
Malam hari, Icha sudah di kamar dan mulai menulis diary bayinya,
“Pangeran kecil… kau baik saja hari ini kan? Ibu selalu merasa kau bergerak-gerak. Ibu senang kita bertiga bisa bersenang-senang bersama seperti hari ini. Ayahmu sangat baik dan perhatian. Ibu beruntung memilikimu dan kamu akan beruntung memiliki ayah seperti ayahmu. Ibu harap kamu cepat lahir dan tumbuh hebat seperti ayahmu**."
Sementara itu Angga mulai mencari siput cantiknya. Dia membentuk siput dengan jarinya dan mulai mencari dimana Icha berada. Saat itulah, Icha baru selesai mandi setelah tadi ia menulis diary. Icha keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk dengan rambut yang basah. Angga menatap Icha dengan tangan yang reflek seolah ingin menerkam Icha. Hasratnya jelas kembali bangkit.
Lalu dalam imajinasinya, dia melihat Icha yang dipenuhi cahaya kelap-kelip sehingga tampak semakin cantik, terlebih hanya memakain handuk seperti saat ini. Icha akhirnya menyadari kehadiran Angga dan bertanya apa Angga mencarinya. Lalu Angga berkata nanti mereka akan makan malam bersama. Icha sedikit terkejut tapi dia kemudian tersenyum.
Setelah Icha berlalu, Angga seketika lemas. Dia hanya bisa bergumam kalau punggung siputnya bahkan nampak sangat indah. Dia benar-benar berharap jadi handuk Icha saja.
*****
Pagi ini jadi pagi berbeda untuk ibu Icha dan saudara-saudaranya. Mereka terkejut melihat berita buruk tentang Icha di koran karena di koran tersebut tertulis besar bahwa pernikahan Angga, Pewaris BC group dan istrinya adalah palsu. Berita itu sudah menyebar begitu saja menjadi santapan hangat di media massa sepagi ini tanpa tahu siapa yang menyebarkannya.
__ADS_1
Hal buruk lainnya tentu langsung terjadi di kediaman Angga, para tetua dan dewan direksi sudah datang lengkap dengan bukti surat perjanjian cerai yang ditemukan. Tetua yang jahat jadi provokator dengan berkata bahwa ini bisa menjadi skandal yang mengerikan untuk keluarga mereka. Angga tampak menggenggam tangan Icha berharap agar Icha tenang dan tak perlu takut karena ada dia disampingnya.
Ny Sekar hanya bisa berteriak kesal pada Angga karena begitu egois melakukan semua ini. Ia sama sekali tidak tahu dengan surat perjanjian itu. Kenapa Angga tega melakukan itu diluar sepengetahuannya?
Angga hanya diam dan berusaha menenangkan. Ia memang salah telah membuat surat itu. Tapi itu sudah lama berlalu sebelum perasaanya tumbuh pada Icha. Itu hanyalah surat perjanjian lama yang belum direvisi. Kini surat itu harusnya tidak ada lagi karena ia sudah memperbaruinya menjadi surat yang berisikan bahwa ia akan mempertahankan pernikahan ini dan membesarkan anaknya bersama Icha bahkan ia juga menambahkan kalimat ia takkan membuat Icha sedih. Tapi ia tak mengatakannya. Harusnya ia tak membuat surat itu baik yang lama ataupun yang baru. Ia harusnya menerima pernikahan tanpa ada apapun di dalamnya yang akan menghalangi.
Tetua yang jahat bertanya pada Icha, apa Icha sengaja dibayar untuk melahirkan anak? Jika memang seperti itu, maka hal ini tidak pantas dilakukan. Hal ini ditolak dan Angga tidak bisa melanjutkan keturunan keluarga Budiman. Artinya garis keturunan Budiman akan terhenti dan Angga tak bisa menjadi penerus selanjutnya. Mereka tidak bisa menerima Angga untuk tetap duduk di posisinya. Mereka mendesak agar Angga melepas jabatannya. Tapi Angga tak menghiraukannya, Angga hanya meminta semua tetua untuk berhenti menyerang karena Icha sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini.
Tiba-tiba ibu Icha datang ditengah-tengah pertemuan para tetua itu dan meminta semua berhenti. Dia langsung mendekati Icha dan menarik tangannya untuk membawa Icha segera pergi. Tapi Icha menolak. Dia ingin tetap ada disini.
Ibunya tetap memaksa Icha ikut dengannya, tapi Icha maaih saja menolak. Ibunya semakin marah dan berkata tidak ada alasan bagi Icha untuk tetap tinggal bersama keluarga konyol ini.
“Ibu… aku mencintainya” Ucap Icha dan menahan tangisnya.
Angga tersentak kaget, tak menyangka akan mendengar kalimat cinta dari mulut Icha untuknya, “Tidak peduli kata orang, bagiku dia sangat baik.” Ucap Icha tulus yang semakin membuat Angga terdiam dan hanya bisa menatap Icha. Tapi ibunya tetap tak peduli dan langsung menarik tangan Icha pergi.
