini aku pijitin kepalanya!" Laila berkata sembari beranjak duduk di atas pangkuan suaminya.

__ADS_1


Wow, jantung Fajar semakin berdegup kencang, Laila berani duduk di atas pangkuannya? Gila! Berani sekali dia, pikir Fajar yang tidak menyangka Laila bisa senakal itu padanya.


"Laila! A-pa yang kamu lakukan?" tanya Fajar sembari membenarkan posisi duduknya agar Fajar bisa duduk dengan nyaman, karena dipastikan Fajar akan mengalami kondisi di mana dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Memijit kepalamu! Mungkin saja kamu pusing, sehingga tanganmu gemetaran seperti itu," ucapnya sembari mulai memegang kepala Fajar dan perlahan memijitnya.


Fajar tidak menyangka jika Laila bisa melakukan hal seperti itu, bukannya tidak suka, Fajar justru sangat senang ternyata dibalik sikap kalem yang ditunjukkan oleh Laila selama ini, itu hanyalah hanya isapan jempol belaka. Nyatanya, Laila berganti sifat dan menjadi sosok yang genit saat ia lepas jilbabnya di depan Fajar. Terlihat lebih nakal dan menggoda iman seorang Fajar.


"Aduh! Rasanya kejepit nih! Bagaimana caranya aku bisa membenarkan posisinya? Kasian, pasti ketekuk lehernya," batin Fajar yang mulai tidak nyaman, karena pastinya jiwa kelelakiannya bangkit saat Laila duduk di atas pangkuannya.


"Kamu kenapa, Mas? Tegang banget!" ucap Laila yang melihat wajah suaminya yang benar-benar terlihat tegang dan semakin berkeringat.

__ADS_1


"Hah iya, tegang! Tegang semuanya!" jawaban Fajar sontak membuat Laila tertawa kecil.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2