Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Sebuah Blazer


__ADS_3

Mega tidak bisa lagi berlama-lama di sana, security berusaha untuk membawa Mega pergi. Namun, wanita itu rupanya pergi begitu saja seolah dirinya sudah terlanjur malu. Di sepanjang jalan ia tampak mengumpat, disaksikan banyak karyawan Fajar yang melihat.


"Apa kalian lihat-lihat?" bentak Mega sambil melototkan matanya.


"Ti - tidak, Bu!"


Karena emosi, wanita itu keluar dengan berjalan cepat, hingga tak terasa sepatu hak tingginya tersangkut pada sebuah keset dan akhirnya terjungkal.


"Aaaahhhhhhh!!"


Suara teriakan Mega terdengar begitu kencang, spontan para karyawan berlari menghampiri wanita itu.


Bukannya menolong Mega, mereka justru menertawakan wanita yang sedang terjatuh tertimpa bak sampah yang ada di sampingnya. Bagaimana mereka tidak tertawa, Mega yang mengenakan rok mini, tiba-tiba terjatuh dan rok yang dikenakannya sobek hingga pangkal paha, tentu saja area segitiga itu terlihat sangat nyata.

__ADS_1


Terdengar gelak tawa para karyawan yang membuat Mega sangat marah. "Brengsek kalian semua, awas saja!" ucap wanita itu sambil beranjak untuk berdiri.


Fajar dan Laila saling menatap, kenapa para karyawan terdengar tertawa di ruangan depan. Mereka berdua pun menghampiri asal sumber suara itu.


"Ada apa ini?"


Suara Fajar memecah kegaduhan, para karyawan itu diam dan memberi hormat kepada Fajar. Pria itu melihat kondisi Mega yang masih duduk di atas lantai dengan memegangi pinggangnya. Spontan memalingkan wajahnya saat melihat posisi Mega terjatuh, karena aurat wanita itu tampak begitu jelas.


"Ya Allah, Bu Mega! Kok bisa sampai jatuh seperti itu?" Laila melihat posisi Mega yang terjengkang, rok wanita itu robek sehingga ia tidak berani bangun. Jika ia bangun pasti area dalamnya akan terlihat lebih banyak.


Laila berusaha membantu menutupi area paha Mega yang terbuka dengan melepaskan blazernya. Meninggalkan baju kemeja putih yang masih tampak longgar. Ia menghampiri Mega dan memberikan blazer itu untuk membantu Mega agar bisa berdiri.


"Pakailah ini, setidaknya bisa menutupi sobekan pada rok Bu Mega." Laila memberikan blazer miliknya kepada Mega.

__ADS_1


Dengan perlahan, tangan Mega meraih blazer hitam Laila untuk menutupi area robekan pada rok mini yang dipakainya. Kemudian Laila membangunkan Mega untuk berdiri.


Mega menundukkan wajahnya, ia tidak tahu harus berkata apa, jika saja tidak ada inisiatif Laila untuk memberikan blazer miliknya. Mungkin, Mega pasti sangat malu karena tidak menutup kemungkinan pahanya akan terekspos sempurna.


"Terima kasih banyak, sekarang aku baru tahu kenapa Fajar sangat mencintaimu, dia benar. Kamu wanita yang pandai menjaga tubuhnya dari pandangan mata orang lain, jika saja aku tidak memakai rok mini, mungkin hal ini tidak akan terjadi, setidaknya bagian tubuhku tidak terlihat dan dinikmati orang banyak. Maafkan aku, Laila. Aku memang selalu menggoda suamimu. Tapi, dia tidak pernah melihatku sedikitpun, kamu beruntung memiliki suami seperti dia, Fajar sangat mencintaimu, kalian berdua memang ditakdirkan untuk hidup bersama, selamat atas pernikahan kalian, aku doakan semoga kalian berdua menjadi suami istri yang selalu saling melengkapi, bahagia selamanya till Jannah!"


Mega memeluk Laila, pemandangan yang manis itu membuat Fajar ikut tersenyum bahagia, pria itu semakin kagum dan semakin cinta kepada istrinya.


"Jangan pernah pisahkan kami ya Allah! Jadikan Laila sebagai pendamping hamba untuk selamanya, hingga tiba waktunya jantung ini berhenti berdetak!" Fajar membatin sembari menatap sang istri penuh cinta.


Laila pun tahu saat suaminya sedang menatap dirinya, ia spontan menundukkan wajahnya karena tersipu malu.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2