
Icha sudah tiba di kantor Angga. Ia membuatkan makan siang untuk Angga dengan nasi yang dihias seperti wajah mereka. Dia membuatnya dengan sepenuh hati. Oleh karena itu makanan ini tampak sangat lezat dan menggiurkan.
Icha harus menunggu Angga terlebih dahulu karena ia sedang rapat. Selagi menunggu, Icha memperhatikan dan memeriksa ruangan Angga. Di ruangan tersebut di meja Angga, Icha melihat foto Anin bersama Angga. Ia sedikit kecewa melihat foto tersebut karena ia menduga dan berharap bahwa harusnya foto pernikahan merekalah yang ada disana. Tapi Icha kembali sadar diri. Ia merasa takkan mungkin mampu menggantikan posisi Anin di hati Angga. Arti dirinya hanyalah sebagai ibu dari anak Angga.
Kini Icha telah kembali duduk di Sofa menunggu Angga. Lalu Angga pun masuk ke dalam. Ia tersenyum saat melihat Icha dan langsung mendekat. Icha memberikan bekal makan siang yang sudah ia buat untuk Angga dan membukanya. Icha menyodorkan nasi berbentuk wajah Angga untuk dimakan dan Angga malah bertanya kenapa tidak bertukar nasi saja? Icha bertanya kenapa?
“Rasanya aneh memakan wajahku sendiri. Menakutkan juga. Jadi aku akan memakanmu saja?” ucap Angga sambil tertawa
“Bukankah itu lebih aneh?” tanya Icha lagi.
Angga kembali tertawa dan kemudian bertanya jangan-jangan icha memikirkan hal yang aneh? Lalu Icha menggeleng cepat dan akhirnya menyetujui ide Angga barusan. Dia pun menukar kotak makanan yang berisi nasi dengan gambar wajahnya dengan nasi bergambar wajah Angga.
Angga berkata kalau dia akan mulai memakan hidung Icha. Hidungnya yang tajam dan manis. Lalu Icha tersipu. Saat Angga mengambil wortel yang menjadi miniatur hidung Icha dan mengunyahnya, Angga bergumam bahwa rasanya sangat manis.
Kemudian Angga menatap Icha yang ada di depannya, pandangannya tertuju pada bibir Icha yang kecil. Angga menatap itu dengan perasaan yang bercampur aduk di hatinya. Dia mulai mendekatkan wajahnya seolah berniat akan mencium Icha. Tapi akhirnya dia tersadar dan berkata “Aku akan memakan bibirmu kali ini. Aku akan merasakannya.”
Angga mulai bisa mengendalikan diri, dia kemudian berkata kalau sepertinya Icha sudah mulai berubah. Lalu Icha menjawab bukankah Angga yang menyuruhnya untuk tidak menjadi gadis Post-it lagi. Sekarang ini dia hanya ingin menjadi ibu yang kuat untuk Pangeran kecil (anaknya)
“Hanya ibu yang kuat untuk Pangeran kecil? Bukan sebagai lem super? Kau juga harus menjadi lem super” ucap Angga menimpali sambil tertawa.
Icha tersenyum dan mereka pun kembali makan bersama.
Malam ini, sebelum tidur Icha menempel foto janinnya di diary bayi yang dia buat. Dia menyiapkan diary ini untuk catatan tumbuh kembang bayi di dalam rahimnya ini. Dia pun mulai menulis di Diary bayi
__ADS_1
Halo Pangeran kecil. Ini pertama kalinya ibu menyapamu. Bagaimana harimu? Ibu hari ini senang sekali mengunjungi ayahmu dan makan siang bersamanya. Ibu bahkan lebih senang karena ada ayah bersama ibu saat ini.”
Lalu kilasan kedekatan dan kebersamaan mereka tadi siang terulang kembali. Bagai sebuah sketsa.
Kemudian Icha kembali melanjutkan tulisannya “Ibu dan ayah menjadi ..”
