
Memang benar orang yang dilihat oleh Angga barusan adalah Icha. Ia masuk kedalam ruangannya. Kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan setiap pekerjaannya. Ia menatapi tumpukkan dokumen di mejanya dan memikirkan kapan mejanya ini akan bersih dari dokumen dan catatan-catatan tempel ini.
Kemudian Mira mendekat mengganggunya. Ia mengatakan butuh sebuah pembalut. Kebetulan sekali punyanya habis. Ia memintanya pada Icha sambil memegangi perutnya yang terasa keram.
Saat memberikan pembalut pada Mira. Icha tersentak kenapa bulan ini tamunya belum datang? Ia memeriksa kalendernya. Ini bahkan sudah lewat dari tanggal biasa tamu bulanannya datang.
Icha merasa cemas. Ia teringat kejadian bersama Angga tempo lalu di Bali. Namun ia segera menepisnya. Ia takut menyimpulkan hal yang ia duga secepat itu. Mana mungkin dalam satu malam hal itu bisa menerobos keperawanannya. Namun Icha tak tahu hal itu bisa dengan mudah terjadi berkat apa yang sudah ia dan Angga minum.
Ia tidak fokus bekerja sekarang. Pikirannya masih kalut membayangkan jika memang benar apa yang ia pikirkan terjadi. Ia segera menuju toilet. Ingin memastikan apakah ia hamil atau tidak. Ia mencari setiap informasi di internet bagaimana tanda-tanda seorang dapat dikatakan hamil.
Setelah ia menemukan informasi tentang apa yang ingin dia dapatkan. Ia terkejut, bagaimana bisa semua informasi yang ia dapatkan itu ia alami. Berarti apakah benar ini terjadi? Ia hamil?
Icha bingung harus melakukan apa. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia tak mungkin lagi bertemu dengan Angga.
Ia terlihat lemas. Ia perlu istirahat sejenak sebelum kembali normal. Namun tiba-tiba saja Pengacara Malik yang datang entah dari mana menghampirinya. Ia memang sengaja mendekati Icha. Ia ingin kembali memanfaatkan Icha. Ia mengira pasti Icha masih berhubungan dengan Angga. Keputusan yang tepat jika Icha bisa meminta Angga dan membujuknya untuk bekerjasama dan menggunakan dirinya sebagai Konsultan Hukum seperti yang dibutuhkan oleh Angga.
Pengacara Malik mendekat dan memberi Icha minuman, dan bertanya "apakah kau sengaja menghindariku?"
"aku tidak menghindarimu" Jawab Icha yang memang pandai berbicara dibawah tekanan.
__ADS_1
Icha kemudian bergeser dari posisinya. Dia berpindah kursi, tak ingin dekat-dekat dengan Pengacara Malik. Namun Pengacara Malik yang bermuka tembok masih saja mengikuti kemana Icha duduk.
Icha tidak suka dengan kedatangan Pengacara Malik. Namun Pengacara Malik yang memang tidak tahu malu, langsung berkata mengenai Angga.
Dia menanyakan apakah Icha masih berhubungan dengan Angga? Icha tentu saja langsung menjawab tidak. Dia hanya bertemu tak sengaja dan hanya hari itu saja.
Tapi Pengacara Malik berkata kalau dia tidak percaya, mana mungkin hanya bertemu sekali saja, padahal mereka tidur bersama. Dia tahu hal itu. Icha malu sekali, dia takut jika ada rekan kantornya yang mendengar. Tapi Pengacara Malik tidak peduli, dia malah semakin merapatkan duduknya.
Ia meminta tolong pada Icha untuk meyakinkan Angga menerimanya sebagai konsultan hukum atas urusan yang sedang dikerjakan oleh Angga. Tentu saja Icha tak mau melakukan itu. Ia menolak. Icha tidak ingin merepotkan Angga lagi. Icha tak mau melibatkan Angga lagi dengan urusannya. Serta Icha takkan mungkin lagi bertemu dengan Angga. Dia memang biasanya tidak bisa menolak permintaan orang, tapi kali ini dia harus bisa. Icha pun mencoba menghindari Pengacara Malik dan berniat pergi.
Karena tidak mendapatkan respon sesuai keinginannya. Pengacara Malik kembali mengejek Icha dengan berkata kalau Icha berpura-pura lugu dan polos, supaya bisa merayu Angga.
“Aneh sekali. Kau kan hanya wanita biasa, aku tidak tahu kenapa dia bisa tertarik padamu. Apa tidak masalah jika aku mengumumkan pada semua orang bahwa kau menggoda Presdir BC? Kau tahu apa yang akan menimpamu jika scandal itu menyebar?” Pengacara Malik semakin erat mencengkeram tangan Icha hingga membuatnya merintih kesakitan.
Icha sontak terkejut mendengar identitas asli Angga. Ia tak mengira ternyata posisi Angga setinggi dan sepenting itu. Icha makin galau atas dugaannya jika memang ternyata ia hamil. Apa yang akan ia lakukan?
Kemudian tanpa Icha duga datanglah seseorang yang menyelamatkannya dari cengkeraman Pengacara Malik. Seseorang yang mirip dengan Pangeran Impiannya. Orang itu melepaskan tangan Icha dari genggaman Pengacara Malik. Kemudian dengan santai orang tersebut memiting tangan Pengacara Malik dan dengan gerakan mempesona dia membuka kacamata hitamnya.
Orang itu menatap Pengacara Malik lalu bertanya apa pitingannya ini terasa menyakitkan? Lalu setelah itu Ia tertawa.
__ADS_1
Pak Rudi dan karyawan lainnya yang berada disekitar sana ikut memdengar dan datang melihat keributan apa yang sedang terjadi. Ia mendengar suara Angga. Apakah Angga belum meninggalkan firma hukumnya?
Memang benar. Pak Rudi melihat Angga, Pengacara Malik dan Icha ditempat itu.
Angga berkata pada Pengacara Malik yang tentu juga didengar semua orang yang berada disitu,
“Aku berusaha keras mendapatkan hati Icha. Tapi dia tidak pernah menerimaku.”
Icha hanya bisa menunduk malu mendengar kalimat Angga yang kembali berhasil menyelamatkannya.
Kemudian Angga melanjutkan kalimatnya pada Pengacara Malik
"Kau ternyata tidak hanya sampah di sana, tapi kau juga sampah disini.”
Angga kemudian menatap Pak Rudi yang berada di belakangnya dan berkata kalau dia tidak akan bekerjasama dengan firma hukum ini sebelum Pak Rudi menyingkirkan sampah seperti Pengacara Malik.
Semua orang yang mendengar hal itupun syok, tamatlah karir Pengacara Malik di Firma hukum Ini. Sebab Pak Rudi takkan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bekerjasama dengan Angga sebagai klien VVIP dan sebagai orang terpandang di negeri ini.
Sementara Pengacara Malik hanya bisa meringis kesakitan karena tangannya masih dicengkeram oleh Angga.
__ADS_1