
Angga memberitahu neneknya apa yang sudah terjadi dan dia berkata kalau semua ini salahnya. Seharusnya dia yang mengalami semua itu. Neneknya pun memandang sedih cucu kesayangannya itu dan berkata kalau semua ini bukan salahnya. Itu adalah kecelakaan yang tidak bisa dihindari. Neneknya menggenggam tangan Angga lalu berkata “Cicitku mungkin memang ditakdirkan untuk tidak bertemu dengan kita.”
Kini Angga datang ke tempat dimana orangtuanya disemayamkan. Angga meratapi pusara dan menyapa ibunya.
“Ibu aku datang. Aku sangat merindukanmu hari ini. Ada seorang wanita yang sangat kusukai, dia wanita yang sangat aneh. Dia hampir seaneh ibu. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan dengan tubuhnya yang mungil dan rapuh itu. Aku ingin memeluknya tapi kurasa aku tidak pantas melakukan itu. Ibu tahu alasannya kan?”
Setelah itu dengan enggan Angga menyapa sang ayah. Dia bersikap tidak sesantai saat menyapa ibunya tadi. “Bagaimana perasaan ayah saat sakit ini menyerang? Apakah ayah takut akan hilang ingatan lagi setelah ingatan ayah sempat kembali, sama sepertiku? Ada seorang wanita yang sangat kucintai, dan aku ingin sekali bisa bersamanya. Tapi aku tidak bisa memintanya untuk bersamaku karena aku takut, nanti aku akan melupakannya lagi. Sebenarnya aku ingin menjadi orang yang tak tahu malu dan mengajaknya tinggal bersama. Tapi sebaiknya tidak kan? Aku tidak boleh sepertimu.”
Sementara itu, Reza datang menjenguk Icha di Rumah Sakit. Icha sudah mulai membaik dari keadaannya. Ia tidak keberatan untuk bertemu dan berbicara dejgan Reza. Mereka kini ada di luar dan tengah berbincang. Reza meminta agar Icha tidak menyalahkan dirinya karena itu hanyalah sebuah kecelakaan. Tapi Icha menggeleng. Dia berkata kalau ini memang salahnya, itu hanya alasan saja.
“Selalu seperti itu, aku menjalani hidupku dengan pasif. Aku tidak pernah punya keberanian untuk melakukan apapun sendiri. Jadi lebih mudah membiarkan orang memilih aku atau mencampakkan aku. Begitulah aku hidup hingga saat ini. Dan sekarang sebagai hasilnya, aku kehilangan anakku yang tidak bersalah.” ucap Icha
Reza tak ingin memperpanjang kesedihan Icha dengan bertanya ini itu, dia mengambil kotak yang tadi dibawanya dan menyerahkan pada Icha. Reza berkata kalau dia membawa beberapa peralatan menggambar yang ada di studionya karena dia tahu Icha paling suka saat menggambar. Icha juga terlihat bahagia saat menggambar.
“Saat kau menderita karena pikiran yang menyedihkan, kau bisa menggambar.” Icha tersenyum dan menerimanya kemudian dia mengucapkan terima kasih.
Kini, Icha tertidur setelah puas menggambar. Dia menggambar bayi yang memiliki sayap, seolah bayi itu adalah malaikat.
Di luar kamar, Angga datang. Dia tidak masuk ke dalam. Meskipun ia sangat ingin bertemu Icha dia menahannya karena dia tahu Icha tak ingin melihatnya. Dia hanya menggantung permen Cherry Pink di pegangan pintu kamar Icha. Dalam hati dia berkata “Kau bilang padaku bahwa orang yang menyukai rasa manis adalah orang yang selalu ingin bahagia. Jika ada kebahagiaan tersisa dalam hidupku, akan ku berikan semua padamu. Kau harus jadi bahagia.”
“Satu Minggu Kemudian”
Icha lagi duduk di teras rumah sambil memainkan kincir angin mainan. Ia tampak lesu. Ibunya datang dan senang menemukannya di sana.
__ADS_1
“Ibu maafkan aku karena selalu membuat ibu khawatir.” ujar Icha
“Omong kosong. Sudah takdir bagi seorang bayi untuk dilahirkan. Takdir ditentukan oleh hidup. Kamu mengerti?” Icha terdiam.
“Ibu membawa seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
“Siapa?” tanyaa Icha terkejut. Dia berharap itu bukan Angga.
“Pria yang sangat tampan.” Jawab Ibunya.
Icha ketakutan mendengarnya mungkin ia masih trauma dengan Angga. “Aku takut. Jika dia seseorang yang tidak ingin kutemui.”
Seseorang itu sudah berada di hadapan Icha. Icha memandang seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Sosok Reza yang tersenyum padanya. Mereka berjalan bersama “Kamu datang lagi?”
“Senangnya menjadi dirimu. Ibu dan kakak-kakakmu semua mencemaskanmu seolah-olah itu masalah mereka sendiri. Jadi, kamu harus bersemangat.” Reza datang untuk menghibur Icha.
“Reza…”
Reza juga mengingatkan bahwa Icha pernah berkata kalau ia hidup dengan pasif selama ini, jadi mungkin sekarang saatnya Icha berubah, “Jika kau punya meski sedikit saja keberanian dalam dirimu untuk berubah. Kenapa kau tidak mencobanya? Ini akan menjadi sebuah langkah baru dalam hidupmu. Tinggalkan tempat ini dan temukan dirimu yang baru.” Icha masih menatap pria yang ada di depannya.
