Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Salah tunjuk


__ADS_3

Ada senyum terukir dari bibir Amir. Sedangkan kedua gadis itu tampak saling menatap. Qia hanya berharap Amir tidak menunjuk dirinya. Karena dirinya benar-benar tidak bisa jika menikah dengan Amir.


"Ya Allah, semoga Amir salah tunjuk! Dia nikah saja sama Fira. Hamba ikhlas, semoga Abi bisa memahaminya."


Qia harap-harap cemas, sungguh dirinya benar-benar berharap agar Amir tidak menunjuk dirinya.


Sementara itu, Fira terlihat gugup. Entah kenapa ia merasa deg-degan ketika Amir mulai menatap dirinya dan sang kakak.


"MasyaAllah, kenapa aku jadi gugup gini sih! Yang dijodohkan itu Kakak, kenapa aku yang deg-degan ...!" batin Fira sambil merremas kedua tangannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Amir mulai berjalan menuju ke tempat kedua gadis itu berdiri. Mereka sama-sama tinggi, bahkan bentuk tubuh mereka pun sama, tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu tinggi. Sehingga cukup susah untuk membedakan mana yang Fira dan mana yang Qia. Seperti saudara kembar. Kecuali Fajar atau Laila yang mengetahui mana diantara kakak beradik itu. Hanya yang membedakan warna kerudung mereka. Fira memakai kerudung pink sedangkan Qia kerudung hitam.


Hanya beberapa langkah saja, Amir sudah berada di depan kedua gadis itu. Amir memperhatikan sorot mata kedua gadis itu dan mencoba mengenali siapa masing-masing putri Fajar itu.


Debaran jantung Fira semakin cepat saat bola mata Amir menatapnya tajam. Seakan-akan pria itu begitu terpaku pada sosok gadis berkerudung pink.


Fajar mendekati Amir dan berkata kepada pemuda itu. "Bagaimana? Sudah bisa menemukan di mana Qia?" tanya Fajar sembari menepuk pundak Amir.

__ADS_1


"Sudah!" jawabnya sembari terus menatap bola mata Fira, bukan Qia.


"Baik, sekarang tunjukkan kepada Om, siapa Qia dan mana yang Fira," sahut Fajar.


"Tapi sebelumya, apa saya boleh meminta sesuatu Om!" sahut Amir.


"Katakan!"


Amir pun menghadap ke arah Fajar dan meminta kepada calon mertuanya untuk memberikan dirinya pilihan.


Sejenak, Fajar mengerutkan keningnya dan menatap calon besan nya, Pak Joko. Ia pun meminta persetujuan dari pak Joko atas permintaan anaknya.


"Bagaimana pak Joko? Apa Anda setuju?" seru Fajar. Pak Joko pun menganggukkan kepalanya.


"Jika Amir suka dan cocok, saya sih setuju-setuju saja, Pak." balas pak Joko.


Fajar pun kembali menatap wajah Amir dan berkata, "Baiklah, jujur sebenarnya aku ingin menikahkanmu dengan Qia. Tapi, jika kamu meminta begitu. Aku pun tidak bisa menolaknya karena itu adalah pilihan hatimu sendiri. Jika bisa semoga kamu memilih Qia, karena dia adalah kakaknya Fira, tidak mungkin Fira melangkahi Kakaknya sendiri."

__ADS_1


"Iya, Om. Saya mengerti," balas Amir sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.


"Baiklah, silakan kamu pilih diantara mereka, karena aku percaya kamu pasti bisa menjadi imam yang baik untuk anakku kelak!" titah Fajar dengan senang hati.


Amir pun mulai menghadap lagi ke arah kedua gadis itu. Dengan mengucapkan bismillah, Amir memantapkan hati untuk menunjuk ke arah putri Fajar yang memakai kerudung pink.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya memilih dia!" tunjuk Amir langsung ke arah Fira.


"Haaa ... kok aku sih?" batin Fira sambil membulatkan matanya.


"Alhamdulillah, akhirnya doaku terkabul. Amir salah tunjuk, terima kasih ya Allah!" batin Qia yang teramat senang.


Amir tersenyum saat melihat sorot mata Fira yang tentu saja sangat terkejut.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_1


__ADS_2