Fated To Love You

Fated To Love You
41


__ADS_3

Malam hari tiba, kini saatnya Reza mengantar Icha pulang kerumah. Saat ia tiba dirumah Angga. Ternyata Angga juga baru pulang. Tampak Angga menembakkan lampu mobilnya kearah mereka berdua.



Sebelumnya Angga bertanya, Siapa yang bersama dengan Icha malam hari begini? Namun saat ia keluar dari mobilnya, Ia pun terkejut ternyata yang bersama dengan Icha adalah Reza. Jadi inilah alasan Reza meminta izin keluar dari kantor.


Lalu Angga mendekat dan bertanya pada Icha "dari mana malam-malam begini?"


"mas Reza tadi mengantarku registrasi kelas ibu hamil" jawab Icha.


Angga tak suka jika Icha dekat dengan Reza, "sejak kapan kalian menjadi dekat?" ujarnya menyelidik.


"Aku sudah mendekatinya sebelum kau menikahinya bahkan dia sudah menjadi adikku sekarang" jawab Reza memberitahu betapa ia dekat dengan Icha. Bahkan ia memanasi Angga dengan berkata kalau Icha adalah adiknya.


Dalam hati Angga bergumam mana ada adik-kakak kalau tidak sedarah, Berpasangan pula?


Lalu Angga menyuruh Icha masuk terlebih dahulu. Ia beralasan tidak baik seorang perempuan yang sedang hamil keluyuran malam-malam, apalagi dengan orang lain yang bukan suaminya.


Ia mengatakan itu sepertinya Ia cemburu jika Icha bersama Reza.


Sebelum Icha masuk, Reza mencegat Icha sebentar dan berkata jangan segan untuk menghubunginya, jika Icha membutuhkan bantuannya lagi. Ia sengaja memancing Angga dengan berkata demikian.



Lalu Angga membalikkan badannya dan menyuruh Reza segera pergi dari rumahnya. Tapi Reza kembali berkata pada Angga setelah memastikan Icha masuk.



"aku akan mengawasinya. Jika kau tak bisa menjaganya, maka aku siap menggantikanmu. Bahkan jika kau tak bisa membahagiakannya, aku juga siap menggantikanmu. Seperti tadi, aku menggantikanmu untuk menemaninya pergi ke kelas ibu hamil" ucapan Reza terdengar seperti memperingati Angga.

__ADS_1


"cukup hari ini kau menggantikanku, aku pastikan itu tidak akan terjadi lagi. Aku adalah suaminya" Angga menekankan kalimat suami pada Reza.


Reza tersenyum simpul. Umpannya untuk membuat Angga cemburu telah dilahap habis-habis oleh Angga. Lalu ia langsung pergi dari rumah Angga.


Kini Angga sudah masuk kedalam rumah bersama Icha. Angga memperhatikan Icha, ia tampak senang sedang menatap kartu anggotanya.


"apa itu penting bagimu? bukankah aku sudah mengatakan, kau tak perlu ikut kelas itu" Angga terganggu dengan ekspresi senang Icha. Ia tak bisa menerimanya karena Icha mendapatkan kebahagiaan itu dari pria lain.


Icha mengangguk, tentu ini sangat penting baginya. Ia akan menjadi seorang ibu. Oleh karena itu, ia harus menjadi ibu yang baik dengan mengikuti kelas ibu hamil ini, dia bisa belajar bagaimana menjadi ibu yang baik.


Lalu Angga kembali bertanya, apa dia boleh memberi Icha nasihat?


“Saat kau hidup bersamaku, kau harus berkelas. Jangan pergi bersama pria lain. Itu bisa memunculkan gosip, kau harus menjaga imagemu sebagai istri seorang CEO perusahaan terkenal di negeri ini. Kau harus punya harga diri sebagai menantu keluarga Budiman. Ini benar-benar tak bisa dipercaya. Bagaimana bisa kau keluyuran dengan pria lain yang bukan suamimu?” ucap Angga.


Angga tampak sekali sedang kesal, sementara Icha hanya bisa mengangguk sebagai tanda bahwa dia paham dengan apa yang Angga katakan barusan.


Tapi bukan salahnya ia pergi bersama Reza. Tadi ia sudah meminta Angga untuk pergi bersamanya, tapi Angga berkata ia sibuk dan tak mau pergi. Sekarang kenapa dia jadi kesal melihat Icha pergi bersama orang lain? Lagipula Icha pergi bersama teman yang ia kenal bukan orang lain.


