
**Icha Pov
Aku sudah selesai mengirimkan email pada pak Rudiantara. Sekarang saatnya aku ke pengadilan mengantarkan berkas-berkas ini.
"Mira, aku ke pengadilan dulu" aku berpamitan pada Mira.
"tunggu, Cha.. Apa kamu akan ke pengadilan? boleh aku sekalian titip ini" teman sebelahku ikut mendengarkan dan ia langsung meminta bantuanku.
"tolak saja Cha" bisik Mira
Aku bergeming, bagaimana caranya aku menolak. Lagipula aku juga akan kesana.
"dia kan punya kaki, dasar Riana! paling malas kalau pergi ke pengadilan" bisik Mira lagi.
"Icha, aku bisa minta bantuanmu? kerjaanku masih menumpuk" Riana memelas meminta bantuan dariku.
Mira kembali menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan agar aku bisa menolak dengan tegas. Riana paling sering merepotkanku.
"baiklah.." Aku mengambil berkas itu dari tangan Riana dan Aku tak bisa menolaknya. Aku akan mengantarkan berkasnya ini sekalian. Mira menepuk jidatnya tak sanggup melihat sifatku yang tak bisa mengatakan tidak.
"terimakasih cha..." Riana kembali menyeret kursinya rapat kedekat meja. Ia kembali pada aktivitasnya, sedang menonton drama kesukaannya.
Aku hanya menelan air liur membasahi kerongkongan. Aku tak membencinya hanya saja kenapa aku tak bisa menolak untuk membantunya?
__ADS_1
Mira kesal padaku. Lalu Ia melihat berkas yang berada di tanganku. Membaca berkas yang diserahkan oleh Riana tadi. Disana tertulis nama pengacara Malik Andri, SH., MH. Aku tak begitu tertarik, tapi tampaknya Mira tertarik dengan nama itu.
"kamu akan membawa berkas itu padanya, pada pengacara Malik?" ujar Mira antusias.
Aku mengangguk, seperti itulah yang dikatakan oleh Riana. Berkas ini harus aku serahkan ke tangan pemilik nama itu sebelum pukul 10 ini. Sekarang sudah menunjukkan pukul 9. Perjalanan dari kantor ini ke pengadilan memakan waktu 30 menit.
"kenapa?" tanyaku heran pada Mira
"kamu tak tahu siapa dia?" Mira terdengar lebih heran. Aku mengangkat kedua bahu, aku tak tahu siapa dia.
"astaga kamu ngapain aja sih, Cha? Dia pengacara paling populer di lantai ini, Dia selalu memenangkan setiap kasus yang di tanganinya. Aku benar-benar ngefans sama dia." Ujar Mira kagum. Aku membalas tersenyum melihat reaksi Mira.
"Andai pekerjaanku tidak menunggu, aku saja yang antarkan berkas itu. Aku ingin bertemu dengannya, berbicara dan berjabat tangannya" ucap Mira dengan saparuh mengkhayal.
"Suatu saat kamu pasti bisa, aku pergi dulu" Aku harus segera pergi sebelum aku terlambat mengantar berkas-berkas ini.
Aku segera menuju ruang pengadilan yang disebutkan oleh Riana. Ruangan sidang ini masih kosong karena waktu belum menunjukkan pukul 10. Hanya ada satu orang yang duduk disana. Di kursi pengacara, ia sedang asyik dengan laptopnya. Apakah dia pengacara Malik?
Aku segera saja menghampiri. Aku tak asing dengan wajahnya. Sepertinya aku pernah berjumpa dengan dia? Tapi dimana ya?
"maaf... saya datang untuk mengantarkan ini" aku memberanikan diri mengganggu kesibukkannya dengan menyerahkan berkas yang diberikan Riana tadi.
"letakkan saja disana" ujarnya tak bergeming dari layar laptopnya.
__ADS_1
Aku kenal dengan suara ini. Suaranya mirip dengan pria yang membantuku di lift tadi. Oh iya benar. Setelah aku perhatikan lagi, dia memang pria yang bersamaku pagi ini. Pria baik yang sudah membantuku. Ia tampak sangat sibuk, apakah kasus yang ia tangani saat ini cukup berat?
Sudahlah keberadaan ku disini hanya akan mengganggunya saja. Ia pun tak melihatku.
"baiklah.. saya pergi dulu" aku hendak pergi namun ia mencegatku.
"bisakah kau menolongku mengambilkan secangkir teh?" Ia meminta bantuan, tapi matanya masih terpaku pada layar laptop.
"tapi.... baiklah" aku akan membantunya, sepertinya ia benar-benar dalam kesulitan.
Setelah membuatkan teh, aku mengantarkan lagi kepadanya. Saat ini ia tampak mempelajari berkas yang aku bawa tadi.
"ini teh anda, pak" ucapku dan meletakkan teh itu didekatnya.
"terimakasih" Ia kemudian sedikit melirik ke arahku.
Aku tersenyum dan menyibakkan rambutku ke balik telinga. Apa yang sedang ku lakukan? apa aku sedang menarik perhatiannya?
"kamu" ucapnya seperti mengingatku.
"iyaa" aku mengangguk.
"kamu yang mengantarkan ini?" tanyanya pada berkas yang ada di tangannya. Lalu Aku mengangguk pelan membenarkan. Kemudian Ia mengucapkan terimakasih dan berkata "jangan lupa, kita akan bertemu lagi siang ini"
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 10, orang-orang mulai memasuki ruangan sidang. Aku harus segera pergi dari sini.
Aku menganggukkan kepala dan beranjak pergi. Dia masih tersenyum padaku. Apa dia tertarik padaku? Tidak mungkin. Aku harus segera menepis hal yang mustahil itu.