
**Icha Pov
Apa aku harus memberitahu Mira kalau pak Malik mengajakku makan siang? Tapi apa pak Malik tidak akan keberatan jika aku bilang pada yang lain?
"apa ada Icha?" Tiba-tiba ada yang datang mencariku. Aku mengenal suara itu. Saat dia masuk ke ruangan ku, setiap orang langsung mengerubungi dan mendekatinya.
"kenapa pengacara Malik mencarimu, Cha?" bisik Mira padaku.
Aku menoleh kearah suara itu berasal. Benar Pak Malik mencariku. Ini sudah waktunya makan siang. Aku menyembunyikan wajahku di meja kerjaku.
"lah kenapa kamu sembunyi?" Mira mengusikku.
Aku tidak nyaman dengan situasi ini. Kenapa dia kesini? Apa tidak bisa dia menungguku di lobi saja?
Dia sudah menghampiri mejaku dan berkata "sudah waktunya makan siang, Icha.. ayok kita pergi" Lalu tanpa permisi ia menarik tanganku. Mira yang memperhatikan langsung melotot tak sangka.
Dia menarikku ikut bersama keluar dari kantor ini. Semua orang menatapku sinis dan ada juga yang berbisik-bisik. Sementara Mira kelihatan kebingungan saat aku tinggal pergi.
Aku tidak bisa menolaknya pergi. Aku hanya mengikutinya dari belakang sambil menunduk canggung pada orang-orang yang melihat kami.
__ADS_1
Ia menghentikan langkahnya. mendekap tangannya ke pundakku. Aku langsung kaget. Kemudian menyingkirkannya dengan pelan.
"berjalanlah beriringan," ujarnya padaku. Aku hanya mengangguk dan menyeimbangkan langkahnya.
Kami makan siang di mall yang berada didepan kantor. Kami makan di restoran Jepang. Aku bingung akan makan apa. Disini tidak ada kepiting asam manis seperti yang biasa dibuatkan ibuku.
Ia memesan sushi. Kemudian menanyakan, aku mau makan apa? Aku melihat semua menu yang ada. Tidak ada yang membuatku tertarik. Semua tampak asing.
Aku bingung. Dia memperhatikan, "bagaimana jika Yakiniku?" tanya nya menawarkan, mungkin dia sudah kelaparan.
"baiklah..." aku menyetujui dan mengembalikan menu itu pada pelayan.
Tak lama menunggu, pesanan datang.
"kau menyukainya?" tanya pak Malik padaku. Aku tersenyum dan mengangguk dengan canggung sambil menelan makanan asing ini.
Setiap kalu aku menelan makanan, maka setiap itu juga aku dorong dengan air putih agar langsung masuk ke perut dan aku tak perlu merasakannya. Aku segan pada Pak Malik jika bilang makanan ini tidak enak. Dia sudah berniat untuk mentraktir ku.
Tiba-tiba ponsel Pak Malik bergetar ditengah makan siang ini. Getaran pertama dia tak mengangkat. Getaran kedua dia tolak. Getaran ketiga aku mulai risih.
__ADS_1
"jika panggilan itu penting, lebih baik anda angkat. Akuku tidak apa-apa" ucapku mempersilahkannya untuk mengangkat panggilan itu.
"mohon maaf, aku akan mengangkat panggilan ini sebentar" ujarnya dan pergi meninggalkan ku keluar meja.
Aku kembali meminum air dan menggerutu bahwa ini benar-benar terasa tidak nyaman.
"maafkan aku, Icha. Aku tidak bisa melanjutkan makan siang kita. Ada urusan mendesak yang memanggilku untuk segera menyelesaikannya" ucapnya setelah mengangkat panggilan tadi.
"tidak apa-apa... anda boleh pergi, pak" aku mempersilahkan dia untuk pergi.
"kau lanjutkan saja makan siangmu,, habiskan itu" ucapnya saat melihat makanan yang masih banyak di piringku. Aku mengangguk dan dia pun pergi.
Setelah beberapa lama ia pergi. Aku tak sanggup lagi jika harus menelan makanan asing ini. Aku hendak beranjak pergi, namun pelayan datang menghampiriku.
Aku bingung kenapa dia menghampiriku? Kemudian ia menyerahkan bill yang belum dibayar padaku. Seketika aku langsung terkejut, bukankan aku di traktir pak Malik?
"mbak, ini.." ia menyerahkan bill yang belum dibayar itu padaku.
Mungkin karena Pak Malik terburu-buru karena urusan mendesak tadi, ia jadi terlupa membayar.
__ADS_1
Aku menatap bill ini. Untuk makanan seperti tadi menghabiskan 200 ribu. Aku sangat terkejut. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus tetap membayarnya. Aku menyerahkan uang pada pelayan itu dan pergi keluar dari restoran ini.
Waktu makan siang masih ada. Lebih baik aku cuci mata dulu mengelilingi mall ini. Kapan lagi aku memberi waktu untuk diriku bersenang-senang.