
Rapat dewan mendadak yang diagendakan untuk memecat Angga sudah hampir di mulai, tapi Angga belum juga datang. Para direksi mulai kesal karena Angga tak juga muncul, bahkan salah satu Direksi menyebut kalau Angga sudah sangat kelewatan karena tidak memdengarkan mereka dan tidak mengatasi masalah perusahaan dengan cepat. Seorang direksi lainnya berkata kalau lebih baik mereka mulai saja tanpa Angga. Akhirnya pemimpin rapat memulai rapat dengan agenda pemecatan Angga sebagai Presdir.
Tiba-tiba Sekretarisnya datang menerobos masuk dengan wajah penuh kecemasan dan lusuh. Dia menuju pengeras suara yang ada di meja dan mulai berkata “Presdir Anggara Budiman pingsan, jadi sekarang dia dibawa ke rumah sakit.”
Tim Direksi kaget, mereka bergumam apa ini masuk akal, pingsan disaat akan dipecat dari jabatan sebagai Presdir? Sekretarisnya tak peduli dengan itu, dia hanya bergumam pelan, apa Angga akan baik-baik saja.
Angga yang sudah tersadar terkejut melihat bahwa Anin ada di hadapannya. Dia bahkan sampai bangkit dari tidurnya. Anin senang melihat Angga sudah sadar dan dia berkata kalau dia sangat khawatir sesuatu yang buruk menimpa Angga.
Sementara itu Angga menatap heran Anin dan bertanya apa mereka sekarang sedang di Bali? Anin pun ikutan heran dan merasa aneh kenapa tiba-tiba Angga berbicara tentang Bali. Itu kan sudah tiga bulan berlalu.
Masuklah Sekretarisnya yang senang melihat Angga sudah sadar dan berkata kalau dia merasa jantungnya hampir berhenti mengingat khawatirnya dia pada Angga yang tiba-tiba pingsan dan kehilangan kesadarannya. Lalu Angga bertanya apa dia mengalami kecelakaan sebelum naik pesawat ke Bali?
Anin dan Sekretaris Angga langsung menemui Dr Heri dan dokter menjelaskan kalau dalam keluarga Angga ada penyakit turunan yang disebut Huntington’s Chorea. Efek dari sakit itu adalah lupa ingatan atau amnesia. Sekretarisnya bertanya apa itu artinya penyakit turunan itu sudah mulai menyerang Angga? Dr Heri tidak menjawab secara jelas, dia hanya mengatakan beberapa hal yang akan terjadi jika Angga benar terkena penyakit itu, seperti akan adanya gejala gangguan motorik. Tapi sejauh ini dia belum melihat Angga mengalami gejala seperti itu. Jadi belum bisa dipastikan apakah Angga sudah terkena penyakit tersebut atau belum?
Dr Heri juga mengatakan kalau ingatan Angga mungkin akan kembali, jika amnesia ini hanya disebabkan syok atau stress ringan. Anin bertanya tapi bagaimana jika amnesia sesaat yang dialami Angga sekarang memang karena penyakit aneh tersebut? Dr Heri meminta Anin tak berfikir sejauh itu, lebih baik sekarang mereka melihat perkembangannya saja.
Dr Heri juga menyarankan agar Angga tidak dipaksa untuk mengingat semua kejadian yang dia lupakan karena itu akan berbahaya baginya. Anin dan Sekretarisnya pun mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
Angga merasa tak betah dan keluar dari kamar rawat inapnya. Ia mengeluh udara panas sekali. Lalu Anin datang mendekatinya dan dengan kesal bertanya kenapa Angga tidak mendengarkan dia supaya tetap di kamar saja?
Angga menjawab kalau dia tetap di kamar padahal dia tidak sakit, maka nanti dia benar-benar akan sakit, dan dia tidak mau itu. Lalu Angga bertanya kenapa dia masih ada disini dan tidak di Bali? Anin berkata kalau itu sedikit rumit. Jadi dia tidak bisa menjelaskannya.
Angga bertanya siapa yang berani membuat kekasihnya merasa rumit? Dia harus memarahi orang itu. Anin tak percaya mendengar Angga menyebut bahwa dia adalah kekasihnya. Dia bertanya apa tadi Angga benar berkata bahwa dia kekasihnya? Angga menjawab tentu saja, Anin adalah miliknya.
Anin memeluk Angga erat dan Angga bertanya heran Anin kenapa jadi melow? Lalu Anin menjawab dia menyukai sebutan tadi, Anin adalah kekasihnya. "Kau dan aku adalah kekasih, itu seperti dulu"
Angga bertambah bingung dan bertanya memangnya mereka pernah berubah? Kenapa Anin jadi aneh? Seperti dia pernah ditinggalkan saja. Itu kan tidak mungkin. Angga tidak akan berubah padanya. Dia satu-satunya. Angga berkata demikian.
