
"Coba lihat deh, Kak! Itukan Adam sama Ustadz Agung." Fira menarik lengan sang kakak dan menunjuk ke arah Adam yang berjarak sekitar sepuluh meter dari mereka.
Qia pun melihat dengan jelas jika itu memang Adam dan kedua orang tuanya. Adam belum menyadari jika ada Qia dan Fira yang sedang memperhatikannya.
"Eh iya, itu Adam." ucap Qia sambil menatap wajah adiknya.
Di saat kedua gadis itu terpaku pada Adam yang sedang duduk di meja seberang. Tiba-tiba saja Fajar memanggil keduanya.
"Qia, Fira, kesini, Nak!"
Kedua gadis itu terperanjat dan segera menganggukkan kepalanya. Baik Qia maupun Fira sama-sama menuju ke arah Abi mereka. Keduanya melewati Amir yang sedang berdiri di samping kedua orang tuanya. Fira melirik ke arah Amir yang sedang tersenyum kepadanya. Sedangkan Qia dia tidak melihat ke arah Amir sama sekali.
Seolah kedua hati mereka saling berbicara.
"Kenapa Mas Amir pilih aku?"
"Karena kamu lucu, dari dulu kamu gadis yang selalu membuatku kesal. Sekarang, semakin membuatku kesal jika aku tidak memilikimu. Aku sangat penasaran denganmu!"
"Halah gombal! Mas kira aku percaya. Harusnya Mas Amir pilih kakak dong, kok nunjuknya ke aku sih!"
"Tanganku reflek, dia bergerak sesuai hati nuraniku. Qia memang baik, tapi aku lebih penasaran dengan gadis pecicilan sepertimu. Sepertinya sangat menegangkan!"
"Idih menegangkan, memangnya naik rollercoaster. Mas itu ketuaan bagiku, cocoknya sama kakak."
"Ingat, laki-laki dewasa itu ibarat buah kelapa yang sudah tua, semakin tua dia semakin bersantan. Apa kamu tidak ingin merasakan nikmat gurihnya?"
"Enggak ah, nanti bisa terkena kolesterol dan asam urat kayak Abi, kebanyakan makan berlemak dan bersantan,"
"Itu beda dong! Santan punyaku tidak akan menyebabkan kolesterol atau asam urat. Mungkin dia akan membuatmu masuk angin selama 9 bulan!"
"Diiihhh ... kok geli ya, seperti apa sih santannya?"
Seketika Amir tertawa kecil melihat ekspresi wajah dari mata Fira. Meskipun wajah kedua gadis itu tertutup cadar. Tapi Amir masih bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Fira yang sebenarnya.
Fira langsung berjalan cepat menuju ke tempat sang Abi yang sedang berdiri di samping Ummi mereka.
Setelah keduanya tiba di depan kedua orang tuanya. Fajar segera merangkul pundak kedua putri mereka dan menanyakan sesuatu kepada Qia.
__ADS_1
"Kamu tahu kenapa Abi memanggil kalian ke sini?"
Baik Qia maupun Fira menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, sekarang Abi ingin mendengar pendapat Qia tentang perjodohan ini. Tadi, Abi sudah diberi tahu oleh Ummi kalian. Ummi sudah cerita semuanya, dan Abi sudah memutuskan untuk tetap menjodohkan Qia ...!" belum selesai Fajar menyelesaikan kata-katanya, Qia sudah menyela duluan.
"Tapi Abi, Qia nggak mau dijodohkan dengan dia, bukannya tadi Amir sudah memilih Fira. Kenapa Abi masih memaksa sih! Qia nggak suka, Bi!" protes Qia yang masih khawatir jika sang Abi tetap pada pendiriannya menjodohkan dirinya dengan Amir.
"Siapa bilang Abi bicara seperti itu. Kamu dengarkan dulu penjelasan Abi. Abi akan tetap menjodohkan kamu. Tapi ... bukan dengan Amir. Biarlah Amir dengan Fira, karena Abi melihat Amir lebih memilih adikmu. Ya sudah, Abi tidak akan memaksa. Kamu setuju kan, Fira? Kamu sendiri tidak mau menikah dengan Amir. Lagipula Amir juga tidak ingin dijodohkan dengan kamu. Dia justru memilih Fira. Terus, apa apa Abi harus memaksa kamu, enggak kan?" ucap Fajar sambil menatap anak pertamanya.
"Sebenarnya, Fira nggak keberatan sih, tapi Fira nggak mau nikah dulu Abi. Fira ini adiknya Kakak, nggak mungkinlah Fira melangkahi kakak. Kalau Fira nikah berarti kakak juga harus nikah. Paling enggak kita barengan lah!" seloroh Fira.
"Ya emang nanti Abi bakal nikahkan kalian berdua barengan, kamu nikah dengan Amir, sedangkan kakakmu ... akan Abi nikahkan dengan ... Adam, putra ustadz Agung."
Seketika Qia tercengang dan Fira pun bertepuk senang. Qia masih tidak menyangka jika sang Abi berkata demikian.
