
Kini, di tempat yang berbeda Angga menyalakan musik lembut di ponselnya dan menaruh ponsel itu di atas kap mobilnya. Setelah yakin musik mengalun lembut, Angga mendekati Icha. Lalu Angga bertanya, apa Icha pandai berdansa? Icha menjawab tidak.
Angga kemudian berkata kalau dia pandai berdansa. Jadi Icha cukup ikuti dia saja. Angga pun tertawa, lalu kembali berkata kalau mereka sudah dandan serapi ini, jadi tidak ada salahnya untuk berdansa sebentar sebelum pulang.
“Kenapa tidak kita ciptakan kenangan indah bersama di sini?” Ajak Angga.
Angga tersenyum menatap Icha dan Icha pun membalas senyum itu. Dia juga menerima uluran tangan Angga yang bersiap mengajaknya berdansa. Angga menyuruh Icha untuk meletakkan kaki Icha di atas kakinya. Meskipun Icha tidak bisa berdansa, Angga bisa membuatnya bisa berdansa.
Angga menaruh kedua tangan Icha di pundaknya dan tangannya melingkar manis di pinggang kecil Icha. Tubuh mereka merapat dan sangat dekat. Bahkan keduanya bisa mencium wangi parfum yang mereka pakai. Icha mengikuti gerak Angga.
Tiba-tiba Angga memanggil lembut nama Icha dan berhitung dengan jarinya. Pada hitungan ketiga, suara kembang api nan berwarna-warni cantik menghiasi langit malam ini. Icha melihat keindahan itu dengan matanya yang cantik. Dia sungguh terpesona. Angga kemudian bertanya apa Icha suka? Icha tersenyum dan mengangguk senang. Dia sangat menyukai hal ini. Semua sangat indah.
Tak jauh dari tempat itu, ternyata Angga yang menyuruh asistennya melakukan itu. Kini asistennya sedang bersembunyi dan mengintip melihat bosnya dengan Icha. Asisten Angga tersenyum dan ikut bahagia melihat kedekatan Angga dan Icha.
__ADS_1
Kembali lagi ke pasangan romantis itu. Angga bertanya lembut kalau dia pasti sudah memberi waktu yang sulit untuk Icha. Namun Icha menggeleng dan menjawab kalau dia tahu waktu yang dilalui Angga lebih sulit darinya.
“Kamu tahu, aku tidak menghindarimu karena aku benci. Bukan karena itu. Aku hanya merasa menyesal. Tapi sekarang, aku siap kembali padamu. Itulah alasan kenapa aku menghindarimu. Terima kasih karena mau menungguku dan terima kasih karena kamu bersamaku sekarang” ujar Angga
Icha mendengarnya dan mulai menangis. Ia terharu mendengar ucapan Angga. Lalu Angga mengusap air mata di pipi Icha dengan jarinya. Angga mengusapnya dengan lembut. Perlakuan semanis itu semakin membuat air mata Icha tak berhenti bergulir. Angga menatap air mata yang terjatuh di pipi istrinya dan membuat dirinya mendekatkan bibirnya ke pipi Icha. Kali ini dia menghapus air mata itu dengan ciuman hangatnya.
Di bawah indahnya warna kembang api yang memancar di langit malam ini, Angga memeluk tubuh kecil Icha. Apa yang dilakukan Angga saat ini membuat Icha semakin takut akan perasaannya yang mulai ingin memiliki Angga seuntuhnya.
Acara romantis mereka sudah berakhir, mereka kini sudah kembali ke rumah dan Icha tampak sudah tertidur. Angga naik ke ranjang dan melihat benarkah Icha sudah terpejam? Angga pun mulai merebahkan dirinya dan Icha membuka matanya. Ternyata Icha masih terjaga malam ini. Ia belum bisa benar-benar tertidur atas apa yang sudah Angga lakukan padanya malam ini. Hal itu benar-benar indah dan untuk pertama kalinya ia mendapat perlakuan seperti itu. Tidak hanya sebagai penyelamatnya, Angga jugalah pangeran impiannya yang datang di dunia nyata. Ia pastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sebab sentuhan hangat yang diberikan Angga di pipinya benar-benar terasa nyata.
