
Genggaman tangan Fajar kepada Laila, membuat para karyawan mulai gaduh, gosip pun mulai menyebar di seluruh kantor. Di grup-grup Wa para karyawan.
"Mas, sebaiknya kita bersikap biasa-biasa saja seperti sekretaris dan Bosnya, kayaknya karyawan pada lihatin cara kamu memperlakukan aku, aku jadi nggak enak, Mas. Mereka kan belum tahu kalau kita sudah menikah," ucap Laila yang berjalan di belakang sang suami.
Fajar tidak bergeming, pria itu tetap membawa Laila untuk masuk ke ruangan mereka. Sedangkan Asisten Joko tampak melihat karyawan - karyawan itu melihat Fajar dan Laila yang sedang berjalan bersama.
"Eh ... ngapain kumpul di sini? Mau antri sembako? Bubar sana!"seru Pak Joko kepada beberapa karyawan.
"Ma-maaf, Pak. Iya iya kami akan pergi!"
Para karyawan itupun bubar dan kembali ke ruangan masing-masing.
Sekarang, Fajar dan Laila tiba di ruangan mereka, sebelum Laila duduk di kursinya, Fajar memberikan ciuman pipi sebagai penyemangat untuk pagi ini.
__ADS_1
"Kenapa istriku bersedih? Apa yang kamu pikirkan, para karyawan itu?" tanya Fajar sembari mengelus pipi Laila.
Laila menganggukkan kepalanya, kemudian Fajar mencoba untuk menenangkan sang istri. "Jangan pikirkan mereka! Itu urusanku, yang terpenting kamu tetap selalu bersamaku, senyum dong! Sebentar lagi mereka pasti tahu siapa kamu, hmm!"
Laila menganggukkan kepalanya dan mengerti maksud sang suami. Setelah itu, Fajar duduk di kursi kebesarannya dan kembali memeriksa beberapa dokumen penting. Laila pun kembali memeriksa beberapa berkas dan janji bertemu dengan beberapa klien.
Sejenak Laila teringat jika Fajar ada pertemuan dengan Bu Mega, seorang pebisnis cantik dari perusahaan PT. MAJU MUNDUR. Laila mendekati sang suami yang sedang berbicara dengan asisten Joko saat itu, sembari memberikan dokumen serta jadwal pertemuan dengan Bu Mega.
"Tanda tangan di sini, Mas!" Laila memberikan satu berkas dokumen kepada Fajar untuk ditandatangani. Fajar menerimanya, namun tak lupa tangan nakal Fajar membelai tangan sang istri sambil menatapnya manja. Fajar lupa jika di depannya itu ada Asisten Joko yang melihat mereka berdua.
Asisten Joko pun tampak malu-malu sendiri, ia pun berpura-pura melihat ke arah langit-langit kantor sambil bersiul-siul kecil ketika tidak enak melihat kemesraan Bosnya.
Fajar tersenyum miring, ia pun segera melepaskan tangan sang istri dan membuka dokumen yang akan ditandatangani itu.
__ADS_1
Laila terlihat malu saat asisten Joko memperhatikan mereka berdua, sedangkan asisten Joko tampak cengar-cengir seperti kuda.
"Oh ya, Mas! Nanti siang ada pertemuan dengan Bu Mega untuk kerjasama bisnis kamu yang baru, Bu Mega meminta bertemu makan siang di luar," seru Laila.
"Bu Mega? Bisa dicancel nggak? Aku sedang malas makan di luar," jawab Fajar sembari melonggarkan ikatan dasinya.
"Sepertinya tidak bisa, Mas. Karena Bu Mega sudah ada di kota ini," terang Laila yang sudah tidak bisa men-cancel jadwal pertemuan dengan pengusaha wanita itu. Bukannya Fajar tidak ingin bertemu dengan Bu Mega, hanya saja dirinya khawatir jika ia bertemu dengan Bu Mega, karena wanita itu pernah menyatakan cinta untuk Fajar, tapi Fajar menolaknya, ia takut jika sang istri melihat sosok Mega yang selalu tampil cantik dan seksi. Mega merupakan saingan Ratna kala itu. Sekarang Mega tahu jika Fajar sudah menjadi duda. Maka wanita itu berniat untuk mendekati Fajar. Sayangnya, Fajar tidak pernah merespon sikap Mega, itulah sebabnya Fajar malas untuk bertemu dengan wanita itu.
Di saat yang bersamaan, Laila mendapatkan telepon wanita yang bernama Mega sudah ada di luar ruangan dan ingin bertemu dengan Fajar.
"Siapa yang telepon?" tanya Fajar.
"Bu Mega sudah ada di luar, Mas."
__ADS_1
"Apa? Bu Mega sudah ada di luar, emm bilang aku sibuk, aku tidak ingin bertemu dengannya," jawaban Fajar sontak membuat Laila bingung. Tumben-tumbenan Fajar menolak bertemu dengan klien, sedangkan Laila belum tahu cerita yang sebenarnya.
...BERSAMBUNG ...