
Mengetahui Icha gemetaran, Angga bergegas mengambil banyak handuk dan melilitkannya di tubuh icha agar menjadi hangat. Lalu Icha menjawab kalau dia tidak apa-apa. Tapi lagi-lagi Angga berdalih dengan berkata ini demi bayinya. Jadi kalau nanti Icha masuk angin, maka bayinya yang akan menderita. Jadi Icha harus segera mengeringkan dirinya.
Icha sangat tersentuh dengan perlakuan hangat yang diberikan Angga. Perhatian yang diberikan Angga cukup memberikan kehangatan pada tubuhbya yang gemetar.
Sementara itu, Anin masih menatap heran ponselnya. Selama ini belum pernah Angga menutup telepon dan mengakhiri perbincangan lebih dulu. Tapi tadi Angga melakukannya, Ada apa ini?
Seperti yang dikatakan oleh Angga bahwasanya Icha tidak boleh kedinginan, kini saatnya Icha sedang mengeringkan rambutnya yang basah.
Angga sedang melihatnya dan berkata Icha harus mengeringkannya dengan sebenar-benarnya agar ia tidak kedinginan dan tidak masuk angin. Icha pun mengangguk dan tak lupa dia mengucapkan terima kasih untuk bantuan Angga tadi padanya.
Setelah memastikan seluruh tubuhnya kering. Angga menyuruh Icha untuk segera tidur dan ia pun kembali pada sofa untuk bersiap tidur juga.
Namun sebelum kembali ke sofanya. Mata Angga tertarik untuk melihat kartu Anggota kelas ibu hamil Icha. Ia penasaran apa saja yang akan dilakukan Icha disana. Saat memastikan Icha sudah menutup matanya dan tertidur, Angga diam-diam mengambil kartu tersebut dari atas meja rias Icha dan membawanya ke sofanya.
Angga membuka kartu itu saat sudah ada di sofanya. Hal yang paling pertama membuatnya terkejut adalah melihat foto Icha dan Reza sedang bersama di dalam kartu itu. Ia kesal saat melihat Reza merangkul pundak Icha didalam foto itu. Batinnya tidak menerima melihat Icha bersama pria lain di tambah lagi pria itu adalah sahabatnya sendiri.
Lalu ia memeriksa jadwal kelas besok pagi. Ia akan pastikan, besok dia yang datang menemani Icha. Tak boleh lagi Reza yang datang. Angga-lah suami Icha dan ayah dari bayi yang dikandungnya. Oleh karena itu, maka harus dia yang datang tak boleh ada yang lain.
Kemudian Angga juga bertekad dalam hatinya untuk mengganti foto yang ada pada kartu anggota ini. Ia harus menggantinya dengan fotonya. Lagi-lagi ia bergumam ialah suami dan ayah dari anak yang dikandung Icha.
Sebelum mengembalikan kartu itu kembali ke meja rias Icha. Angga sudah terlebih dahulu mencoret-coret wajah Reza yang ada di foto tersebut. Ia melampiaskan kecemburuannya dengan melakukan hal demikian.
__ADS_1
Keesokan harinya icha sudah pergi sendiri mengikuti kelas hamil. Kelas kali ini adalah menjahit pakaian pertama untuk sang bayi. Semua datang dengan pasangan tapi tidak begitu untuk Icha. Meskipun ia datang sendiri, ia tetap tampak antusias dengan kelas kali ini.
Tapi kesenangan itu berubah menjadi kebingungan karena instruktur menyuruh para ayahlah yang menjahit pakaian pertama ini.
“Ayah harus menggunakan hatinya dengan tulus dalam setiap jahitan.”ucap sang Instruktur.
Instruktur pun meminta para ayah untuk bersiap memasukkan benang dalam jarum sekarang juga. Dia berjalan untuk melihat para anggota di kelasnya dan sampailah dia pada meja Icha.
