
Sudah dua hari berlalu sejak pembicaraan Mike dan Papa Jo. Namun bukannya kembali ceria, Mike justru semakin menjadi sosok yang pendiam.
Begitu pula dengan Papa Jo. Walau sesekali masih mencoba menghibur putranya, tapi Papa Jo tetap tak bisa memungkiri jika saat ini dirinya juga sedang merasa patah hati kembali.
Mike memutar-mutar ponsel yang ada di genggaman tangannya. Sejak kedatangannya ke rumah Floryn beberapa hari yang lalu, Mike sama sekali tak pernah menghubungi Floryn, begitu pun sebaliknya. Kekasihnya itu sama sekali tak pernah menghubunginya, ataupun hanya sekedar mengirim pesan singkat.
Mike sangat merindukan Floryn. Entah bagaimana kabar kekasihnya itu saat ini, Mike sama sekali tak tahu.
Mike merasa bimbang, rasanya ingin sekali menghubungi Floryn, akan tetapi dirinya belum benar-benar siap membicarakan tentang status orang tua mereka saat ini. Namun jika tak menghubungi gadis itu, Mike akan terus tersiksa oleh rindu yang semakin berkepanjangan.
Mike menyiapkan hati. Apapun yang akan mereka bahas nanti, Mike mau tak mau harus siap. Dengan tangan yang mulai basah oleh keringat dingin, Mike menekan kontak telepon bernama My Queen.
Sedetik, dua detik..... Terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang sana. Mike merasa kecewa, karena suara itu bukanlah suara kekasihnya, melaikan suara dari operator seluler yang mengatakan jika saat ini nomor yang Mike tuju sedang tidak aktif.
Mike menarik napas lalu membuangnya dengan kasar. Dia kecewa karena nomor Floryn tidak bisa di hubungi, padahal Mike sudah bersusah payah menyiapkan diri untuk berbicara dengan kekasihnya itu.
Mike melempar ponselnya ke atas nakas. Dia kembali merebahkan diri di atas ranjang yang sudah tiga hari ini tak pernah dia tinggalkan. Memang kondisi Mike sudah membaik, bahkan tangan pria tampan itu tak lagi terpasang infus. Namun untuk melakukan aktivitas, Mike masih belum memiliki daya, bahkan untuk sekedar mandi pun tidak ia lakukan.
Terhitung sudah genap empat hari Mike tak membersihkan diri. Entah sudah sebau apa tubuhnya saat ini, Mike tak peduli.
Kreett...
Suara pintu kamar terbuka, tak lama kemudian Mike bisa melihat Papa Jo berjalan masuk dengan membawa nampan yang sudah bisa Mike pastikan itu adalah sarapan pagi untuknya.
"Mike, Papa hari ini gak bisa temenin kamu di rumah. Papa ada urusan penting. Kamu gak pa-pa kan?"
__ADS_1
Mike menatap Papa Jo yang sudah terlihat rapi. Namun anehnya Papa Jo tak memakai pakaian formal yang biasa di gunakan untuk bekerja. Pria paruh baya itu hanya memakai kemeja lengan pendek dan tak ada setelan jas yang biasa membungkus tubuh tingginya.
"Papa mau kemana?" Akhirnya satu pertanyaan keluar dari mulut Mike. Dia yang beberapa hari belakangan ini nampak cuek justru kembali berbicara saat rasa penasaran menguasai seluruh isi kepalanya.
"Ada urusan penting di luar."
"Pekerjaan?" tanya Mike memastikan.
"Bukan," jawab Papa Jo apa adanya. Dia memang ada urusan dengan seseorang. Tapi kali ini bukan masalah pekerjaan.
"Lalu?"
Papa Jo hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan Mike. "Jangan lupa di makan sarapannya setelah itu baru minum obat. Di bawah udah ada Mom Lisa dan Mama Rani. Mereka sedang sibuk membuat berbagai macam makanan kesukaan kamu. Jadi pastikan makan siang nanti kamu turun ke bawah. Jangan buat kedua ibumu itu kerepotan."
