Fated To Love You

Fated To Love You
14


__ADS_3

Anin ditemani Reza ke Bandara untuk segera terbang ke Bali. Angga menelpon Anin, menayakan apa Anin sudah akan berangkat? Anin membenarkan dan berkata kalau sekarang dia sudah ada di Bandara. Anin bahkan sudah merencanakan kalau nanti mereka akan seharian bermalasan di kamar. Reza yang mendengar hal tersebut ikut merasa senang.


Setelah telepon usai, Reza meminta Anin untuk mendengarkan semua yang Angga katakan di Bali nanti. Hampir saja Reza keceplosan dan memberitahu Anin kalau Angga sedang menyiapkan lamaran untuk Anin. Tapi untung saja, Reza masih bisa mengontrol mulutnya sehingga kalimat itu tak sempat didengar oleh Anin.


Tiba-tiba saja ada panggilan masuk lagi di ponsel Anin dan kali ini bukan dari Angga. Anin langsung menerimanya. Telepon kali ini ternyata dari Wiliam, salah satu rekannya di Paris.



Wiliam ternyata memberitahu Anin kalau tim di Paris berubah fikiran. Mereka akan menggunakan Anin sebagai pianis utama. Jadi, dia mau Anin segera kembali ke Paris untuk latihan sebelum pentas dimulai.


Setelah perbincangan itu berakhir, Anin galau sekali. Dia teringat betapa senangnya Angga saat dia memutuskan kembali dan menetap selamanya di Indonesia. Tapi impiannya menjadi pianis utama di Paris tiba-tiba menghampirinya. Impiannya.


Lalu apa yang harus dia pilih saat ini? Cintanyakah atau Impiannya?


Anin teringat apa yang sudah Angga ucapkan malam itu. Mereka saling mengingat kenangan ketika mereka pertama kali bertemu sambil berpelukan di sofa.



Anin berkata kalau ternyata mereka sudah terlalu lama pacaran. Angga membenarkan hal itu dan bertanya kenapa Anin baru sadar?


“Lihat nih semua keriput di wajahku karena terlalu lama menunggumu? Aku bahkan ga bisa tertawa.” ucap Angga bergurau bahwa memang benar adanya ia sudah terlalu lama menunggu Anin.

__ADS_1


Anin tertawa mendengar candaan Angga. Malam itu mereka bahagia sekali.


Kini Anin masih termangu di tempatnya berdiri. Keputusan yang sulit, tapi dia tetap harus memilih salah satu.


Apakah dia akan melepaskan kesempatan emas ini menjadi pianis utama untuk sebuah pentas yang besar di Paris sana? Apakah dia bisa melepaskan impiannya itu? Jika Angga bisa menunggunya selama 7 tahun, apa salahnya jika Angga menunggunya lagi kali ini. Hanya kali ini. Lagipula Angga pasti mendukung impiannya ini.



"apa yang terjadi, nin?" Reza melihat ekspresi Anin yang berubah setelah menerima panggilan itu.


"aku tidak bisa pergi ke Bali, aku harus kembali ke Paris,," ucap Anin serak


"apa? lalu bagaimana dengan Angga? Dia sudah menunggumu"


Ia sudah memutuskan untuk mengejar impiannya. Ia tahu Angga pasti mendukung keputusannya ini.


Reza terlihat bingung apa yang harus ia lakukan. Kemudian ia pergi saja naik pesawat ke Bali untuk memberitahukan Angga segera.


Sesampainya ia di Resort, Reza tak sengaja bertabrakan dengan Icha. Ia tampak terhuyung disebabkan oleh minuman yang ia minum tadi. Kepalanya menjadi sangat pusing. Ia berpikir ini mungkin karena cuaca Bali yang tak cocok dengannya membuat kondisinya menjadi tidak baik.


Icha jatuh ke pelukan Reza "apa kau baik-baik saja?" tanya Reza.

__ADS_1


"maaf, aku tidak sengaja,, kepalaku sedikit pusing" ucap Icha sambil memegangi kepalanya.


"apa kau perlu bantuan? aku akan membantumu?" Reza menawarkan.


"tidak apa-apa aku bisa sendiri" Icha tidak ingin merepotkan orang lain.


Ia kemudian berjalan terseok-seok menuju kamarnya. Reza hanya menatapi kepergiannya. Tapi selepas kepergian Icha jantung Reza terasa berdebar-debar. Apa dia jatuh cinta pada pandangan pertama, pikirnya


Ia segera teringat alasannya ke resort ini untuk memberitahukan Angga. Bukan untuk mencari jodoh. Ia segera bergegas menemui Angga.


Reza memberitahukan Angga segalanya, ia tak bisa membawa Anin bersamanya. Angga kecewa mendengar berita itu, lalu tiba-tiba ada pesan suara baru masuk di ponselnya. Dari Anin. Angga pun meminta Reza meninggalkannya sendirian dan mendengarkan pesan tersebut.



“Ga…pertama-tama aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. ”


Di sela-sela Angga mendengar pesan suara Anin. Anin sudah ada di dalam pesawat menuju Paris.



“Tujuan perjalanan ke Bali ini, aku mengetahuinya. Ketika saat itu tiba, jantungku berdegup kencang bahkan saat aku hanya memikirkannya saja. Tapi aku memilih kembali ke Paris. Hatiku sungguh sakit, membayangkan betapa kecewanya dirimu, Ga. Tapi Ga, aku berusaha untuk tidak tergoda. Namun setelah aku gagal mendapatkan kesempatan di audisi kemarin, aku kembali ke Indonesia dengan hati yang teramat sakit. Inilah perasaanku yang sejujurnya Ga, aku harap kamu memaklumi kondisiku saat ini”.

__ADS_1


Lalu kembali terdengar kata-kata Anin “Tolong biarkan aku memainkan piano didepan orang banyak sekali lagi saja. Aku tidak mau menikah dengan perasaan gagal dan kalah. Setelah ini, aku janji.. Aku akan kembali padamu, Ga. Maafkan aku. Aku mencintamu.”


__ADS_2