Icha memutuskan untuk ikut menjahit dan instruktur heran karena Icha datang sendiri, lalu diapun mendekati Icha.
Instruktur bertanya, apakah suaminya terlalu sibuk sampai membiarkannya datang sendiri ke kelas hamil?
Namun tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang khas dan bertanya “Aku payah?”
Icha menoleh ke sumber suara tersebut dan terkejut mendapati Angga yang datang. Lalu Angga berjalan mendekat sambil memperdengarkan tawanya yang sangat khas. Angga bahkan mengulang terus menerus kata payah yang tadi ditujukan Icha padanya sambil terus berjalan mendekati meja Icha.
Apa Icha sudah menganggapnya remeh?
Instruktur heran mendengar tawa Angga yang terdengar aneh dan berkata kalau Angga datang terlambat. Lalu Angga menjawab dengan santai, bukankah lebih baik dia datang daripada tidak sama sekali. Instruktur wanita itupun terpaksa mengiyakan.
Setelah Angga duduk di kursi sebelah Icha. Instruktur itu pun memilih pergi meninggalkan meraka dan beralih menghampiri pasangan yang lain.
__ADS_1
Di dalam hatinya, Icha merasa senang dengan kedatangan Angga ke kelas ini dan berkata, bukankah Angga sibuk, lalu kenapa dia bisa datang kesini?
Angga kemudian menjawab “aku lakukan ini karena aku suamimu dan aku ayah dari bayi yang ada di dalam perutmu. Aku juga ingin menjadi ayah yang baik seperti kau menginginkan menjadi ibu yang baik untuk bayi kita.”
Icha tersenyum mendengar kalimat Angga. Mereka pun kini bersama-sama menjahit baju bayi yang lucu tersebut.
Angga dengan sifat konyolnya mencoba memasukkan benang dalam jarum dan itu berhasil dia lakukan tanpa kesusahan sama sekali. Dia tertawa terbahak-bahak saat berhasil memasukkan benang itu kedalam jarum dan Icha dengan sigap memotong benang tersebut.
Angga menjahit pakaian itu dengan sangat mahir. Lalu Angga mengingatkan Icha kembali pada dugaan Icha tadi yang mengatakan, bahwa dia takkan bisa melakukan ini. Tapi buktinya Ia mampu melakukannya dengan sangat baik.
Ich terus saja memuji Angga yang ternyata sangat hebat. Tapi tiba-tiba Icha melihat jari tangan Angga yang tak memakai cincin pernikahan mereka. Lalu Icha menjadi tak enak karena dia masih memakai cincin yang diberikan Angga saat menikahinya.
Dengan gerakan reflek Icha langsung menutup tangannya yang tersemat cincin pernikahan mereka. Angga melihat gerakan Icha menutupi tangannya itu dan benar-benar merasa tak enak. Ia merasa seperti sudah membuat Icha sedih.
Kini kelas hamil sudah selesai dan mereka sedang menunggu lift terbuka. Icha senang sekali dengan baju bayi yang dijahit Angga tadi. Dia terus menatapnya dan selalu tersenyum.
Kemudian Icha berterima kasih pada Angga dan berkata dia akan memakaikan baju ini saat anak mereka lahir.
Angga tampak senang walau dia berusaha tak menunjukkan. Dia malah berkata kalau Icha bisa beli pakaian bayi yang lain. Pakaian yang banyak dijual di supermarket.
“Tapi hanya ada satu yang seperti ini. Jika kau menyimpan baju yang dikenakan bayi ketika pertama lahir, maka kelak saat bayi itu besar dan tengah menghadapi ujian atau mendapat masalah, mereka bisa mendapatkan keberuntungan.” jawab Icha
Angga sungguh terharu dan senang sekali dengan apa yang Icha katakan. Dia bahkan merasa bangga karena baju pertama anaknya adalah baju yang dia buat dengan tangannya sendiri. Apa ada yang lebih membahagiakan daripada itu? Tentu saja tidak.
__ADS_1