Icha berhenti dan mengelus janin yang ada di dalam perutnya lalu melanjutkan tulisannya dengan ucapan di bibir “Ibu dan ayah menjadi… keluarga yang sesungguhnya.”
*****
Kali ini Angga terpaksa harus ikut acara pemotretan untuk iklan produk barunya yang melibatkan dia dan Reza. Neneknya juga menyarankan Icha ikut serta terlibat sebagai model. Jadi sekarang ini mereka sudah ada di studio untuk sesi pemotretan.
Angga merangkul Icha yang tersenyum manis kearah kamera. Kemudian masih ada beberapa pose lucu dari pasangan itu.
Icha masih sibuk berpose untuk pemotretan selagi menunggu Reza datang. Kali ini mereka berdua memegang balon berbentuk hati dan sama-sama tersenyum kearah kamera. Mereka seperti melakukan foto prewedding tapi dilakukan sesudah menikah. Jadi mereka sekalian melakukan foto pascawedding.
Tentu saja Angga risih dan tidak suka melihat Reza dan Icha saling tersenyum satu sama lain. Dia membalikkan tubuh Icha hanya mengarah padanya. Dia juga meminta agaricha tidak gampang tertawa hanya karena lelucon bodoh dari Reza. Angga juga menyuruh untuk menutup mulutnya dan Icha pun patuh padanya.
Kali ini adalah sesi foto bertiga. Dekorasi tampak sangat indah sehingga mendukung ketiga model disana. Icha mengenakan gaun hitam dan terlihat cantik, sementara Angga dan Reza sama-sama mengenakan jas berwarna putih. Angga mendekat kearah Icha. Reza yang melihat hal itu tidak mau kalah. Dia pun menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Icha.
Kemudian Angga merangkul istrinya dan Reza tidak mau ketinggalan, dia ikut melingkarkan lengannya kepundak Icha, sehingga kedua laki-laki itu tampak tengah merangkul Icha yang berada di tengah-tengah mereka.
Pose selanjutnya, Angga merebahkan kepalanya di bantal berbentuk hati yang ada di paha Icha. Setelah fotografer mengambil pose itu, Reza langsung menarik bantal yang dipakai Angga dan menggunakannya untuk menutup wajah Angga agar tak terlihat kamera.
__ADS_1
Angga tidak mau kalah, dia berdiri saat tahu wajah Reza terlalu dekat dengan wajah istrinya. Kemudian dia menyusupkan wajahnya diantara wajah Reza dan Icha, bahkan dia sengaja menempel wajahnya semakin dekat dengan wajah Icha dan Reza hanya menatap heran bercampur kesal. Tingkah mereka seperti kekanak-kanakan.
Pose kali ini, Angga sampai harus memukul tangan Reza yang merangkul istrinya. Tapi Reza tak mau memindahkan tangannya itu sehingga Angga terpaksa menutup wajah Reza dengan bantal berbentuk hati yang dia pegang. Mereka masih saja bertengkar sampai sesi di kursi itu berakhir.
Dan tibalah sesi foto yang tidak melibatkan Icha. Angga dan Reza terlihat ogah-ogahan harus foto bersama. Mereka menampakkan wajah tak suka di kamera. Reza memegang lengan Angga dengan sangat kuat, seolah sengaja melakukan itu dan Angga hanya bisa meringis menahan sakit. Kedua pria itu malah seperti berkelahi saat disuruh pose bersama.
Sesi foto selesai sudah. Icha mengecek pesan masuk di ponselnya. Tiba-tiba ada panggilan masuk dan seketika raut ceria pada wajahnya berubah sendu. Reza melihat itu. Dia tahu ada sesuatu yang buruk terjadi.