Setelah Reza pergi. Icha kini tampak sedang sendirian. Dia memperhatikan koin pemberian Angga saat mereka di Bali. Ia sedang bimbang, apa ia harus pergi ke Paris atau tidak. Tapi sepertinya ia sudah memutuskan.
Icha pergi menemui Angga di kantor. Mereka terlihat canggung di pertemuan kali ini. Icha kemudian bertanya kenapa Angga berbohong padanya? Kenapa Angga tidak memberitahu kalau ingatannya sudah kembali? Apa Angga sengaja melakukan semua itu karena sangat tidak nyaman bersamanya?
Angga pun terdiam beberapa detik sebelum akhirnya dia menjawab kalau dia merasa itulah yang terbaik untuk Icha, makanya dia merahasiakan ingatannya yang sudah kembali. Ia sengaja berkata demikian karena dia tidak ingin memberitahu Icha mengenai seberapa parah penyakit genetikanya.
Icha kemudian memberanikan diri bertanya. Dia menyebut pertanyaannya ini adalah pertanyaan yang bodoh. “Bagaimana menurutmu… Jika aku memintamu melupakan segalanya dan memulai lagi? Memang singkat… Tapi bisakah kau bersamaku seperti dulu lagi?”
Angga terdiam. Dia sangat ingin menjawab iya, tapi itu tidak mungkin. Bagaimana jika penyakitnya datang lagi. Bibirnya malah mengatakan maaf. Dia berharap dengan perkataan maafnya bisa menjawab pertanyaan Icha tadi. Dia tahu Icha pasti mengerti. Lalu Icha mengangguk dan menjawab kalau dia mengerti arti dari kata maaf Angga barusan. Angga tak menginginkannya.
__ADS_1
Icha lalu menyodorkan surat cerai mereka dan berkata seharusnya dari awal saja dia menyetujui perceraian ini disaat Angga benar-benar menginginkannya. Angga menjawab kalau semua ini adalah salahnya. Tapi Icha berkata tidak, ini bukan salah siapa-siapa.
“Kita hanya tidak tahu kalau kita sudah salah sejak awal.” Kemudian Icha melepas cincin nikahnya dan mengembalikan itu pada Angga. Kini, sudah tak ada hubungan apapun diantara mereka. Mereka pun berpisah dan Icha berkata tak ada lagi alasan bagi mereka bertemu lagi.
Angga kembali ke rumah. Kini dia sedang berada dikamarnya. Dia merasakan kekosongan di dalam kamarnya ini. Sudah tak ada Icha. Disana juga masih tersimpan perlengkapan bayi yang sudah dia beli bersama Icha. Ia menatap ranjang bayi untuk Pangeran kecil yang tak sempat digunakan. Dia menarik sebuah hiasan boneka yang langsung menghasilkan suara lembut sebagai pengantar tidur bayi mereka nanti. Sayang semua itu tak bisa terpakai. Angga bersedih mengingat semua itu.
Disaat Angga tengah bersedih, neneknya datang dan membawa sebuah dokumen. Angga menyapa neneknya dan kembali meminta maaf. “Itu tidak bisa dihindari. Itu bukan sepenuhnya salahmu. Nenek sudah membaca ini. Tindakanmu sudah benar. Kamu membuktikan dirimu sebagai pewaris Budiman.” Itu adalah dokumen yang terakhir kali Angga revisi.
“Dia tidak ingin bertemu denganku lagi. Aku bersalah, Nek. Aku yang menyebabkan ini semua terjadi." Angga bersedih mengingat semua itu.
Lalu neneknya melihat diary yang dipegang Angga, "Apa Icha sendiri yang menulisnya? Boleh nenek lihat?”
Nenek membaca diary Icha untuk Pangeran kecil. Nenek memuji Icha, dia sungguh gadis yang baik dan Angga tidak akan menemukan gadis seperti dia lagi. Angga diam melirik neneknya sekilas.
Angga menemukan kotak harta karun Icha. Ia jadi teringat saat ia menemukan kotak itu di gudang rumah Icha. Berbagai macam keluhan Icha tersimpan di sana. Angga membaca tulisan pada kertas berbentuk hati. "Semoga aku menemukan belahan jiwaku”
Angga juga merasakan hal sama saat membaca itu pertama kali di gudang bersama Icha. Neneknya yang masih berada di sebelahnya ikut membacanya. Neneknya menggeleng gelengkan kepala. ”Dia bahkan tidak menyadari keinginan sederhana ini.”
Angga lanjut membaca yang berikutnya. “Semoga Angga bisa merayakan ulang tahunnya bersama nona Anin”
Angga teringat saat Anin tidak datang pada hari ulang tahunnya dan pada saat itu Icha yang datang menghiburnya. “Wanita itu…” Angga tak habis pikir.
“Semoga pangeran kecil bisa lahir dengan selamat” Angga pun menangis terharu membaca kalimat selanjutnya.
“Semoga nenek sehat selalu.” Nenek terharu dan ikut menangis membaca yang berikutnya. “Gadis itu…Dia sungguh…” Nenek menghapus air matanya.
“Semoga Angga tidak akan pernah tahu bahwa aku jatuh cinta padanya” Angga menangis sesenggukan membaca kalimat itu.
Nenek menyuruh Angga berdiri dan secepatnya mencari Icha, “Pergilah cari dia.”
__ADS_1
“Dia tidak mau menemuiku.”
“Meski begitu, kamu harus pergi. Apa kamu akan mengulangi kesalahan yang sama lagi?” Neneknya juga menyuruh Angga membawa dokumennya. Angga kemudian memeluk neneknya sebelum pergi.