
Mama Sita tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Sedangkan Mike langsung memeluk sang ibu dengan cukup erat. Dia tak menyangka jika wanita yang melahirkannya mempunyai hati semulia ini.
Mike merasa bersalah sudah pernah membenci ibunya, walau sebenarnya kebencian itu tak pernah nyata. Karena sesekali Mike selalu berdo'a agar Tuhan kembali memepertemukannya dengan sang ibu.
Dan setelah sekian tahun akhirnya do'anya terkabul. Dia bisa bertemu dan memaafkan Mama Sita sepenuhnya. Wanita paruh baya di pelukannya adalah wanita paling hebat. Mike beruntung lahir dari rahim wanita hebat ini.
"Apa kamu tahu Mike, ternyata memberikan satu ginjal Mama ke Mama Floryn tak lantas membuatnya hidup bahagia," ujar Mama Sita dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Mike hanya bisa terus memeluk sang ibu. Mencoba memberi ketenangan dan menguatan hati Mamanya. Mike tahu kehilangan orang yang begitu peduli dengan kita adalah hal yang sangat menyakitkan.
Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, Mama Sita kembali menceritakan yang terjadi selanjutnya.
"Operasi Mama memang berjalan dengan lancar. Namun tidak dengan Mama Floryn. Dokter mengatakan operasi Mama Floryn sedikit bermasalah. Mama sendiri tak tahu pasti apa masalahnya."
Mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu membuat hati Mama Sita terasa sesak seolah terhimpit batuan besar. Rasanya sangat menyakitkan saat mengetahui sahabatnya gagal dalam berjuang.
Satu minggu sebelum meninggal, Mama Floryn meminta pulang. Dia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan berada di dekat anak dan suaminya.
__ADS_1
Selama tiga hari berturut-turut, Mama Floryn terus memohon pada Mama Sita agar mau menikah dengan Papa Floryn.
Tentu saja permintaan itu di tolak keras oleh Mama Sita bahkan juga oleh Papa Floryn. Keduanya tak ingin menjalin hubungan karena sebuah keterpaksaan. Apalagi saat itu Mama Sita masih mencintai orang lain. Seorang pria yang telah memberikannya seorang putra tampan.
Namun bukannya menyerah, Mama Floryn justru terus memaksa. Dengan tubuhnya yang sudah lemas tak berdaya, Mama Floryn bahkan sampai rela bersujud di depan kaki sahabat serta suaminya. Memohon agar dua orang yang begitu dia sayangi menikah.
Mama Floryn menyakini putrinya akan hidup bahagia memiliki ibu sambung sebaik Mama Sita.
Tak tega melihat kondisi istrinya yang terus memohon tiada henti. Papa Floryn akhirnya menyetujui permintaan Mama Floryn bahkan tanpa persetujuan Mama Sita.
Hingga pernikahan pura-pura itu pun menjadi pilihannya. Dia benar-benar meminta bantuan Mama Sita untuk pura-pura menikah dengannya. Dan Mama Sita pun akhirnya menyetujui ide yang cukup ekstrim itu.
"Jadi Mama dan Papa Floryn hanya menikah bohongan?" tanya Mike sembari mengantak wajahnya agar bisa melihat jawaban sang ibu dari raut wajahnya.
"Hmm... Tak ada akad nikah. Kami hanya berfoto dengan memakai kebaya sederhana dengan beberapa orang yang sengaja Papa Floryn bayar untuk menjadi saksi palsu."
"Apa Floryn gak tahu kalau Mama dan Papanya cuma pura-pura menikah?"
__ADS_1
Mama Sita menganggukan kepalanya. "Dia gak tau, mangkanya dia marah sama Mama juga Papanya. Sama sepertimu dia salah paham dengan hubungan kami. Bahkan sampai memilih pergi dari rumah setelah acara tujuh harian Mamanya."
Mama Sita kembali menghela nafas panjang. Mengingat begitu kacaunya suasana saat itu ketika mengetahui Floryn yang kabur dari rumah. Tanpa membawa apapun fasilitas yang Papanya beri, termasuk uang, kartu atm, kartu kredit, mobil bahkan Floryn juga tak membawa pakaiannya, karena semua masih tersusun rapi di dalam lemari.
Sedangkan Papa Floryn yang masih dalam keadaan berduka tapi justru mendapati sang putri semata wayangnya kabur membuat dirinya mendadak mengalami serangan jantung, bahkan sampai stroke ringan hingga hanya bisa duduk di kursi roda.
Papa Floryn merasa bersalah karena tak memberitahu putrinya tentang rencana menikah pura-puranya. Hingga putrinya mengira jika semua itu benar-benar terjadi.
Mama Sita yang saat itu menjadi satu-satunya orang terdekat, harus rela mengurus semua kekacauan itu sendirian. Dia sudah berjanji pada mendiang sahabatnya untuk menjaga dan melindungi suami dan anaknya.
Mike memeluk sang ibu cukup erat. Dia tak menyangka jika seberat itu jalan yang harus Mama Sita lewati.
Apalagi Mike masih ingat betul saat Floryn menceritakan seberapa besar bencinya gadis itu pada sosok istri muda ayahnya, yang ternyata semua adalah kesalah pahaman yang berawal dari ketidak adanya keterbukaan.
"Aduh, yang udah peluk-pelukan. Papa jadi pengen ikut gabung." Papa Jo berjalan sembari merentangkan tangannya, membuat Mike melotot dan meneriaki sang ayah.
"Papa, jangan ngarep."
__ADS_1