Fated To Love You

Fated To Love You
50


__ADS_3

Saat ini Angga bersama Icha sedang bersama di toko perlengkapan bayi. Angga mengatakan akan membeli semuanya dan Icha terheran heran, "Apa kita harus memborong barang di toko ini untuk kita sendiri?”


Lalu Angga menanggapi, "Kamu ada saat kakakmu melahirkan, bukan? Itu adalah pengalaman berat."


"Aku ingin siap sepenuhnya.” ujar Angga dan Icha memandanginya saat Ia berkata demikian.


"Tapi itu sangat mengharukan,” kata Angga sembari wajahnya menengadah ke atas membayangkan saat mereka membantu proses kelahiran bayi Alia.


Lalu di toko itu, Angga melihat mainan kuda kudaan yang dipajang di atas meja. Ia sangat senang dan akan membelinya juga. Pelayan memberitahu ada yang sudah dirakit tapi Angga ingin yang belum dirakit agar ia bisa merakitnya sendiri.


Icha kembali keheranan, “apa? kamu ingin merakitnya sendiri?”


Lalu Angga jawab, "aku ingin bayiku mengingat bagaimana ayahnya begadang demi merakitnya. Semoga dia akan mengingatku selagi menaikinya.”


Icha pun tersenyum bahagia.


Icha tambah senang lagi saat melihat ada baju pasangan ayah, ibu dan anak yang dipajang di manekin,


“Bukankah ini serasi dan bagus? kurasa berjalan jalan dengan pakaian keluarga sangat menyenangkan.” katanya malu-malu.


“Bukan ini yang Anin suka.” Jawaban Angga membuat suasana jadi canggung. Icha teringat kembali dengan kontrak perjanjian mereka. Benar, dalam waktu 10 bulan Ia akan menyerahkan bayinya.


Tiba-tiba Angga menyahut saat Icha sedang memikirkan itu, "aku hampir lupa"


“Alat bantu.” ujar Angga


“Alat bantu. Untuk apa?” tanya Icha


“Tentu saja untuk berkomunikasi dengan bayiku.”


“Apa? Kamu sungguh akan berbicara dengan pangeran kecil?”


“Pangeran kecil?” gantian Angga bertanya heran.

__ADS_1


“Bukan, maksudku karena dia anak seorang pangeran. Makanya…”


Belum selesai Icha melanjutkan, Angga langsung melanjutkan “Begitu rupanya. Jadi julukanmu pangeran kecil." Angga mendekatkan kepalanya ke perut Icha.


“Pangeran kecil, itu panggilan yang bagus. Anakku benar adalah seorang pangeran” ujar Angga


Lalu Angga mendengar sesuatu bersuara dari perut Icha “pangeran kecil berbicara.” katanya antusias.


Tapi Icha malah jadi malu "Itu suara perutku yang berbunyi.”


Bukan bayi mereka yang berbicara tapi perut Icha yang berbunyi karena kelaparan.


Mereka di Restoran sekarang. Banyak menu makanan terhidang di meja tapi sepertinya Icha tidak berselera makan dan kembali muntah muntah.


Dia meraba perutnya “jika aku makan sup seafood pedas buatan Ibu mungkin sudah kuhabiskan.”


“masakan ibumu? Baiklah kita akan ke kampung halaman mu besok.” ucap Angga


“Maaf sudah merepotkan.” Icha merasa tidak enak.


“Aku baik baik saja. Kamu sangat baik padaku. Aku merasa diberkati.” Angga tersenyum pada Icha, tapi cuma sesaat.


“Jangan salah paham. Aku melakukan segalanya untuk anak itu. Jangan jatuh cinta kepadaku.” lanjut Angga kembali berkata demikian.


“Ya, tidak apa apa.” jawab Icha


Mendengar Icha berkata tidak apa-apa seperti itu malah membuat Angga merasa bersalah. Icha selalu saja berkata demikian di saat Ia merasa tertekan.


Lalu Icha melihat ada sebuah buku saran pengunjung. Ia mengambilnya dan hendak mengisinya, "Mereka ingin mendengarkan tanggapanku.”


“Itu tidak perlu" pinta Angga supaya Icha tidak usah memperdulikannya.


“Tapi mengisi formulir tanggapan bisa menyemangati para staff” ucap Icha dengan polos dan Angga malah merebut buku itu

__ADS_1


“Kalau begitu biar aku yang menuliskannya. Kamu harus makan lebih banyak.” Angga kemudian mulai menulis tapi sepertinya bolpoinnya macet.


“mungkin sudah waktunya membeli yang baru.” Icha menyarankan.


“Kamu mau membeli yang baru? Lusa adalah hari ulang tahunku. Kamu bisa beli yang sama untukku.” ujar Angga


“Lusa?” Icha terperanjat dan menaikkan suaranya.


Angga lalu tertawa.” Hanya bercanda, ini barang mewah. Mungkin kamu tidak bisa membelinya "


Pada formulir tanggapan itu, Icha sudah menulis tanggal ulang tahunnya. "Kenapa kamu menulis ulang tahunku?” tanya Angga.


“Ulang tahunku juga lusa.” jawab Icha


“Benarkah?”


“Ulang tahun kita di tanggal yang sama bukan?” ujar Icha kembali


“Aku juga kaget.” jawab Angga


“Benar. Bagaimana kamu biasanya merayakan ulang tahunmu?” tanya Icha


“Setiap tahun aku datang ke Restoran yang sama. Anin selalu menyiapkan kejutan untukku.” Angga membayangkan Anin sedang memainkan piano untuknya.


Lalu Icha menanggapi ”pasti menyenangkan. Aku tidak pernah merayakan ulang tahun ku sejak lahir. Aku merasa agak iri.”


“Tidak sekalipun? Kamu pasti bercanda.” Angga terheran-heran tidak percaya Icha berkata demikian.


“Itu benar. Keluargaku selalu sibuk. Teman temanku tak pernah ingat ulang tahunku.” jawab Icha


“ Aku ingat. Aku tidak akan pernah melupakannya.” ujar Angga penuh keyakinan. Lalu Icha terharu mendengarnya dan berterima kasih pada Angga.


Saat kembali ke rumah, mereka menceritakannya pada neneknya bahwa ulang tahun mereka berada pada hari yang sama dan mereka akan merayakannya bersama.

__ADS_1


“Baguslah. Kau mulai bersikap sebagai seorang suami meskipun hanya sedikit.” ujar Ny Sekar pada Angga


“Nenek terlalu banyak mengeluh.” ujar Angga sedikit kesal. Kemudian Ny Sekar kembali tertawa. Ia bahagia melihat mereka berdua bahagia.


__ADS_2