
Mike baru saja tertidur dengan selang infus yang sudah terpasang di tangannya. Mike mengalami hipotermia, penyebabnya karena berada di lingkungan bersuhu dingin dalam waktu yang lama.
Penurunan suhu tubuh secara drastis seperti ini sangat berpotensi bahaya. Namun syukurlah kali ini Mike hanya mengalami hipotermia ringan.
"Mike sakit apa Pa?" tanya Alex yang baru saja tiba di kediaman Papa Jo bersama dengan Ello.
"Mike mengalami hipotermia ringan. Sepertinya anak itu semalaman berada di balkon kamarnya." Papa Jo menjelaskan sembari menatap sendu sang putra yang sudah tertidur di atas ranjangnya.
Mike adalah anak yang bisa dibilang mempunyai daya tahan tubuh yang kuat hingga sangat jarang sakit. Namun melihat kondisinya saat ini, membuat Papa Jo ikut merasakan sakit yang sama.
"Sebelum ke sini kita udah mampir ke rumah Floryn. Tapi kata Kak Najwa, sejak kemarin Floryn sama sekali belum kembali dari rumah Papanya."
Papa Jo memang meminta tolong pada kedua sahabat Mike untuk menjemput Floryn dan mengajaknya kesini. Karena sejak tadi, Mike terus bergumam nama kekasihnya itu.
Papa Jo berharap Mike bisa segera sembuh jika di rawat oleh kekasihnya. Namun harapan tinggallah harapan, karena Floryn justru menghilang bak di telan bumi.
Entah apa yang sebenarnya terjadi pada keduanya. Papa Jo sama sekali tak tahu, apalagi dirinya sama sekali memiliki sedikit pun petunjuk.
"Apa kalian tahu di mana rumah Papa Floryn?"
Kompak, Ello dan Alex menggelengkan kepalanya serempak. Keduanya memang tak tahu dimana rumah orang tua Floryn. Lagi pula mereka tak segabut itu untuk mencari tahu detail tentang kehidupan kekasih sahabatnya.
Namun sepertinya tidak untuk kali ini. Ello merasa harus tahu dimana rumah orang tua Floryn untuk mencari tahu apa penyebab Mike sefrustasi ini.
"Kalau Papa Jo mau, aku bisa suruh Kak Agam buat nyari tahu dimana rumah orang tua Floryn."
__ADS_1
Papa Jo menganggukan kepalanya. "Papa minta tolong ya sama kalian. Papa ingin bertemu Floryn, Papa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka."
Satu jam berlalu, Ello dan Alex kini sudah berada di depan gerbang sebuah rumah dua lantai.
"Ini bener kan alamatnya?" tanya Alex sembari menatap sekeliling rumah yang terlihat sepi.
"Iya, ini sesuai sama alamat yang kak Agam kasih." Ello menunjukan ponselnya dimana disana terlihat sebuah alamat tempat tinggal.
"Yaudah ayo turun."
Cukup lama Ello dan Alex berdiri di depan gerbang padahal keduanya sudah beberapa kali memencet bel, namun sampai saat ini sama sekali tak ada satu orang pun yang membukakan pintu untuk mereka.
"Salah alamat kali," ujar Alex mulai bosan.
"Tapi ini udah sesuai ngab sama alamat yang Kak Agam kasih," ujar Ello meyakinkan. "Yaudah kita coba pencet bel sekali lagi, kalau gak ada yang bukain kita balik aja."
Ello dan Alex bernafas lega saat pintu pagar mulai bergeser, hingga tak lama kemudian terlihat wanita paruh baya berdiri di hadapan mereka. "Cari siapa ya mas?"
"Apa benar ini rumah Floryn?"
Wanita paruh baya dengan daster batik itu menganggukan kepalanya. "Iya benar."
Kompak Ello dan Alex menghela nafas lega. Syukurlah mereka tak salah alamat. "Bisa tolong panggilkan Florynnya Bi? Kami berdua temennya."
"Non Floryn gak ada di rumah mas. Sejak kemarin siang belum pulang."
__ADS_1
"Belum pulang? Memangnya Floryn pergi kemana?"
"Tuan besar tiba-tiba kembali anfal. Jadi Non Floryn membawa beliau ke rumah sakit," jelas asisten rumah tangga Floryn.
"Kalau boleh tahu di rumah sakit mana Bi?" tanya Ello. Kini dia tahu alasan Floryn yang tak bisa di hubungi sejak kemarin.
"Saya kurang tahu mas. Tapi tadi Nyonya Sita bilang kalau Tuan besar akan di rujuk ke salah satu rumah sakit di luar negeri."
Baik Ello dan Alex hanya bisa menganggukan kepalanya. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi saat ini kecuali kembali ke kediaman Papa Jo. "Yaudah Bi kalau gitu terimakasih. Nanti kalau Floryn pulang atau telfon, tolong kasih tahu dia suruh telfon saya. Ini nomor telfon saya." Ello mengulurkan sebuah kertas yang langsung di terima oleh wanita pariuh baya di depannya.
...***...
"Kalian masih gak bisa bertemu sama Floryn?" tanya Papa Jo saat Ello dan Alex masuk ke dalam kamar Mike.
Ello dan Alex menganggukan kepalanya, lalu setelahnya mereka menjelaskan apa yang saat ini terjadi pada Papa Floryn hingga membuat gadis itu sama sekali tak bisa di hubungi.
Papa Jo hanya bisa menghela napas berat. Pandangannya kini tertuju pada sang putra yang tengah duduk melamun di atas ranjang.
Mike sama sekali belum mau membuka suara. Putranya itu justru hanya terus bergumam mengatakan jika dia sangat mencintai kekasihnya dan tak bisa hidup tanpa Floryn.
Papa Jo khawatir keadaan Mike akan semakin memburuk apalagi pria tampan itu sama sekali tak mau menyentuh makanannya.
"Trus sekarang Papa harus gimana?" tanya Papa Jo yang terlihat mulai frustasi.
"Apa sebaiknya kita ajak Deo kesini. Mungkin pria kecil itu bisa membuat Mike kembali ceria," usul Alex dan di balas gelengan kepala oleh Papa Jo dan Ello. Itu bukan ide yang bagus.
__ADS_1
"Maaf tuan. Di bawah ada Mbak Astri ingin bertemu dengan Tuan Jo."
Senyum yang sejak semalam hilang itu kini kembali terbit di bibir Papa Jo saat wanita bernama Astri datang. Papa Jo sangat berharap wanita itu bisa membantinya saat ini.