
Hari ini, Anin sedang melakukan sesi wawancara bersama salah satu acara televisi. Dia mendapat tawaran wawancara karena dia adalah pianist perempuan pertama dari Indonesia yang akan melakukan pementasan di Paris. Angga ikut menemani dari kejauhan sebab ia merasa bersalah dengan apa yang telah menimpa Anin.
Wawancara dilakukan di sebuah Cafe dan saat ini Angga memilih berjalan-jalan di sekitar ruangan itu tanpa mengganggu Anin yang ada di ruangan lainnya tengah diwawancara. Saat menuruni anak tangga, Angga melihat sebuah post-it yang berbentuk hati jatuh dengan sebuah tulisan diatasnya.
Tulisan itu berbunyi “Apa kau suka padaku? Aku suka padamu.”
Melihat post-it itu, Angga langsung teringat pada Icha. Ia teringat telah berkata kalau hanya dialah yang menyuruh Icha menjadi lem super dan bukan menjadi post-it. Hanya dia yang berkata seperti itu pada Icha.
Tiba-tiba Angga mendapat telepon dari Dokter keluarganya. Dokter mengabarkan kalau ibu mertuanya masuk Rumah Sakit dan Angga terkejut sekali mendengar hal itu. Ia segera bergegas pergi tanpa berpamitan dengan Anin.
Sementara saat ini Icha datang menemui Reza. Hubungan mereka sudah semakin dekat layaknya kakak-adik. Icha tersenyum menyembunyikan masalahnya. Ia mengingat Angga yang mungkin sedang bersama Anin. Angga tidak pulang ke rumah semalam, Angga telah menghabiskan waktu semalaman dengan Anin. Sebenarnya Ia cemburu tapi langsung disingkirkannya jauh-jauh. Tidak mungkin dia cemburu, tapi bisa jadi dia memang sangat cemburu. Tapi dia juga tahu cepat atau lambat Angga akan kembali pada Anin. Ia ingin sekali membagi kegundahan ini bersama Reza namun Ia memilih menyimpan itu hanya dalam hatinya, tanpa perlu Reza tahu.
Namun Reza mengetahui itu, raut wajah yang diperlihatkan Icha tampak tidak baik-baik saja.
"Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu? Kenapa kau terlihat sangat sedih?" tanya Reza mengkhawatirkan Icha
“Tidak ada yang buruk. Aku hanya mengkhawatirkannya. Semakin dia baik padaku, aku semakin khawatir. Semakin dia baik padaku dan semakin keras usahanya berbuat baik padaku, semakin membuatku bertambah khawatir. Aku takut, aku terlalu berharap banyak padanya. Aku takut kalau aku jadi berfikir bahwa dia mulai menyukaiku dan aku takut mungkin aku tak bisa melepskannya di hari yang sudah kami sepakati.” Icha memulai untuk bercerita. Ia menceritakan pada Reza bahwa Angga sudah mulai bersikap baik padanya. Tapi ia tak menceritakan bahwa Anin telah datang.
****
__ADS_1
Angga sudah tiba di Rumah Sakit. Ibunya senang melihat putranya datang. Lalu Angga bertanya pada dokter, apa yang terjadi pada ibunya? Dokter menjelaskan kalau dia menemukan batu empedu saat memeriksa. Angga menjadi panik dan bertanya pasti itu sakit sekali. Lalu dokter dengan tenang menjawab kalau batu empedu mudah dihilangkan hanya dengan operasi. Ibu meminta Angga tidak usah khawatir karena dia akan baik-baik saja. Meskipun ada hal buruk terjadi padanya, dia tidak akan khawatir lagi karena dia memiliki putra seperti Angga yang bisa diandalkan.
Icha kemudian datang dan dengan cemas memeluk ibunya. Ibu berkata kalau dia baik-baik saja dan bertanya pada Angga, apa Angga yang memberitahu tentang kondisinya pada Icha?
Angga langsung menjawab tidak tapi yang memberitahu Icha adalah kakaknya. Lalu Ibu memarahinya dan berkata kalau Icha sedang hamil dan tidak boleh stres. Angga menatap Icha dengan khawatir dan mencoba menenangkan dengan berkata kalau tidak akan terjadi apapun pada ibunya, jadi Icha tenang saja. Ibu pasti baik-baik saja.
Setelah selesai menjenguk ibunya. Angga akan mengantarkan Icha kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Angga tak tahan dengan kesunyian itu dan memilih mendengarkan radio yang juga disetujui oleh Icha untuk memecahkan rasa canggungnya.
Siaran radio yang dipilih Angga ternyata sedang membahas tentang masalah dalam sebuah hubungan. Ada seorang pendengar yang mengirim pesan di radio itu dan dibacakan si penyiar.
