Fated To Love You

Fated To Love You
Sama-sama Beruntung


__ADS_3

Pandangan Mike yang seajak tadi tertuju pada Papa Jo, kini beralih pada tiga sosok wanita kesayangannya yang berada tepat di belakang sang Papa.


Siapa lagi mereka kalau bukan Mom Lisa, Mama Rani dan sang kekasih Floryn. Gadis kesayangannya itu tersenyum hingga membuat Mike balas tersenyum kearahnya.


"Aku mau bicara berdua sama Floryn," ungkap Mike.


Semua orang di sana tentu saja memperbolehkan keinginan Mike yang ingin berbicara empat mata dengan Floryn. Apalagi beberapa hari ini mereka menyaksikan sendiri bagaimana frustasinya seorang Jonatan Michael karena mengira Floryn adalah saudara tirinya.


"Ayo sayang ikut aku," ajak Mike dan langsung menarik tangan Floryn menuju taman belakang di rumahnya.


Papa Jo menatap sepasang kekasih itu dengan perasaan lega. Ternyata keputusannya untuk mencari tahu kebenaran tentang status Mama Sita adalah hal yang sangat tepat.


Papa Jo bahkan rela membayar mahal untuk setiap detail informasi yang dirinya dapatkan. Hingga pagi ini dirinya memberanikan diri untuk menemui mantan istrinya yang tengah menunggu Papa Floryn di rumah sakit.


Suatu keberuntungan untuk Papa Jo, karena Papa Floryn yang awalnya akan di bawa keluar negeri ternyata tidak jadi, karena kesehatannya yang semakin membaik ketika mengetahui putrinya telah kembali.


Mike menengok kearah belakang begitu keluar dari sebuah pintu kaca pembatas antara dapur dengan taman.


Setelah memastikan situasi aman dan tak ada mata yang melihat, Mike langsung memeluk dan mencium bibir Floryn tanpa permisi.


Untuk sesaat, Floryn hanya diam membeku. Otaknya terasa kosong saat merasakan benda kenyal itu menempel tepat di bibirnya.


Namun ketika bibir Mike mulai bergerak, kesadaran Floryn pun seketika kembali. Dengan gerak cepat dan sekuat tenaga, Floryn mendorong tubuh sang kekasih hingga tautan bibir mereka terlepas.


"Maaf sayang," ujar Mike merasa bersalah. Terlalu merindukan sang kekasih membuat Mike tak bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


Pria itu menatap Floryn dengan perasaan bersalah. Mike sangat takut Floryn akan menganggap dirinya pria breng*ek dan mes*m. Apalagi kemarahan Floryn adalah satu hal yang paling tak ingin Mike lihat.


"Gak pa-pa. Aku ngerti." Floryn tersenyum kearah Mike. Walaupun pria itu telah mengambil ciuman pertamanya, tapi Floryn sama sekali tak marah.


Floryn hanya takut ada orang yang melihat hingga menganggap mereka selama ini menjalani hubungan yang tak sehat. Apalagi di dalam rumah sana banyak orang tua yang mungkin akan menganggapnya perempuan gampangan.


"Kita ngobrol disana yuk." Mike menunjuk sebuah kursi taman yang berada tepat di bawah pohon palem yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Aku seneng banget hari ini," ujar Mike setelah mereka berdua mendudukan tubuh di kursi. Langit sore yang cerah membuat suasana hatinya semakin baik.


Floryn menatap sang kekasih yang tengah tersenyum menatap langit yang mulai menjingga. Senyum yang begitu lebar, membuat Floryn tanpa sadar ikut tersenyum. Kebahagiaan Mike adalah kebahagiaannya juga.


"Kamu beruntung mempunyai seorang ibu yang hebat seperti Tante Sita," puji Floryn tulus.


Namun bukannya marah, Tante Sita justru masih begitu peduli padanya bahkan pada sang ayah yang notabenenya hanya suami pura-pura.


Setelah pergi dari rumhanya, Mama Sita justru rutin mengirim uang bulanan lewat Gladis, karena wanita paruh baya itu tahu jika semua kartu kredit Floryn tinggal. Bahkan M-banking pun Floryn tak bisa mengaksesnya karena ponsel pun tak punya. Kekecewaannya pada sang ayah membuat Floryn benar-benar tak ingin menikamti lagi fasilitas apapun dari Papanya.


Tante Sita rutin menanyakan kabarnya pada Gladis bahkan menanyakan kapan Floryn bisa dia temui. Namun Gladis yang saat itu membenci perhatian orang padanya membuat wanita itu menyembunyikan fakta sesungguhnya.


Bahkan Gladis juga dengan tega tak memberitahunya jika sang ayah terkena serangan jantung hingga stroke karena kepergiannya.


Ketika mengingat semua itu, membuat Floryn merasa sangat marah pada Gladis. Orang yang benar-benar dia percaya ternyata adalah orang yang begitu tega mengancurkannya.


"Kamu benar sayang, aku beruntung memiliki ibu seperti Mama Sita." Mike kembali memeluk Floryn. Selain masih rindu, Mike juga ingin Floryn tahu seberapa besar rasa sayangnya pada gadis itu. "Aku juga beruntung memiliki kekasih sepertimu."

__ADS_1


Tanpa sungkan, Floryn balas memeluk Mike. "Aku pun begitu, terlalu beruntung memiliki pria sehebat kamu."


"Dan aku sangat bersyukur karena ternyata kita bukan saudara tiri."


Keduanya memutuskan untuk masuk karena langit mulai menggelap. Baik Mike maupun Floryn pun sudah sedikit puas karena sudah saling menumpahkan kerinduannya yang sejak beberapa hari ini mereka pendam.


Floryn sendiri terlalu fokus dengan kesehatan sang ayah hingga tak menyadari jika ponselnya telah hilang. Dia ingin menghubungi Mike, namun sayang dirinya sama sekali tak menghafal nomor telepon kekasihnya.


Dan mulai sekarang dia berjanji akan menghafal setiap angka yang tertera di nomor telepon Mike, agar hal serupa tak terjadi lagi kedepannya.


"Kalian sudah selesai ngobrolnya?" tanya Mom Lisa yang saat ini sedang menggoreng ayam di dapur.


"Sudah Mom," jawab sepasang kekasih itu kompak.


Masih fokus dengan penggorengan di depannya, Mom Lisa kembali berbicara. "Lebih baik sekarang kamu mandi dulu Mike. Setelah itu baru kita makan malam bersama."


"Mandi?"


Deg


Deg


Deg


Mike menatap pantulan tubuhnya di pintu kaca. Pakaian kusut, wajah dan rambut acak-acakan. Mike baru mengingat sesuatu, dia belum mandi selama empat hari berturut-turut. Arghh...kenapa tak ada yang memberitahunya sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2