
Angga terlihat marah dan kesal. Ia berlari sangat cepat hanya untuk melepaskan pelukan itu. Angga menegur Reza dan mengatakan "Jangan sentuh istriku!”
“Icha kamu juga. Jangan lupa kamu seorang ibu sekarang.” ucapnya pada Icha
“Apa kau yakin dia istrimu? Jika dia istrimu, seharusnya kau tak membuatnya sedih seperti ini. Aku sangat penasaran, orang seperti apa yang membuat wanita baik sepertinya menangis?” Reza menanggapi dengan santai,
"Aku tidak pernah mengira kamu akan cemburu.” gugat Reza saat melihat reaksi Angga
"Tidak!” Angga mencoba untuk menyangkal sanggahan Reza
“Kamu harus memperlakukan istrimu dengan baik atau kamu akan menyesal.” Reza mengucapkan itu saat Icha beralih pergi meninggalkan mereka dalam perdebatan itu.
“Aku tidak perlu mendengar hal itu darimu.” tolak Angga dan segera menyusul Icha.
Icha memilih pergi karena hatinya sakit saat melihat Angga.
Angga langsung mengejar. Ia tak mengerti kenapa Icha malah marah padanya. Harusnya Ia yang marah karena Icha sebagai istrinya ketahuan berada dipelukan pria lain. Angga bertanya ada masalah apa dan meminta Icha menceritakan padanya agar dia tahu. Namun Icha menolak dan meminta Angga melepaskan tangannya karena tidak ada yang ingin dia katakan.
Namun Angga bersikeras, Ia mengetahui ada yang berbeda dari Icha. Lalu dia kembali mengingatkan Icha kalau selama hidup bersamanya, Icha haruslah berkelas. Jangan mau di rayu oleh sembarangan pria dan bersikap aneh di belakang nya.
“Berkelas katamu? Apa bersikap baik hanya didepanku dan berbuat sesuka hatimu di belakangku, itu disebut sikap yang berkelas?” jawab Icha ketus. Ia tak mengira Angga akan bersikap buruk di belakangnya dengan menjual pabrik itu dan bersikap baik di depannya dengan mengingatkannya bahwa ialah istrinya.
__ADS_1
Tak pernah Icha mengungkapkan semua isi hatinya seperti itu. Ini kali pertamanya Ia membentak seseorang. Itu karena hatinya sangat sakit.
“kau menganggap aku apa? Apa arti aku bagimu?” Lanjut Icha. Ia tak mengira Angga akan mengabaikan permintaannya untuk menjaga pulau dimana kampung halamannya berada.
Tapi Angga tidak mengerti, kenapa Icha jadi begitu dan marah padanya? Ia hanya menjawab pertanyaan Icha. Ia menganggap Icha adalah ibu tersayang dari anaknya. Lalu Icha kembali bertanya, "apa setelah bayi ini lahir, aku sudah tak berarti lagi? apa hanya sebatas itu?"
“Saat hari itu tiba, aku akan berkemas dan pergi dan kita hanya akan menjadi orang yang tak saling kenal. Seperti kontraktor dan klien.” ketus Icha saat mengingat kontrak perjanjian yang Angga buat untuknya. Begitulah artinya, Ia akan pergi setelah Angga mendapatkan anaknya, tak lebih dari itu.
Angga yang masih bingung kenapa sikap Icha berbeda, tak mampu lagi mengikuti Icha. Ia terdiam mendengar semua perkataan Icha mengenai kontrak perjanjian itu. Memang benar dia yang membuat kontrak itu, tapi Ia tak mengira akan jadi seperti ini.
Ia tak tahu Icha akan perlahan mulai masuk ke dalam hatinya. Bahkan Icha mampu membuatnya cemburu, itu berarti ia memiliki perasaan pada Icha. Pernikahan ini tak hanya mengikat tubuhnya tapi hatinya juga ikut serta mengikuti.
Icha kembali kerumah Angga dan segera membereskan semua barang-barangnya. Dia berniat meninggalkan rumah Angga dan kembali kekampung halamannya. Saat dia membereskan barangnya yang ada di meja rias, Icha menatap foto pernikahannya dengan Angga. Dia menatap foto itu lama, setelah itu menaruh kembali foto tersebut dalam posisi terlungkup.
Saat menaruh semua pakaiannya ke dalam koper. Ia terlihat sangat sedih dan dia meminta maaf pada ibunya. Pernikahan ini tidak membahagiakan baginya “Dari awal aku sudah memulainya dengan cara yang salah. Maafkan aku ibu.”
