Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Mood booster dari ibu


__ADS_3

Di mobil. Adam terlihat murung. Mereka belum pergi dari sekitar tempat pemakaman umum. Agung dan Lela memutuskan untuk makan siang di tempat penjual bakso yang berjualan di pinggir makam. Banyak penjual makanan di sekitar makam tersebut, karena makam itu merupakan makam terbesar dan letaknya sangat dekat dengan keramaian.


"Adam, ayo makan, Nak!" seru Lela sang ibu.


"Adam malas makan, Bu. Adam di sini saja!" balas pemuda itu yang terlihat lemas.


"Ya sudah, ibu mengerti perasaanmu, kamu bersedih kan saat tahu jika ibu dosen kamu akan dijodohkan dengan pria lain?"


Pertanyaan sang ibu tentu saja membuat Adam terkejut, bagaimana bisa ibunya tahu apa yang sedang ia rasakan.


"Tidak, bukan itu." Adam menjawabnya dengan lirih.


"Bibirmu memang berkata tidak. Tapi hatimu tidak bisa di bohongi. Ibu tahu betul bagaimana sifat dan karakter anak ibu. Kamu menyukai ibu dosenmu, bukan? Ibu bisa melihat bagaimana caramu memandang gadis itu. Diam-diam anak ibu jatuh cinta kepada seorang gadis. Kenapa kamu tidak bicara saja langsung kepada Qia? Katakan jika kamu mencintainya. Mungkin dengan cara seperti itu. Qia bisa memohon kepada Pak Fajar untuk menolak perjodohan mereka, sebelum semuanya terlambat. Karena ibu yakin jika Qia juga menyukaimu. Kamu masih punya waktu, Nak!"


Ucapan sang ibu ibarat sebuah oase di tengah gurun. Penyemangat kala dirinya bingung harus berbuat apa.


"Ibu benar. Adam harus mengatakannya kepada Bu Qia. Adam harus berani dan tegas. Tapi, kira-kira apa Bu Qia juga merasakan hal yang sama seperti yang Adam rasakan? Jika tidak, pasti Adam malu sekali, Bu." sahut Adam yang mulai tidak percaya diri.


"Yakinlah, Nak! Karena Ibu juga melihat Qia menatapmu dengan tatapan yang berbeda. Gadis itu memang lebih pendiam dari adiknya. Ibu lebih setuju kamu menikah dengan gadis seperti Qia. Karena ibu rasa dia pasti bisa membuatmu jadi sedikit pendiam dan tidak pecicilan. Benar kata Fira, kamu itu memang pecicilan. Bukannya ibu tidak suka dengan Fira, dia juga gadis yang baik. Tapi, jika kamu menikah dengan Fira. Bisa-bisa setiap hari bertengkar terus, kalian berdua sama-sama pecicilan. Nggak ada mesra-mesranya." ucap Lela yang terus memberikan dukungan kepada anaknya.

__ADS_1


Agung pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang sering mempengaruhi anaknya untuk menjadi perebut calon istri laki-laki lain.


"Aduhhh bagaimana ibu ini. Masa ibu mengajarkan anak untuk menjadi pebinor sih! Ayo kita makan dulu. Kalau Adam tidak mau makan terserah dia, nanti kalau lapar pasti dia makan juga. " protes Agung sambil mengajak istrinya untuk segera makan bakso yang sudah dipesan.


"Ya Allah, Ayah! Qia itu masih calon istri belum menjadi istri. Jadi, gadis itu masih belum milik siapapun, dia masih milik kedua orang tuanya. Ya nggak masalah dong kalau Adam datang dan menawarkan cinta untuk Qia. Lagipula ibu juga suka dengan gadis itu. Dia kalem dan manis. Dua-duanya sama-sama manis. Kalaupun kita punya anak cowok satu lagi. Pasti bakalan aku ambil mantu juga," ucap Lela dengan tersenyum sambil mengikuti suaminya pergi ke tempat warung bakso.


