
Laila kembali menatap wajah sang kakak untuk terakhir kalinya, kali ini ia berusaha untuk bersikap tenang meski tidak bisa dipungkiri jika hatinya benar-benar bersedih, "Kenapa? Kenapa secepat ini Mbak Ratna pergi? Apa Mbak tidak rindu dengan Adikmu ini, Mbak? Maafkan aku Mbak, aku belum bisa mengatakan bahwa aku sangat merindukan Mbak Ratna. Aku tidak pernah membencimu, Mbak. Bagiku Mbak Ratna tetaplah saudaraku, apapun yang terjadi biarlah terjadi. Tapi kenapa Mbak pergi dengan cara seperti ini, kenapa?"
"Sudahlah, Sayang. Semua ini sudah takdir dari Allah. Ratna sudah tidak merasakan sakit lagi, doakan saja semoga Ratna bahagia di sisi Nya dan mendapatkan ampunan Nya. Kamu yang tabah, aku yakin jika Ratna pasti juga ikut bahagia melihat adiknya bahagia. Percayalah!" Fajar mengusap pundak sang istri dan menutup kembali wajah Ratna dengan kain berwarna itu.
"Jangan ditutup!" Laila mencegah suaminya untuk menutupi wajah Ratna.
"Tapi, Ratna harus segera dimandikan dan disholatkan, kita tidak boleh menunda-nunda untuk menguburkan nya." Fajar berusaha untuk menjelaskan kepada sang istri.
__ADS_1
"Untuk yang terakhir kalinya, biarkan aku memeluk kakakku. Terakhir dia memelukku saat ulang tahunku setahun yang lalu, dia berikan aku hadiah sebuah jilbab syar'i panjang, Mbak Ratna memang tidak pernah berjilbab. Tapi dia tidak ingin aku melepaskan jilbabku, jika kutanya kenapa Mbak Ratna memberikan jilbab itu untukku. Dia bilang dia tidak mau ada laki-laki jahat yang melihat diriku dengan liar. Cukup dirinya saja yang seperti itu tapi adiknya jangan."
Kata-kata itu terucap dari bibir Laila dengan bergetar lirih, setelah mengatakan itu ia pun memeluk sang kakak untuk terakhir kalinya.
Tak ada nafas di sana, tak ada debaran jantung Ratna yang terdengar, yang ada hanya dingin dan kaku. Tubuh Ratna mulai dingin, suhu badannya turun karena jantungnya sudah berhenti berdetak.
Dokter Erna dan wanita itu yang diketahui bernama Bi Munah itu, turut bersedih melihat Laila yang memeluk sang kakak untuk terakhir kalinya. Bagaimanapun juga Ratna tidak akan merespon karena jiwanya sudah terlepas dari raga. Mungkin saat ini Ratna hanya mampu melihat Laila dari dekat tapi tidak bisa menyentuh sang adik.
__ADS_1
Bayangan masa kecil mereka terlintas begitu nyata saat Laila memeluk sang kakak. Andaikan waktu bisa diputar kembali, mungkin Laila tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk kebersamaannya bersama Ratna. Namun, apalah daya semua ini sudah kehendak Nya. Laila harus bisa ikhlas dengan kepergian sang kakak.
Setelah beberapa saat Laila puas memeluk Ratna, ia pun beranjak mengangkat kepalanya dan menutup wajah sang kakak dengan kain putih itu. Kali ini ia harus tegar, ia harus bisa ikhlas melepaskan kepergian Ratna untuk selamanya. Karena bagaimanapun juga di dunia ini tidak ada yang abadi, semua manusia pasti akan mengalami kematian dan kembali ke pangkuan Nya.
"Selamat tinggal, Mbak. Aku mengikhlaskan kepergian mu, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosamu, dan ditempatkan paling indah di sisi Nya. Maafkan adikmu jika selama ini sudah pernah membuatmu marah dan kesal. Aku sayang Mbak Ratna, tapi Allah lebih sayang padamu, Mbak. Sekarang kamu tidak akan merasakan sakit lagi, selamat jalan Kakakku, selamat tinggal!"
Untuk terakhir kalinya Laila mengusap buliran bening yang jatuh dari pelupuk matanya. Hatinya sudah bertekad untuk mengikhlaskan kepergian Ratna. Setelah itu, brankar itu didorong oleh petugas medis ke ruang jenazah untuk dimandikan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...