Setelah kepergian Icha, tetua menjelek-jelekkannya karena merasa sikap Icha dan keluarganya buruk sekali. Angga tak terima. Dia berkata kalau dia tidak peduli para tetua menghinanya atau melakukan apapun padanya, tapi jangan coba-coba menjelek-jelekkan keluarga istrinya. Dia tidak akan tinggal diam jika para tetua melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Di luar Icha meminta ibunya mendengarkan dia terlebih dahulu. Icha menjelaskan pada ibunya kalau pernikahan ini awalnya adalah pernikahan tanpa cinta. Jadi dia dan Angga memang memutuskan untuk berpisah setelah Pangeran kecil lahir. Dia juga menyetujui ide tersebut. Jadi jangan berfikir kalau Angga jahat atau jangan membuat orang lain jadi berfikir bahwa Angga jahat karena Angga tidak seperti itu. Jika orang-orang berfikir Angga jahat, maka dia juga jahat karena juga melakukan hal yang sama seperti yang Angga lakukan. Ini keputusan berdua bukan keputusan Angga seorang. Dia juga berkata bahwa ia membubuhkan tanda tangannya dalam surat itu. Artinya ia sama jahatnya dengan Angga yang membuat surat itu.
Icha tak pernah tahu dan menyadari bahwa sebenarnya Angga telah mengubah isi surat itu saat dia bertemu dengan Pak Rudi tempo lalu. Ia masih mengira surat itu masih ada dan masih berlaku sampai ia melahirkan Pangeran kecil.
Ibunya jadi kesal dan memukul Icha karena Icha terus saja membela Angga yang jelas-jelas bersalah. Angga berhasil keluar dari pertemuan para tetua. Ia melihat Icha dan ibunya berada di luar dan segera mendekat. Angga meminta ibunya berhenti memukuli Icha. Ibunya yang melihat Angga datang kemudian berkata kalau dia selalu menyukai Angga. Tapi kenapa Angga melakukan hal ini padanya? Angga hanya mampu minta maaf pada ibu mertuanya dan memohon agar sang ibu mertua tidak membawa Icha pergi dari rumah ini.
“Sejujurnya aku juga tidak tahu apa itu surat perjanjian dan apakah ada efek hukumnya atu tidak, tapi yang jelas aku tahu kau telah menyakiti putriku. Kau membawa putriku dan ternyata kau membuatnya menderita. Maka tidak ada alasan bagiku untuk membiarkan putriku untuk tetap tinggal disini.” Ibunya tetap membawa Icha pergi dengan paksa.
Angga dengan sopan terpaksa melepaskan tangan ibu mertuanya yang sedari tadi dia pegang. Apa yang dikatakan ibu mertuanya benar, dia membawa Icha ke rumahnya tapi malah membuat Icha menderita. Apalagi setelah Icha diperlakukan tidak hormat oleh para tetua tadi. Ia jadi sadar bahwa dia hanya membuat Icha terus menderita.
Di luar pintu pagar rumah, para wartawan sudah menyerbu. Para wartawan menanyakan kebenaran kabar surat perjanjian cerai itu. Ibu Icha langsung memarahi wartawan yang malah berbahagia diatas penderitaan orang lain. Bukankah para wartawan juga punya keluarga, punya istri, suami dan juga anak? Ini namanya sudah kelewatan.
Zaki ternyata sudah menunggu dengan mobilnya dan begitu Icha serta ibunya mendekat, Zaki langsung membuka pintu mobil dan mereka semua pun masuk dan bersiap meninggalkan tempat ini.
Tak jauh dari tempat itu, Reza juga melihat keadaan yang tampak kacau. Reza hanya terdiam saat mobil yang membawa Icha melewatinya karena dia tertegun melihat wajah Icha yang begitu sedih dan nampak tertekan.
Icha memeluk ibunya begitu mereka sampai di Restoran. Icha meminta maaf karena dia menjadi putri yang mengecewakan ibunya. Dia bersalah. Ibunya tak bisa marah karena bagaimanapun icha adalah putrinya. Ibunya bertanya kenapa Icha menyimpan semua sendiri? Apa Icha tidak punya ibu? Tidak punya kakak? Ibunya tampak mulai menangis karena nasib putrinya yang begitu malang.
“Ibu aku benar-benar tidak ingin melihat ibu menangis. Aku tidak akan membuat ibu sedih lagi mulai sekarang. Aku benar-benar akan menjadi putri yang baik. Jadi tolong jangan menangis. Jangan menangis karena aku, Bu.” ucap Icha dengan lirih.
__ADS_1
Ibu pun menahan tangisnya dan memeluk Icha. Dia menjawab kalau dia tidak akan menangis.