Pada akhirnya Mike hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Mike sendiri tak yakin jika saat siang nanti akan turun ke bawah untuk makan bersama, karena sejak kemarin pun kedua ibunya itu ada di sini dan membuat banyak makanan kesukaannya. Tapi dirinya yang masih dalam mode galau memilih tetap mengurung diri di dalam kamarnya.
Sudah lima menit setelah meminum obatnya, Mike mulai merasakan kantuk. Bahkan sudah beberapa kali dirinya menguap. Entah karena efek obat atau memang semalam kurang tidur, Mike tak tau.
Tapi yang pasti, untuk saat ini hanya ada satu hal yang ingin Mike lakukan. Mike ingin memejamkan mata dan tidur untuk mengistirahatkan sejenak hati dan pikirannya yang masih kacau.
Mimpi indah Mike mulai terusik saat tubuhnya merasa terguncang. Entah siapa orang menyebalkan yang tega menganggu mimpi indahnya, Mike tak ingin tau. Dia hanya ingin kembali melanjutkan tidur agar bisa terus bersama-sama dengan Floryn walaupun hanya dalam mimpi.
"Ngab bangun." Mike hanya meleguh malas. Tanpa membuka mata, Mike menepis kasar sebuah tangan yang berani mengoyang-goyangkan bahunya.
"Papa bangun." Tubuh Mike tersentak kaget saat merasa ada tangan dengan ukuran begitu kecil mengelus pipinya.
__ADS_1
"Akhirnya Papa Mike bangun juga," ucap Ello masih dengan menirukan suara anak kecil. "Nitip Deo sebentar. Gue mau anter Ayura dulu ke supermarket. Di suruh belanja buat masak makan malem."
Tanpa menunggu jawaban Mike yang masih terlihat linglung, Ello meletakan sang putra tepat di sebelah tubuh Mike. "Anak ganteng Papi disini dulu ya, Papi mau pergi anter Mami Ayura dulu sebentar."
Mike menatap tubuh Ello yang tiba-tiba saja sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
"Tataa.. Taa...Tataa....."
Pandangan Mike beralih pada suara celotehan khas batita yang terdenga begitu dekat. Pria kecil itu tertawa sembari beberapa kali menepuk pipi Mike dengan tangan kecilnya.
"Oh yaampun, anak Papa Mike ada disini." Mike yang sejak tadi masih berada dalam mode rebahan langsung beringsut bangun. Masih dengan muka bantalnya, Mike mengangkat Deo yang berada di sampingnya, lalu mendudukan pria kecil itu di pangkuannya.
"Udah seminggu gak ketemu kamu. Papa kangen." Berkali-kali Mike mencium pipi gembul Deo dengan gemas hingga terdengar tawa riang dari bibir mungil bocah laki-laki itu.
Ternyata Deo memiliki magnet tersendiri. Nyatanya pria kecil itu mampu membuat Mike tertawa tanpa melakukan banyak hal berarti. Bahkan suasana kamar yang beberapa hari ini terasa sunyi kini menjadi ramai karena celotehan tak jelas bayi berusia enam bulan itu.
"Apa kamu mencium bau sesuatu?" tanya Mike pada pria kecil di hadapannya. Dengan mengandalkan indra penciumannya, Mike mulai mengendus-endus sumber bau yang begitu menyengat di hidungnya.
"Oh, astaga. Kamu pup?" Mike nampak terkejut saat sedikit membuka celana Deo. Sedangkan sang tersangka justru masih tertawa tanpa merasa berdosa sedikitpun.
"Baiklah, sekarang kita turun. Biar grandma Rani yang menganti diapersmu." Mike mengangkat tubuh kecil di hadapannya.
Sebenarnya dia masih enggan beranjak dari kamarnya. Namun mau tak mau dia harus turun, dia tak akan tega membiarkan Deo dalam kondisi seperti ini dalam waktu yang lama.
"Ma, Mama...." Mike menuruni tangga dengan sesekali memanggil Mama Rani. Namun saat tiba di lantai terbawah Mike justru di kejutkan dengan kedatangan Papa Jo dengan seorang wanita. Wanita yang selama beberapa hari ini mengusik hati dan pikirannya.
__ADS_1
"Sayang..."