
Laila tidak bisa menolak permintaan Fajar. Karena bagaimanapun juga dirinya sudah menerima lamaran Fajar. Tentu saja Fajar terlihat begitu bahagia, sesekali Laila melihat ke arah Fajar yang terlihat senyum-senyum sendiri, wajah pria itu benar-benar sangat terlihat begitu terpancar aura kebahagiaan nya. Padahal dirinya memiliki sebuah luka sayatan pada telapak tangannya. Seolah rasa sakit pada luka itu telah hilang dan mengering.
"Ya Allah, Mas Fajar terlihat begitu bahagia, aku belum pernah lihat wajahnya sebahagia ini. Bahkan saat dia menjadi suaminya Mbak Ratna, belum pernah aku melihat senyuman dia yang sangat bahagia. Eh ngomong-ngomong bagaimana kabar Mbak Ratna? Kenapa aku tiba-tiba kepikiran tentang dia, apa dia baik-baik saja?" Untuk sejenak, Laila masih terpikirkan oleh saudari satu-satunya.
Iya, Ratna. Laila berusaha untuk mengikhlaskan kepedihan hatinya terhadap Kakak kandungnya itu, meskipun begitu sebagai saudara yang seayah dan seibu, Laila juga masih mencemaskan keadaan Ratna, biarpun Ratna belum tentu memikirkan adiknya.
*
*
*
Di sebuah rumah yang pernah dihuni oleh Kakak beradik itu. Tampak seorang wanita yang sedang sibuk menelepon seseorang untuk mencari tahu keberadaan suaminya..
"Halo! Bagaimana? Apa kamu sudah tahu di mana suamiku sekarang? Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang. Kesel banget aku sama dia, Lama-lama dia membuatku bosan saja. Hah, apa? Jadi kalian tidak tahu di mana Agung? Brengsek! Pasti laki-laki itu sedang mencari Laila. Dasar laki-laki bajingan! Dia hanya memperalatku untuk mendapatkan Laila, aku sumpahi dia tidak akan pernah bisa mendapatkan Laila, dasar pria egois!" umpat Ratna sambil menutup ponselnya.
Wanita itu benar-benar sangat kecewa kepada Agung yang mulai menunjukkan sifat aslinya, setelah dirinya puas dengan Ratna. Agung pun mencampakkan Ratna dan lebih memilih pergi setelah Agung tahu di mana Laila berada.
Ratna tiba-tiba merasakan sakit pada perutnya, rasa sakit itu teramat menyiksa.
"Aduuh! Perutku, kenapa rasanya sakit sekali, awwww sakiiiitttt!" rintih wanita itu sembari mendekap perut bagian bawahnya. Rasa nyeri itu tidak berhenti di situ saja, Ratna pun terlihat sangat pucat seolah rasa sakit itu menguras tenaga dan aktivitasnya.
__ADS_1
Sensasi nyeri itu sampai ke ulu hati dan rasanya benar-benar sangat menyiksa. Ratna berusaha untuk berjalan ke kamarnya, tapi bagaimanapun caranya. Ratna tidak kuat jika harus berjalan sampai ke kamarnya.
"Apa yang terjadi denganku? Sakit banget nih perut, aku nggak kuat lagi!" pekik Ratna yang mulai merasa sekelilingnya berputar-putar, dan pada akhirnya, Ratna jatuh pingsan di atas lantai.
"Astaghfirullah, Bu Ratna!! Bu Ratna kenapa? Bangun, Bu!" seorang asisten rumah tangga pengganti Bibi, datang untuk menolong Ratna yang tiba-tiba pingsan.
Sang asisten panik dan segera membawa majikannya ke rumah sakit. Beruntung Ratna memiliki asisten rumah tangga yang baik, sehingga ia mendapatkan pertolongan secepatnya. Bi Munah, wanita lima puluh tahun itu adalah yang menolong Ratna ketika pingsan.
Bi Munah mengantarkan Ratna pergi ke rumah sakit dengan menggunakan sebuah taksi. Bi Munah tampak kasihan melihat keadaan Ratna yang terlihat sangat pucat, akhir-akhir ini Ratna memang jarang istirahat, apalagi sejak kepergian Agung dari rumah.