Dia bertanya “Dimana ya siput kita? Aku membeli sesuatu yang manis. Siput kita harus makan. Aku membeli sesuatu yang manis agar dia tidak merajuk lagi” Angga yakin Icha pasti menyukainya.
Tiba-tiba Icha keluar dengan menarik kopernya dan Angga bertanya heran, Icha mau kemana? Kok terlihat seperti istri yang ingin melarikan diri?
Lalu Icha menjawab dia mau kembali ke kampung halamannya, ke rumah Ibunya. Dia mengkhawatirkan kampung halamannya. Lalu Angga merasa heran kenapa tiba-tiba sekali Icha mengkhawatirkan kampung halamannya, lalu dia berkata kalau Pulau tempat kampung halamannya itu berada tidak akan kemana-mana. Ia sudah menjaganya dan Icha tak perlu mengkhawatirkannya. Lagipula sesuai kontrak mereka kan harus bersama sampai bayi itu lahir. Lalu kenapa Icha memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya?
Namun Icha tak menghiraukannya. Ia berkata hatinya terluka melihat Angga. Ia tak percaya Angga menjaga kampung halamannya setelah Ia melihat sendiri kontrak jual beli pabrik itu.
“Bagimu aku memang memalukan dan tidak berkelas, Tapi tidak menurut hati nuraniku. Aku tidak bisa hidup bersama dengan orang yang tidak punya hati nurani sepertimu” ujar Icha
__ADS_1
Mendengar Icha berkata seperti itu, Angga kesal. Kenapa Icha tiba-tiba marah padanya? Sementara Ia tidak berbuat kesalahan apa-apa, bahkan Ia sudah mengembalikan pabrik itu. Dia kesal dan berniat melepas cincin nikahnya tapi dia sedikit kesulitan.
Setelah berhasil terlepas, Angga menaruh cincin itu diatas meja dimana tepat ada foto pernikahan mereka. Padahal baru saja Ia memutuskan untuk kembali memakai cincinya.
*****
Reza sebenarnya merasa khawatir saat Icha pergi dalam keadaan menangis tadi. Ia khawatir ada apa-apa pada Icha dan Ia memutuskan untuk pergi menyusul Icha ke rumah Angga.
Saat Reza sudah berada di depan rumah, Ia melihat Icha keluar dari rumah dengan menyeret sebuah koper. Ia langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Icha.
"kau mau kemana?" tanya Reza.
Icha terkejut mendapati Reza yang tiba tiba-tiba berada di hadapannya. Ia mengatakan pada Reza kalau Ia akan kembali saja ke kampung halamannya. Lalu Reza membantu Icha dan membawa koper Icha masuk ke dalam mobilnya.
Saat di dalam mobil Reza berkata kalau Icha mau menangis, menangis saja jangan ditahan. Namun Icha berkata, kenapa dia harus menangis? Dari awal dia tahu kalau dia dan Angga memang tidak memiliki hubungan lebih. Untuk apa dia membuang-buang air matanya. Namun apa yang di ucapkan Icha tidak terlihat seperti itu menurut Reza. Icha terlihat sembab karena menahan air matanya.
“kampung halamanku adalah tempat dimana ayahku dimakamkan. Dia orang yang paling mencintaiku. Semua keluargaku juga disana. Tapi kenapa dia tega melakukan itu padaku? Aku membencinya, tapi aku tak boleh begini” Icha mencurahkan isi hatinya.
Reza mendengarkan semua kalimat Icha yang tertahan. Kemudian menjawab, mungkin Angga memiliki alasan melakukan itu. Harusnya Icha bertanya alasannya, bukannya malah kabur menghindari masalah ini. Harusnya Icha menghadapinya saat merasa sulit, bukannya berusaha kabur untuk menghindarinya.
Icha hampir saja menangis mendengar nasehat Reza. Tapi Reza kemudian berkata kalau sekarang dia dan Icha sudah menjadi saudara, dia seperti kakak kandung bagi Icha. Jadi bagaimanapun kalau ada yang sulit, Icha harus cerita padanya dan dia akan membantu sebisanya. Lalu Icha tersenyum karena Reza sudah berusaha menghiburnya.
“Aku akan memberitahumu hal ini dari hati seorang kakak, kembalilah ke rumah. Seburuk apapun suamimu, jika dia tidak mengetahui keberadaanmu, dia pasti khawatir.” saran Reza.
__ADS_1
Reza menyarankan Icha kembali ke rumah Angga dan menyelesaikan masalahnya. Seburuk apapun itu, Angga adalah suaminya.