
Icha memungut antingnya dengan perasaan sedih. Dia merasa terhina dengan semua perlakuan ini. Pengacara Malik menyuruh Icha membuang saja anting itu. Kemudian dia bertanya "kenapa kau menangis? Aku kan tidak apa-apakan kau... dasar cengeng"
Icha semakin kesal, dia akhirnya menyuruh Pengacara Malik pergi saja dari kamarnya.
"Anda pergi saja dari kamarku.. Aku yang membayarnya dan mendapatkan kamar ini, anda tidak punya hak untuk berada disini. Silahkan anda pergi" Icha meminta Pengacara Malik untuk pergi saja, sudah cukup berbicara. Ia tak mau mendengar perkataan Pengacara Malik lagi. Hatinya benar-benar terluka.
Namun Pengacara Malik tak hentinya berbicara, ia berkata kalau sepertinya Icha sudah salah paham dengan semua ini.
“Apa kau pikir aku adalah kekasihmu sungguhan? Aku bersikap baik padamu, karena kau polos dan begitu manis. Tapi sekarang kau coba mengaturku? Siapa kau? Kau hanyalah seorang gadis yang bisa kugunakan dan saat tidak kubutuhkan aku bisa membuangnya. Itukan peran mu. Kau hanyalah seorang gadis kertas tempel."
“Aku ini seorang pengacara? Apa masuk akal jika aku berkencan dengan wanita sepertimu? Mana mungkin bangsawan sepertiku berkencan dengan orang desa sepertimu? Kecuali aku sudah kehilangan akal”
__ADS_1
Namun tanpa mereka sadari, Angga berada diluar kamar dan mendengar semua hinaan Pengacara Malik pada Icha. Angga berniat mengembalikan sepatu Icha yang tertinggal dikamarnya makanya dia datang ke kamar Icha dan tak sengaja mendengar percakapan itu.
Angga tertegun mendengarnya. Terdengar dengan jelas saat Pengacara Malik menyebut kalau Icha hanyalah gadis kertas tempel yang apabila sudah digunakan akan dibuang begitu saja.
Angga sudah tak tahan, dia melangkah masuk dan mendekati Icha. Kemudian menaruh sepatu Icha di samping Icha dan menyuruh memakainya.
Angga bahkan membantu Icha berdiri dan berkata kalau tak perlu membuang waktu untuk mendengarkan dan berbicara dengan makhluk seperti Pengacara Malik. Tentu saja Pengacara Malik ikut tersinggung mendengar perkataan Angga.
Angga mengajak Icha pergi, tapi Pengacara Malik langsung mencegat dan bertanya memangnya Angga siapa dan berani ikut campur urusannya.
“Kau itu tak pantas disebut bangsawan. Orang sepertimu hanyalah sampah. Orang sepertimu bahkan tidak pantas disebut orang desa.”
Tidak ada bangsawan yang menyebut dirinya bangsawan.
__ADS_1
Pengacara Malik merasa geram mendengar penghinaan Angga. Tapi Angga dan Icha malah pergi meninggalkannya begitu saja.
Angga membawa Icha keluar dari kamar itu. Jika Icha masih berlama-lama dikamar itu maka Icha akan terkena bau busuk sampah itu.
Angga berkata kenapa Icha bodoh sekali? Kenapa mau mengambil anting yang jelas-jelas sudah digunakan oleh selingkuhan dari pria yang Icha sukai?
Icha hanya menjawab kalau anting ini miliknya. Dia menegaskan kata kepemilikan berkali-kali di depan Angga. Sambil menangis Icha bercerita kalau selama hidupnya dia tidak pernah beruntung ketika mengikuti undian, tapi tiba-tiba dia mendapatkan keberuntungan itu dengan bisa berlibur ke resort terbaik ini bersama seorang yang dia sukai. Keinginannya sederhana saja, dia ingin mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya. Hanya itu.
Icha pun tersedu setiap mengingat apa yang terjadi padanya hari ini.
Angga kesal melihat Icha terisak, dia berkata kenapa Icha harus menangis? Kenapa Icha tidak percaya diri? Kenapa Icha mengiyakan begitu saja komentar buruk orang-orang tentangnya?
Seharusnya Icha bisa menunjukkan bahwa hidup Icha belum berakhir pada sampah itu. Tunjukkan sesuatu yang keren di hadapan pria itu. Bukannya menangis seperti ini. Sesuatu yang spesial tentang dirinya. Setiap individu itu unik memiliki hal yang luar biasa, termasuk juga dengan Icha. Tidak baik jika Icha bersikap terlalu baik.
__ADS_1
Bahkan Angga juga mengejek pilihan Icha yang menyukai Pengacara Malik. Setidaknya jika matanya yang buruk, otaknya harusnya tidak. Ia bisa memilih dan mendapatkan pria yang lebih baik dari sampah itu.