"Kasihan, Bu Ratna. Dia tidak punya keluarga satu orangpun, pak Agung juga tega sekali meninggalkan Bu Ratna, sudah tahu istrinya sakit malah ditinggal pergi." Bi Munah ingat betul pertengkaran Ratna dan Agung tempo hari yang menyebabkan Agung pergi menjauhi Ratna.
"Mau pergi ke mana kamu, Agung? Apa hanya gara-gara itu kamu ingin pergi meninggalkan aku? Habis manis sepah dibuang gitu?"
"Apa kamu bilang? Aku perempuan penyakitan? Jaga mulutmu, Agung! Aku seperti ini juga gara-gara kamu, kamu itu maniak sekali, aku turuti kemauanmu yang aneh-aneh itu agar kamu senang, tapi ternyata itu membahayakan diriku sendiri, dan sekarang kamu bilang aku ini penyakitan, kamu itulah yang sumber penyakit,"
"Omong kosong! Aku sudah tidak perduli lagi, urus saja dirimu sendiri, aku ingin bebas dari wanita yang sudah tidak berguna seperti dirimu,"
"Brengsek kamu, Agung! Aku sumpahi kamu mati membusuk dan torpedo mu dimakan belatung, kamu adalah penjahat kelamin yang sesungguhnya, menjijikkan! Setidaknya Laila beruntung karena tidak memilihmu sebagai suaminya, lebih baik adikku pergi jauh dari predator seperti kamu, aku sangat menyesal pernah melakukannya bersamamu,"
Setelah pertengkaran itu, Agung pun keluar dari rumah Ratna, sedangkan Ratna terlihat bersedih dan meratapi nasibnya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sedari dua Minggu yang lalu, Ratna mengalami pendarahan yang tak kunjung berhenti, dan itulah yang menyebabkan Agung tidak tahan, karena pria itu adalah seorang pria maniak yang tidak akan pernah tahan jika sehari saja tidak berhubungan badan.
__ADS_1
Bi Munah yang masih ingat betul kejadian itu hanya bisa menghela nafas panjang, kali ini Bi Munah memutuskan akan merawat Ratna karena ia kasihan melihat Ratna yang tidak memiliki sanak saudara di kota ini.
*
*
*
Sesampainya di rumah sakit, Ratna segera dibawa ke ruangan pemeriksaan, Bi Munah tampak harap-harap cemas, menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Hampir lima belas menit, dokter keluar dari ruangan, Ratna pun sudah siuman dari pingsannya. Dengan wajah yang masih pucat, Ratna berbaring di ranjang periksa di dalam ruangan dokter itu. Dokter melakukan prosedur pap smear karena dokter menduga jika Ratna mengalami gejala kanker serviks.
"Bagaimana keadaan saya, Dok? Saya sakit apa?" tanya Ratna Dewi nada rendah.
"Begini Nyonya, kami sedang melakukan serangkaian pemeriksaan pap smear karena kami menemukan gejala kanker serviks pada rahim Anda. Untuk hasil lab nya satu Minggu lagi bisa dilihat, semoga saja dugaan saya salah, dan hasilnya negatif. Saya akan memberikan resep obat untuk menghilangkan nyeri dan menghentikan pendarahan itu," ungkap sang dokter yang seketika membuat dunia Ratna menjadi gelap.
"Apa Dokter? Kanker serviks? Tidak mungkin!" ucap Ratna yang mulai diiringi dengan air mata yang mulai menetes dari sudut matanya.
Bi Munah yang setia mendampingi majikannya, terlihat berusaha untuk menghibur Ratna.
"Bu Ratna yang sabar, kita kan masih belum tahu hasilnya, semoga saja hasilnya negatif, Bibi berdoa mudah-mudahan Bu Ratna selalu diberikan kesehatan," seru Bi Munah.
__ADS_1
"Entahlah, Bi! Aku pasrah, jika benar adanya seperti itu, ya sudahlah! Mungkin ini juga adalah karma untukku," ucap Ratna dengan suaranya yang terdengar lemah.
...BERSAMBUNG ...