Fated To Love You

Fated To Love You
Apa Yang Terjadi


__ADS_3

Entah pukul berapa Mike tiba dirumahnya. Tapi yang pasti, saat ini langit sudah menggelap berganti malam.


"Mike, kenapa baru pulang? Papa udah nungguin kamu dari tadi." Papa Jo menyambut kedatangan Mike dengan raut wajah bahagia. Namun begitu melihat wajah murung dan penampilan kusut putranya, raut wajah bahagia itu berganti penuh tanda tanya.


"Mike ada apa nak. Apa yang terjadi?" Papa Jo mengikuti langkah kaki Mike menuju lantai dua dimana kamar putranya itu berada.


Namun bukannya menghentikan ataupun memperlambat langkahnya, Mike justru semakin mempercepat langkah kakinya. Pria dengan tubuh dan wajah acak-acakan itu bahkan tak memperdulikan pertanyakan sang ayah yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.


"Mike ada apa?" Papa Jo menahan pintu kamar putranya yang hendak di tutup.


"Pa, tolong menyingkir," pinta Mike pada sang ayah. Dia sedang tak ingin bicara dengan siapapun, termasuk dengan Papa Jo. Mike bahkan melupakan janjinya tadi siang untuk berbicara hal penting dengan sang ayah begitu tiba dirumah.


"Papa bakalan minggir. Tapi jawab dulu, kamu kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" desak Papa Jo tanpa menyingkirkan kakinya.


"Mike gak pa-pa."


"Gak pa-pa gimana? Kamu pulang dengan penampilan kayak gini, kamu bilang gak pa-pa?" Satu hal yang tak pernah Papa Jo lakukan yaitu membentak putra semata wayangnya. Namun entah kenapa saat ini, ia justru sedikit menaikan intonasi suaranya hingga membuat Mike sedikit tersentak kaget.


"Please kasih waktu Mike sendiri dulu. Mike janji bakalan bicara sama Papa kalau Mike memang udah siap," pinta Mike lagi. Dan kali ini terdengar syarat akan permohonan.


Papa Jo hanya bisa menghela nafas panjang, lalu membiarkan sang putra masuk dan mengunci diri di dalam kamarnya.


Papa Jo berjalan turun menuju ruang keluarga yang berada di lantai satu. Dia mengambil ponselnya yang berada tepat di atas meja. Lalu tanpa menunggu lama Papa Jo melakukan panggilan telepon.


Sekali, dua kali. Namun nomor yang Papa Jo tuju sama sekali tak aktif. Dan hal itu membuat rasa khawatir Papa Jo tumbuh semakin besar.

__ADS_1


"Tadi sore, nomornya aktif tapi gak di angkat sama sekali. Dan sekarang nomernya justru sama sekali gak aktif," gumam Papa Jo sembari menghela nafas frustasi.


Papa Jo baru saja mencoba menghubungi nomor telepon Floryn. Pria paruh baya itu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putranya. Karena yang Papa Jo tahu, Mike terakhir kali sedang berada di rumah Papa Floryn.


Walau sedikit tak yakin, tapi Papa Jo merasa jika apa yang terjadi pada putranya saat ini pasti berkaitan dengan Floryn.


"Apa Papa Floryn tak merestui Mike berhubungan dengan putrinya?" tanya Papa Jo pada dirinya sendiri. Namun detik selanjutnya dia menggelengkan kepalanya mantap.


"Itu gak mungkin." Lagi pula atas dasar apa Papa Floryn menolak putranya yang baik dan tampan ini. Di mata Papa Jo, Mike mempunyai jutaan nilai plus di banding pria seusianya. Bahkan sampai saat ini Papa Jo sama sekali tak melihat nilai minus pada diri sang putra.


Papa Jo mengusap wajahnya frustasi. Entah apa yang harus dirinya lakukan, Papa Jo tak tahu. Dia hanya khawatir karena selama ini ia sama sekali tak pernah melihat putranya pulang dengan penampilan sekacau ini.


...***...


Gelap sudah berganti terang. Matahari sudah tak malu-malu menampakan sinarnya saat Papa Jo mendudukan tubuhnya di ruang makan.


"Masih di kamarnya tuan. Tadi sudah Bibi panggil tapi sama sekali gak ada sahutan dari dalam kamar. Mungkin Den Mike masih tidur."


Mendengar kata tak ada sahutan dari dalam kamar membuat Papa Jo panik. Ia bangkit dari duduknya. Dengan sedikit berlari, Papa Jo menaiki anak tangga dengan tergesa.


"Mike buka pintunya." Papa Jo mengetuk pintu kamar putranya dengan tak sabaran. Tak lama, ketukan pintu itu berubah menjadi gedoran, namun seolah masih tak terdengar oleh punghuni di dalam kamar sana.


"Bi, ambil kunci cadangan di kamar saya Bi," pinta Papa Jo pada asisten rumah tangga yang sejak tadi mengekorinya.


"Sekarang tuan?"

__ADS_1


"Iya Bi sekarang." Asisten rumah tangga Papa Jo bergegas melaksanakan tugas dari majikannya. Apalagi saat ini terlihat jelas wajah tuannya yang tengah dalam keadaan sangat panik. "Bi, cepetan."


Setelah menerima kunci cadangan dari tangan asisten rumah tangganya, dengan tak sabaran Papa Jo membuka pintu kamar putranya.


"Mike.." Bukannya melihat sang putra. Papa Jo justru di kagetkan dengan kondisi kamar Mike yang terlihat sangat berantakan. Barang-barang yang biasanya berada di atas meja kini justru berserakan di atas lantai.


"Mike kamu dimana?"


Di atas ranjang yang sudah acak-acakan sama sekali tak nampak sosok sang putra. Papa Jo pun lantas beranjak menuju kamar mandi dan walk in closet. Namun lagi-lagi ia tak dapat menemukan keberadaan sang putra.


"Mike, kamu dimana?" gumamnya Frustasi. Papa Jo sudah mengambil ponsel di saku celananya untuk menghubungi Ello dan Alex. Namun teriakan asisten rumah tangganya membuat Papa Jo menggurungkan niatannya menelepon kedua sahabat Mike.


"Tuan, Den Mike ada di sini." Suara teriakan itu berasal dari arah balkon. Dengan langkah lebarnya, Papa Jo berjalan ke sumber suara.


"Astaga Mike." Papa Jo berjongkok di depan tubuh Mike yang tengah duduk meringkuk di lantai yang berada disudut balkon.


Tubuh Mike terlihat pucat, bahkan putranya itu mulai menggigil kedinginan. Entah sejak kapan Mike berada di luar kamarnya hingga membuat tubuhnya sedingin ini.


Papa Jo melihat sekitar dimana banyak puntung rokok yang berceceran. Setahu Papa Jo putranya itu sama sekali tak merokok. Tapi bagaimana bisa banyak puntung rokok disini.


Mengabaikan keadaan balkon yang di penuhi puntung rokok, Papa Jo menggendong tubuh sang putra di punggungnya dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ia punya.


"Bi, tolong bukain pintunya lebih lebar lagi."


Dengan perlahan Papa Jo merebahkan tubuh Mike di atas ranjang. Lalu membungkus tubuh sang putra agar kembali hangat.

__ADS_1


Setelah menelepon dokter dan meminta asisten rumah tangganya untuk membuat bubur, Papa Jo kembali duduk di sisi ranjang. Pandangan pria paruh baya itu menatap sendu wajah sang putra. "Sebenarnya apa yang terjadi nak?"


__ADS_2