Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Mendapatkan sebuah berlian


__ADS_3

Di sisi lain, petugas kepolisian langsung menangkap Agung dan membawanya ke kantor polisi. Sekarang, Laila bisa bernafas dengan lega, Agung akhirnya bisa ditangkap dan tidak akan bisa mengganggunya lagi.


Fajar menghampiri Laila dan mengajak gadis itu untuk pulang.


"Ayo kita pulang! Anak gadis tidak baik lama-lama di luar rumah," ucap Fajar.


Laila pun tidak berani menatap Fajar, dirinya begitu malu karena Fajar sudah tahu isi hatinya. Fajar pun mulai melangkahkan kakinya untuk kembali ke mobil, sedangkan Laila mengikuti Fajar di belakangnya.


Lagi-lagi Fajar berhenti dan membalikkan badannya kearah Laila. Spontan Laila terkejut dan tanpa sengaja tatapan mata mereka pun saling bertemu.


"Kenapa berhenti?" tanya Laila yang masih sangat gugup.

__ADS_1


"Dari dulu aku tidak suka meninggalkan wanita berjalan di belakangku, karena aku selalu menomorsatukan seorang perempuan. Seperti halnya dengan dirimu, Laila." Fajar berkata sembari mempersilahkan Laila untuk berjalan terlebih dahulu.


"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Laila yang semakin dibuat penasaran oleh Fajar.


"Bagiku, seorang wanita adalah makhluk yang sangat mulia, aku akan selalu menghormatinya dan selalu memanjakannya, apalagi jika wanita itu sudah berhasil mengambil hatiku, jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu, Laila. Sekarang, aku sudah tahu semuanya dan kamu tidak bisa mengelaknya lagi. Allah sudah menakdirkan kita untuk bertemu lagi. Ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan, itu artinya kamu juga merasakan hal yang sama seperti diriku, jadi untuk apa kita lama-lama seperti ini, bukankah yang halal itu lebih indah dan tidak akan menimbulkan dosa? Bismillahirrahmanirrahim dari lubuk hatiku yang paling terdalam, maukah kamu menjadi istriku, Laila?"


Fajar mengatakan hal itu sembari bertekuk lutut di hadapan Laila. Memohon kepada Laila untuk memintanya menjadi istri. Melihat Fajar yang sedang berlutut di depannya, Laila spontan berusaha untuk membangunkan Fajar agar pria itu berdiri seperti sedia kala.


"Aku tidak akan bangun jika kamu tidak menjawabnya, jawab dulu setelah itu aku akan berdiri, aku akan terima apapun keputusanmu, aku iklhas! Kalaupun aku ditolak, maka aku pergi darimu dan tidak akan pernah mengganggumu lagi, itu saja. Katakan Laila!" balas Fajar yang tentunya memaksa Laila harus menjawabnya.


Tidak ada pilihan lain lagi bagi Laila untuk menjawabnya, gadis itu dengan malu-malu mengatakan sesuatu kepada Fajar. Dengan menghela nafas panjang, Laila berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


"Bismillah! Baiklah aku akan menjawabnya, hmm ... iya, aku mau." jawaban yang singkat, padat dan jelas. Laila berkata sembari memejamkan matanya, sungguh ia tidak bisa menahan rasa malunya saat Fajar melamar dirinya.


"Benarkah? Kamu menerimaku, Laila? Alhamdulillah ya Allah, terima kasih banyak ya Allah. Em ... terima kasih banyak, Laila! Aku tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya hatiku, mendapatkanmu seolah-olah aku mendapatkan sebuah berlian yang sangat bersinar, kamu sangat berharga untukku, aku tidak akan berlama-lama lagi untuk menghalalkan hubungan kita, karena aku ingin selalu melindungi berlian yang sangat cantik ini, sehingga tidak ada lagi tangan-tangan kotor yang berusaha menjamahnya," balas Fajar dengan wajah yang mengharu biru.


Sementara itu, Asisten Joko yang berada di dekat mereka ikut bahagia dan terharu, akhirnya penantian cinta sang bos berakhir dengan bahagia.


"Alhamdulillah, akhirnya Pak Fajar melepaskan masa dudanya, eh masa perjakanya, eh ... aduh nih mulut, maaf Pak!" celetuk asisten Joko yang seketika membuat Laila tertawa kecil.


Fajar pun tersenyum malu, kini mereka berdua sama-sama terlihat salah tingkah. Fajar yang awalnya terlihat percaya diri dan cool. Kini bagaikan seekor kucing yang lucu yang sedang malu-malu.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2