Acara pemotretan sudah selesai, Angga berniat mengantar Icha kembali sebelum dia kembali ke kantor. Tapi Icha menolak. Dia berkata biar dia pulang sendiri saja. Angga tidak mau, lalu Reza menawarkan tumpangan untuk Icha karena kebetulan dia juga akan ke kafenya, jadi mereka searah. Angga tak terima Reza yang mengantar istrinya pulang, tapi Reza menjawab kalau dia kan sudah menjadi kakak Icha. Jadi apa salah kalau dia mengantar adiknya pulang? Tak disangka Icha menerima tawaran Reza untuk pulang bersama. Dia berkata pada Reza kalau menurutnya itu ide yang baik. Lagipula Reza juga akan ke kafe. Jadi dia bisa sekalian. Angga ingin melarang, tapi dia tak kuasa menolak.
Sepanjang perjalanan wajah Icha terlihat murung. Reza berkali-kali menatap wajah Icha yang seolah cemas akan sesuatu. Reza bertanya apa sesuatu terjadi? Tapi Icha menjawab tidak, dia hanya sebenarnya harus ke suatu tempat. Reza lalu berkata kalau dia akan mengantar Icha ke tempat itu, jadi sebutkan saja mau kemana. Setelah Icha menyebutkan diman ia harus turun, Reza mengantarnya.
Kemudian sampailah Icha di tempat tujuannya. Di sebuah cafe mewah yang dan disana sudah ada Anin menunggunya. Ternyata raut murung, sedih, cemas dan galau tadi adalah karena Anin mengajak Icha bertemu. Bertatap muka dan bicara berdua saja.
Setelah duduk berhadapan, Anin langsung bertanya kalau dia tahu Icha pasti terkejut karena tiba-tiba dia mengajak bertemu. Icha membenarkan walau hanya sedikit. Tapi tidak masalah karena dia juga ingin bertemu dengan Anin.
“Apa kau mencintai Angga?” Anin tiba-tiba bertanya tentang itu.
Icha terkejut mendapat pertanyaan itu. Jemarinya hanya bisa saling bertaut untuk menghilangkan gugup di hatinya. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan itu? Apa boleh dia berkata kalau dia memang mulai mencintai Angga?
Icha memutuskan untuk tidak menjawab dan balik bertanya kenapa Anin bertanya seperti itu padanya?
“Saat terkahir aku bertemu Angga, dia bilang bahwa dia merasa bertanggung jawab padamu. Dia bilang dia harus bersamamu karena kau ibu dari anaknya. Saat itu aku tak menyadarinya, tapi sekarang aku sudah pikirkan dan aku masih belum mengerti. Pasangan yang sudah menikah yang bersama hanya karena rasa tanggung jawab atas seorang anak, bagaimana mungkin hubungan seperti itu bisa berjalan dan bertahan? Tidak ada rasa cinta diantara kalian. Apakah hidup seperti itu tidak menjadi masalah bagimu? Jika aku adalah kau aku akan membencinya dan sangat menderita bersama. Kurasa itu juga yang dirasakan Angga. Aku yakin itu.” jawab Anin
__ADS_1
Icha hanya mampu menunduk, ia menahan tangis. Semua yang dikatakan Anin benar. Tapi dia tak membenci Angga. Dia malah mulai mencintainya. Selama bersama Angga, tak sekali pun laki-laki itu membuatnya menderita. Tapi dia juga harus ingat, bahwa mungkin yang dikatakan Anin benar. Angga mungkin yang menderita bersamanya. Bersama wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Mungkin seperti itulah yang kini dirasakan Angga, dibalik semua sikap manisnya. Di balik semua sikap hangatnya dan dia tidak mau membuat Angga menderita hidup bersamanya atau bahkan membencinya.
Icha bahkan terus teringat saat Angga berbuat manis padanya. Angga selalu berkata itu ia lakukan untuk Pangeran kecil dan melarang dirinya untuk ada perasaan pada Angga. Itu artinya Angga tak punya perasaan padanya dan Angga hanya melakukan hal itu karena dia merasa bertanggungjawab.