Angga sepertinya tahu kalau Icha belum benar-benar tertidur sehingga dia bertanya dan memastikan, apa Icha sudah tidur? Namun Icha diam saja. Kemudian Angga berkata sedikit berbelit-belit mencari alasan yang masuk akal kenapa dia tadi mencium pipi Icha. Sebenarnya tadi dia hanya ingin menghapus air mata Icha, tapi tidak tahu kenapa dia malah jadi bingung dan mencium pipi Icha.
Icha tersenyum geli mendengar kikuknya suara Angga yang mencoba menjelaskan kecupan mesra tadi di pipinya. Angga hanya terdengar mencari-cari alasan. Tak ingin Angga semakin kikuk, akhirnya Icha berbisik dan berkata kalau dia tahu. Jadi Angga tidak usah menjelaskannya lagi. Angga senang mendengar Icha dan Icha ikut tersenyum. Lalu Icha mengucapkan selamat malam dan Angga membalas dengan kalimat yang sama.
__ADS_1
Kini Angga tampak tak tenang, tangannya ingin sekali menyentuh Icha. Ia ingin memeluk istrinya ini. Bayangkan saja, mereka seranjang tapi dia sama sekali tak bisa mendekap tubuh kecil istrinya. Angga hanya bisa berusaha sekuat tenaga menahan tangannya yang terus bergerak mendekati tubuh Icha.
Tapi sepertinya otak dan tangan Angga tidak sinkron, sehingga tangannya selalu saja mengarah ke tubuh Icha dan akal sehat Angga berusaha sekuat tenaga untuk menghentikannya. Angga tampak sangat tersiksa dengan situasi ini. Tapi bagaimana pun juga ia harus menahan dan menyingkirkan keinginannya untuk menyentuh Icha. Ia masih belum yakin dengan perasaannya. Apa benar ia sudah memilih Icha daripada Anin?
Akhirnya Angga sudah pulas terlelap, dengan tangannya yang bergerak-gerak sendiri. Icha melihat itu sambil tersenyum. Dia merasa tingkah Angga saat tidur pun sangat lucu. Lalu Icha membenarkan selimut Angga dan ikut merebahkan dirinya sambil menatap wajah Angga yang sedang tertidur nyenyak malam ini. Dia lalu bergumam dan berkata “Apakah boleh jika aku menginginkanmu?”
Keesokan paginya, seperti biasa Icha mengantar Angga berangkat kerja sampai depan rumah. Mobil jemputan Angga sudah menunggu di depan. Angga yang sudah bersiap masuk ke mobil tiba-tiba mendekati Icha dan menunjuk pipinya. Icha bingung dan tidak ngerti dengan isyarat dari Angga. Icha malah mengira ada sesuatu di pipinya. Angga tertawa dan berkata kalau Icha ternyata lamban sekali dalam mencerna isyarat darinya. Padahal ia hanya menginginkan Icha berlagak seperti pasangan harmonis suami-istri lainnya yang di pagi hari saat suami berangkat kerja, maka istri akan memberikan kiss morning.
Tapi, sebenarnya lambannya Icha malah jadi pesona yang Icha miliki. Icha hanya tersipu malu mendapat pujian seperti itu. Angga tidak jadi meminta Icha mencium pipinya dan dia pun memilih bergerak ke mobil dan segera berangkat. Tapi tiba-tiba Icha menarik tangannya dan membuat langkah Angga terhenti. Seketika itu juga Icha mengabulkan keinginan Angga dengan mencium pipi Angga. Setelah selesai mencium pipi Angga, Icha menjadi malu dan menutup wajahnya dengan tangan.
Angga tertawa senang dan tubuhnya berasa lemah. Dia bahkan sampai harus berpegangan pada pintu depan rumahnya. Dia tertawa sambil memegang pipinya yang habis dicium. Icha semakin tersipu dan kemudian dia bertanya apa nanti saat jam makan siang dia boleh datang ke kantor untuk makan siang bersama Angga?
Angga yang masih sempoyongan akibat ciuman dari Icha, bertanya benarkah itu? Icha mengangguk membenarkan. Angga tak sabar menantikan siang tiba sekalian ia bisa memanasi Reza dengan kemesraan Icha bersama dengannya.
__ADS_1