Karena sudah mendapatkan mood booster dari sang ibu. Adam pun tiba-tiba merasa lapar dan ia pun ikut kedua orang tuanya untuk makan bakso.


"Tunggu, Yah! Adam juga lapar, Adam juga butuh makan dong, Yah. Biar bisa naklukin hati Bu dosen dan Om Fajar. Doakan Adam semoga Adam bisa membawa Bu Qia pulang ke rumah jadi menantu Ayah dan ibu. Kalau Bu Qia jadi mantunya ayah dan ibu, Adam pastikan deh ayah dan ibu bakalan dapat cucu banyak. Minta berapapun pasti Adam kasih." seloroh pemuda itu sambil duduk untuk menunggu bakso untuknya.


"Dasar bocah semprul! Kalau udah jatuh cinta ya kayak gini nih! Tapi apapun itu Ayah pasti mendukungmu. Asalkan kamu tetap menghormati gadis itu. Jangan pernah meminta yang aneh-aneh darinya. Dan satu hal lagi. Jaga pandanganmu! Karena wanita itu adalah fitnah! Jika bisa langsung nikahi agar tidak ada dosa yang mendekati. Karena zina itu sangatlah menggoda, dari tatapan mata saja itu bisa dikatakan dengan zina mata jika kamu menatap wajah Qia terlalu lama. Ayah tidak ingin kamu seperti Ayah dulu. Biar kenakalan ini hanya untuk Ayah. Kamu harus bisa lebih baik dari Ayah. Tidak selamanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Lalu, bagaimana jika buah itu terhanyut di kali dan terbawa arus? Pasti buah itu sudah jauh dari pohonnya. Itu yang ayah inginkan darimu!"


Mendengar penjelasan dari Ayahnya, Adam pun semakin yakin untuk menyatakan cintanya kepada Qia, dan berharap cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


Mereka pun akhirnya melanjutkan makan di warung bakso itu.


Di saat mereka sedang makan di warung bakso. Keluarga Fajar selesai melakukan ziarah, dan mereka berempat mulai masuk ke dalam mobil.


Secara tak sengaja. Adam melihat keluarga Fajar yang beranjak pulang. Ia pun melihat Qia yang berjalan di belakang kedua orang tuanya didampingi oleh sang adik, Fira.

__ADS_1


Fajar dan Laila belum menyadari jika Agung dan keluarga masih berada di sekitar lokasi makam. Mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pulang.


Adam terus memperhatikan mobil Fajar yang beranjak pergi. Dilihatnya kaca mobil belakang masih terbuka dan kebetulan ada Qia yang duduk di belakang bersama Fira.


Mobil pun mulai berjalan. Hingga akhirnya mobil Fajar melewati warung di mana Agung dan keluarganya sedang makan.


Tanpa sengaja, Fajar melihat Agung yang sedang makan. Mobil itu berhenti dan menyapa Agung sebelum Fajar melajukan mobilnya ke jalan raya.


"Ustadz Agung! Kita pulang dulu!" teriak Fajar kepada Agung.


Spontan Agung dan Lela menoleh.


"Oh ya, Mas! MasyaAllah saya tidak tahu. Mari-mari makan!" balas Agung sambil menawarkan makanan untuk keluarga Fajar.


"Terimakasih banyak, kami buru-buru. Sampai bertemu besok!"


Qia dan Fira pun melihat keluar jendela. Qia melihat Adam yang sedang menatap dirinya sambil tersenyum.


Qia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebelum mobil sang Abi pergi.

__ADS_1


"Mashaallah, adem lihat senyumnya. Pokoknya harus cepat-cepat ditembak, jika tidak aku yang bakalan mati duluan sebelum menembak. Aku nggak bisa melihat Bu dosen duduk di pelaminan dengan pria lain, pokonya nggak bisa!" ucap Adam lirih sembari mengusap dadanya.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2