"Hore ... Alhamdulillah, akhirnya kakakku nikah juga sama Adam. Selamat Kakak, makasih Abi. Abi emang pengertian banget sih, kalau gini sih Fira nikah kapan aja mau. Asalkan Kakak juga nikah. Nggak mungkinlah Fira bahagia dengan suami, Kakak masih menjomblo. Kasihan, Bi!" goda Fira kepada kakaknya. Pak Joko pun mempersilakan Fajar dengan senang hati.
"Apa sih, Fira!" Qia terlihat malu-malu kucing.
"Ciee yang lagi malu. Tuh pangerannya kebetulan ada di sini juga!" seru Fira sambil menunjuk ke arah Adam dan keluarganya di meja seberang.
"Alhamdulillah, Mas. Ternyata jodoh memang tidak kemana. Sepertinya sudah waktunya kamu menikahkan kedua putrimu. Jangan tunggu lama-lama lagi, ayo samperin mas Agung. Kita ajak dia besanan!" ucap Laila sembari mengajak sang suami untuk menghampiri Agung dan keluarganya.
"Kamu benar. Em ... pak Joko, saya akan kesana dulu. Silakan kalian ngobrol dulu dengan Fira. Fira, kamu temani calon mertuanya untuk mengobrol. Abi dan Ummi akan mengajak mereka gabung juga bersama kita. Tentunya untuk membicarakan hari bahagia kalian!" ucap Fajar kepada Fira yang terlihat mulai gugup karena dirinya harus menghadapi Amir dan kedua orang tuanya.
"I-iya, Abi."'
Sejujurnya, Fira terlihat deg-degan dan salah tingkah. Apalagi saat melihat tatapan mata Amir yang begitu dalam kepadanya. Sedangkan Qia, gadis itu juga sangat gugup ketika Fajar dan Laila mendatangi meja tempat di mana Adam dan keluarganya sedang makan malam.
"Aduhhh, Abi. Abi yang kesana, kenapa aku yang deg-degan." batin Qia sambil merremas ujung kerudungnya.
Sementara itu, tidak membutuhkan waktu lama untuk Fajar tiba di tempat Agung berada. Di saat Agung dan keluarganya sedang menikmati makan malam. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum!"
Spontan semuanya menoleh ke arah Fajar yang sedang berdiri di samping meja makan mereka.
__ADS_1
"Waalaikum salam Warahmatullah, Mas Fajar, Laila. Subhanallah, ternyata kalian berdua ada di sini juga!" balas Agung gembira.
Bukan hanya Agung dan istrinya yang terkejut. Tapi Adam juga tak kalah terkejutnya.
"Waalaikum salam, Om Fajar, Tante Laila." Adam mencium tangan Fajar dan Laila.
"Ternyata Allah sudah merencanakan semua ini untuk kita bertemu lagi. Nak Adam, apa semalam kamu bisa tidur dengan nyenyak?" tanya Fajar.
"Maksud Om apa?" Adam terlihat bingung.
"Apa kamu tidak merindukan Qia?"
Seketika pertanyaan Fajar membuat Adam terkejut dan salah tingkah. Sementara itu Agung dan Lela saling menatap dengan wajah bahagia.
"Merindukan Bu Qia? Ah Om Fajar bisa aja!" sahut Adam malu-malu.
"Bukan hanya merindukan Bu dosennya saja. Tapi Adam ingin selalu bertemu dengannya." sahut Agung yang justru semakin membuat Adam tidak bisa berkata apa-apa.
"Astaghfirullah Ayah. Jangan bilang gitu dong, malu. Bu Qia juga belum tentu merasakan hal yang sama, maaf Om dan Tante, jangan percaya Ayah. Ayah memang suka bercanda!" ucap Adam sambil memijit pelipisnya.
Semuanya terlihat tertawa kecil melihat tingkah Adam yang salah tingkah. Hingga akhirnya, Fajar berkata kepada pemuda itu. "Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Bu dosenmu setiap hari?"
"Ya maulah, Om. Siapa sih yang nggak mau melihat wajah Bu Qia yang imut. Emm ... tapi sepertinya semua itu hanya mimpi. Bukankah Om sudah menjodohkan Bu Qia dengan seorang pria. Jadi, saya tidak mungkin lancang untuk mendekati Bu Qia lagi."
Jawaban Adam spontan membuat Adam tersenyum dan menepuk pundak pemuda itu.
"Katakan padaku! Apa kamu mencintai putriku, Qia?"
"Kenapa Om bertanya seperti itu?" seru Adam balik bertanya.
"Katakan saja!"
"Tentu saja. Maaf jika saya lancang mencintai putri Om. Jujur, hanya Bu Qia wanita yang nyantol di hati saya. Mungkin saya tidak pantas untuk mendapatkan cintanya. Tapi, saya berharap Om bisa mengerti. Saya berjanji tidak akan mengganggu Bu Qia lagi setelah ini." balas pemuda itu dengan wajah pasrah nya.
"Untuk apa kamu meminta maaf, ganggu saja tidak apa-apa, Om dengan senang hati akan mengizinkannya. Bawa dia pulang, tapi dengan satu syarat, kamu harus mengucapkan ijab Kabul di depanku!"
Seketika kedua mata Adam berkaca-kaca. Apakah dia tidak salah dengar, ataukah itu sebuah mimpi?
__ADS_1
...BERSAMBUNG...