“Dia punya suami. Ngapain harus menelpon orang lain. Dasar laki-laki tak tahu malu, kau pikir karena kau sahabatku kau boleh mendekatinya, tentu saja tidak” gerutu Angga dengan kesal.


Lalu saat Angga tengah duduk di sofa. Tiba-tiba Icha datang menghampirinya dan berkata bahwa ada yang perlu ia katakan. Tapi Angga malah beranggapan Icha ingin meminta maaf padanya, karena sudah pergi bersama pria lain. Kemudian ia berkata pada Icha, kalau dia lagi malas untuk memaafkan siapapun hari ini.



Lalu Icha dengan polosnya berkata kalau dia menemui Angga bukan untuk minta maaf. Ia hanya ingin meminta surat gugatan cerai yang masih tergeletak manis di meja itu. Icha berkata kalau dia datang mendekat karena alasan itu.


“Aku sudah memikirkannya sepanjang hari. Aku tidak bisa menyerahkan anak ini. Aku yakin bisa membesarkan anak ini. Mencintai anak ini melebihi diriku sendiri. Akan kubuktikan padamu. Jadi bisakah kau menunggu?” Icha kembali berkata kalau nantinya Angga akan tahu siapa sebenarnya yang paling dibutuhkan anak ini. Jadi tidak perlu secepatnya untuk menandatangani surat itu.


Intinya, Icha mau menandatangani surat itu setelah 10 bulan, setelah ia melahirkan bayinya.

__ADS_1


Angga sempat terdiam, tapi kemudian dia menjawab kalau sebenarnya tidak ada bedanya apakah surat itu ditandatangani sekarang atau 10 bulan lagi. Kenyataan kalau mereka akan bercerai itu tidak bisa dihindari dan tidak akan berubah.


Lalu Angga menyerahkan kembali surat itu pada Icha. Setelah mengambilnya, Icha kembali ke kamar dan akan bersiap untuk mandi.


Saat Icha di kamar mandi, telepon Angga berdering. Ia menerima panggilan masuk atas nama Anin. Angga langsung galau, tapi akhirnya dia menerima panggilan itu.



Anin senang sekali mendapati Angga menjawab panggilannya. Lalu ia bertanya, apakah Angga sangat sibuk? Kenapa Angga tak pernah menghubunginya lagi? Padahal ia sudah lama tidak mendengar suara Angga dan tentu saja, ia merindukan Angga sebagai kekasihnya.


Angga tak menjawab pertanyaan Anin. Ia malah balik bertanya, kapan Anin kembali ke Korea? Lalu Anin menjawab mungkin bulan depan.


"apakah kau merindukanku? sehingga tak sabar bertemu dengaku?" tanya Anin sambil tersenyum.


Angga menjawab bukan begitu. Hanya saja ada yang perlu ia katakan pada Anin.


Namun setelah selesai mengucapkan kalimat itu, Angga mendengar suara teriakan Icha dari kamar mandi. Angga terkejut dan berkata pada Anin kalau nanti dia akan menelpon kembali. Ia langsung menutup panggilan itu tanpa memerikan kecupan pada Anin seperti yang biasa ia lakukan.



Di dalam kamar mandi, Icha tengah kesusahan dengan air shower yang terus muncrat dan tak bisa dia matikan. Dia berusaha namun terus menerus gagal. Semburan air shower yang kencang itu tak bisa ditanganinya.


Kemudian Angga masuk dan hampir saja terjatuh karena lantai kamar mandi sangat licin disebabkan oleh genangan air yang begitu banyak. Lalu dengan sekuat tenaga Angga menenangkan shower yang seolah sedang mengamuk itu. Sampai akhirnya keran shower berhasil dimatikan walau untuk itu ia harus basah kuyup.


Icha menjadi cemas, lalu bertanya apa Angga baik-baik saja?


Tapi Angga tak menjawabnya dan malah balik bertanya, kenapa semua jadi begini?


Lalu dengan polos Icha menjawab, kalau tadi dia hanya berniat membersihkannya setelah mandi, tapi dia tidak tahu kalau malah jadi seperti ini.

__ADS_1


Angga lalu mengomelinya dan berkata kalau itu tugasnya pembantu. Pembantu yang akan membersihkan kamar mandi dan juga tempat lainnya, jadi Icha tak usah repot-repot melakukan itu.


Lalu sambil gemetaran Icha meminta maaf pada Angga. Ia menjadi takut setelah Angga mengomelinya.


__ADS_2