Sementara itu Icha berlari secepat-cepatnya begitu mendengar kabar Angga berada di Rumah Sakit, dia ditemani Reza. Saat tiba di Rumah Sakit, Anin tersentak mendapati pemandangan dimana Angga dan Anin tengah berpelukan erat. Langkahnya terhenti menatap adegan romantis di depannya itu. Anin sadar dan melihat kedatangan Icha dan dia langsung melepaskan pelukannya pada Angga.
Tapi tak berapa jauh melangkah Angga berhenti dan berbalik mendekati Icha. Dia kemudian bertanya “Kau mengenalku kan?”
Icha terdiam, otak kecilnya mencoba mencerna keadaan apa yang sedang Angga alami saat ini? Icha kemudian menjawab dia mengenal Angga.
Angga pun tahu dia pernah bertemu Icha. Dia kemudian berseru “cincin dan permen.” Dia tak sepenuhnya melupakan Icha walaupun yang dia ingat adalah kejadian dimana ada wanita aneh yang menabraknya sehingga cincinnya jatuh menggelinding di lantai Mall. Ya, itulah yang tertinggal tentang Icha diingatan Angga yang amnesia.
__ADS_1
Angga juga tahu bahwa yang bersama Icha adalah Reza. Sahabat sekaligus rekan kerjanya. Dia berkata akhirnya Reza mempunyai kekasih juga. "Kau kekasih Reza? Kenapa kau menyembunyikannya dariku dan bersikap seolah kau tak punya pacar selama ini?" ujar Angga pada Icha dan Reza.
Reza hanya diam dan tidak menanggapi. Dia ikutan bingung kenapa Angga sesantai itu dan mengira jika dia kekasih Icha. Jika itu benar, bukankah harusnya Angga menghabisinya. Tapi kenapa Angga malah seperti itu?
Setelah Angga masuk ke kembali ke kamarnya. Kini Icha dan Anin duduk bersama. Anin menjelaskan dan memberitahu semua tentang yang Angga alami saat ini. Anin mulai menunjukkan taringnya, dia berkata dengan lembut pada Icha kalau dia mau Icha pulang kembali ke rumah Icha. Dokter Heri sendiri yang memberitahu padanya agar tidak memaksa Angga mengingat kembali hal-hal yang terlupakan karena itu akan berakibat buruk pada Angga. Anin secara tidak langsung meminta agar Icha tidak terus ada di dekat Angga dan membuat Angga ingat akan pernikahannya yang terpaksa dengan Icha.
Icha tak menjawab. Dia hanya menatap Anin dengan tatapan sedih dan tak percaya. Bagaimana bisa dia diminta untuk tak bertemu atau menemui Angga? Angga adalah ayahnya Pangeran kecil. Ayah dari bayi yang sedang tumbuh di dalam perutnya kini.
Bagaimana bisa Anin dengan santai menyuruhnya melakukan hal yang tidak mungkin bisa dia lakukan?
Perawat tampak tengah memeriksa tekanan darah Angga. Perawat berkata kalau Angga pasti sangat tidak nyaman. Angga membenarkan dengan bertanya kenapa cuaca panas sekali?
Sebelum keluar, perawat menyerahkan barang-barang milik Angga yang ada di tubuh Angga sebelum ia masuk ke Rumah Sakit kemarin. Angga pun menerimanya dan mengeluarkan semuanya, sampai dia menemukan sebuah cincin. Dia menatap heran pada cincin itu dan bergumam kalau sepertinya cincin ini bukan miliknya.
Reza mengantar Icha pulang. Sebelum turun dari mobil Icha mengucapkan terima kasih pada Reza atas hari ini. Reza kemudian bertanya Apa Icha baik-baik saja melihat Angga yang melupakan dirinya. Reza bahkan berkata kesal kalau Angga hanya bisa membuat Icha mengalami kesulitan.
“Tidak. Kesulitan yang dialami Angga lebih berat dariku. Aku tidak keberatan dengannya” Jawab Icha. Dia juga yakin kalau Angga akan segera mengingatnya dan Pangeran kecil.
Setelah masuk ke dalam. Icha masih sangat bersedih, sambil mengusap lembut Pangeran kecil yang ada di perutnya Icha berkata dalam hati “Hari ini, hari yang cukup panjang bagi Ibu. Ayahmu yang selama ini tidak pernah sakit, hari ini kelihatan sangat lemah. Ibu melihatnya di Rumah Sakit tadi. Ayahmu yang selalu melindungi ibu. Pangeran kecil juga akan berdoa agar ayah bisa mengingat kembali kan?”
__ADS_1