Pesan itu berbunyi “Pacarku akhir-akhir ini menemui mantan pacarnya lagi. Mereka bersama cukup lama dan aku tahu pacarku dulu sangat mencintainya. Jadi aku memaafkannya beberapa kali, tapi aku menangkap basah pacarku, dia telah menghabiskan malam bersama dengan mantan pacarnya itu. Apakah aku harus memaafkan pacarku?”
Icha dan Angga saling pandang seolah mereka sama-sama tersindir dengan cerita si pendengar dan jawaban dari si penyiar. Angga pun mengganti channel radio. Kini yang terdengar adalah suara musik dan Angga berkata dia suka musik ini. Ia pun menggerak-gerakkan tubuhnya mengikuti irama lagu. Tapi ternyata di syair lagu itu terdapat kalimat “Aku berselingkuh.”
Mereka berdua pun kembali kikuk mendengarnya. Angga yang merasa tersindir menyebut kalau lirik lagu ini sepertinya bermasalah, jadi lebih baik tidak usah didengarkan.
Lagi-lagi Angga mengganti channel radio. Kini terdengar Penyiar sedang memberi komentar, kalau pria yang berselingkuh dengan mempertahankan dua wanita sekaligus disisinya, akhirnya akan mencari sebanyak mungkin wanita disisinya. Pria seperti itu tidak akan pernah puas. Lalu Penyiar memberi komentar kalau wanita yang hidup dengan pria seperti itu harus siap patah hati. Jadi lebih baik berpisah saja.
Angga dan Icha kembali berubah raut wajahnya karena kata-kata si penyiar lagi-lagi mirip dengan kisah mereka. Angga tidak mengerti kenapa siaran radio aneh semua hari ini, sehingga dia berusaha untuk mematikan radio saja. Namun dia pun jadi gugup dan bertanya sendiri, “Dimana sih tombol stopnya? Kenapa rumit sekali?”
__ADS_1
Tidak berhasil menghentikan lagu itu dengan tombol stop, akhirnya Angga meninju saja music portable di mobilnya. Seketika musik pun berhenti. Icha tersenyum melihat tingkah Angga dan berterimakasih atas apa yang dilakukan Angga hari ini.
Hujan mulai turun saat mereka sampai di depan rumah. Mereka turun dari mobil dengan sepayung berdua. Icha menyuruh Angga segera kembali bekerja dan dia akan segera masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba Anin datang. Ia tersenyum dan berkata kalau dia datang karena ingin memberikan hadiah pada nenek.
Icha sadar diri akan keberadaannya dan memilih masuk saja ke dalam rumah, tapi Angga menghentikannya. Angga mencekal lengannya hingga membuat Anin menatap mereka dengan heran. Angga sudah membuat keputusan, walaupun Icha berkata lirih untuk jangan memberitahu apapun, tapi Angga harus melakukannya. Dia tidak boleh seperti ini terus.
Maka dengan berat hati Angga berkata “Anin, sebenarnya aku menikah dengannya. Dia adalah istriku.”
Icha tak sanggup menatap wajah Anin saat ini. Dia tahu pasti hati Anin terluka karena kenyataan ini. Anin mencoba tak percaya, dia bertanya pada Icha kalau ini pasti hanya lelucon kan?
Icha hanya bisa menunduk dan meminta maaf. Seolah kata maaf itu adalah penegasan kalau ini bukan lelucon. Inilah kenyataannya. Anin seketika lemas, payung yang dipegangnya dan oleh-oleh untuk nenek Angga yang dibawanya tadi terlepas dari tangannya. Anin memegang tangan Angga dan meminta Angga untuk berkata kalau semua tadi adalah bohong.
“Tolong, kumohon katakan ini hanya bohong. Kau selalu melakukan apa yang kuminta. Kau selalu seperti itu.” Anin memaksa
Tapi Angga hanya bisa menjawab semua kalimat Anin dengan satu kata, yaitu Maaf. Dia menatap Anin dengan pandangan menyesal tapi inilah kebenarannya. Menyesal telah membuat keadaan menjadi seperti ini.
Lalu Anin memilih pergi dan Angga segera menyusulnya. Dia menghentikan dengan memegang lengan Anin. Tapi Anin sangat kesal berkata apa Angga mengarang itu semua? Dimana Angga bertemu wanita itu? Bagaimana ceritanya?
“Apa kau orang yang kejam? Apakah orang yang berpacaran denganku selama 7 tahun ini adalah orang yang sekejam itu? Bagaimana perasaanmu saat bertemu denganku padahal kau sudah menikah dengannya? Apa kau menikmati itu?” Anin meluapkan kekesalannya.
__ADS_1