Fated To Love You

Fated To Love You
38


__ADS_3

Setelah menandatanginya, Icha kembali menyodorkan surat perjanjian itu kepada Angga. Lalu Angga menerimanya dan melihat kalau ada bagian yang dicoret Icha pada surat itu.


Kemudian Icha berkata kalau yang dia mau dari Angga bukanlah uang. Jadi Angga tak perlu memberinya uang itu.




Angga yang tak percaya Icha berkata demikian, lalu bertanya apa yang Icha inginkan? Icha menjawab, dia hanya ingin melahirkan bayinya dan mau melakukan semua yang tertulis di surat perjanjian itu.


Lalu Angga berkata, Icha dapat tidur di ranjang dan ia akan tidur di sofa. Ia tidak mungkin tidur bersama Icha lagi, meskipun mereka sudah pernah melakukannya. Ia benar-benar tidak menyukai Icha.


Awalnya Icha menolak perintah Angga, Ia tidak enak jika Angga melakukan itu. Ini adalah rumah Angga. Biar dia saja yang tidur di sofa, tapi Angga menyangkal ia melakukan itu bukan karena Icha tapi karena bayinya. Lalu Icha menurut saja.


Kemudian Icha pergi keluar kamar, Ia duduk sendirian di halaman depan dengan perasaan sedih. Tiba-tiba ibunya menelpon dan membuat hatinya galau, bagaimana mungkin dia menerima panggilan ini, sementara hatinya tengah bersedih? Tapi Icha memutuskan untuk menerima panggilan itu, agar ibunya tidak menjadi khawatir.

__ADS_1


Dibalik telpon terdengar suara ibunya tampak khawatir mendengar suara lemah Icha. Dia bertanya, apa Icha habis menangis, kenapa suara Icha jadi serak seperti itu? Apakah Angga memperlakukannya dengan buruk? Bahkan Ibunya meminta agar dia memberikan telponnya pada Angga, biar ibunya dapat berbicara dengan Angga.


Namun Icha membantah apa yang dikatakan ibunya, dia malah berkata kalau di rumah ini dia benar-benar diperlakukan seperti putri. Angga sangat baik padanya. Jadi, mana mungkin dia merasa tidak nyaman.



Tanpa Icha ketahui, sebenarnya Angga memperhatikannya dan mendengar semuanya dari tempatnya berdiri. Namun ia bergumam takkan tertipu lagi dengan kepolosan Icha.



“Sang bayi hanya akan bahagia, jika sang ibu juga merasa bahagia.” ucap Ibunyabdari balik telepon.


Lalu Icha menjawab dia mengerti dan kembali menegaskan, kalau dia benar-benar bahagia disini "Sungguh Angga menjagaku dengan baik, Bu. Jadi Ibu tak perlu khawatir.”


Kemudian Ibunya kembali berkata, kalau Icha memang tidak punya uang dan latar belakang yang bagus, tapi Icha perlu ingat dan percaya diri bahwa setidaknya Icha punya ibu yang selalu mendukung apapun yang dilakukan putrinya. Lalu Icha mencoba sekuat tenaga menahan tangisnya dan tersenyum. Ia menjawab itulah sebabnya dia merasa aman karena dia memiliki ibu sebagai ibunya. Untuk apa lagi ia bersedih, jika ada ibu disampingnya?

__ADS_1


Telepon pun usai dan Angga masih berada di tempatnya berdiri mendengar dengan jelas apa yang Icha telah katakan. Kini, Icha bergumam untuk dirinya sendiri.


Dia berkata “Icha, kau sekarang seorang ibu, jadi kau harus kuat.”


Sambil mengepalkan tangannya keatas Icha membangun kepercayaan diri untuk mengatakan itu. Ia menyemangati dirinya untuk tegar.


Angga terusik mendengar kalimat itu. Hati nuraninya terganggu mendengar semua itu dan merasa bersalah telah melakukan hal yang membuat Icha bersedih.


Keesokkannya, nenek Angga memarahi cucunya yang memperlakukan Icha dengan dingin. Ia dapat mengetahui hal itu, meskipun Icha berusaha menyembunyikannya dan masih berkata kalau Angga adalah suami yang baik dan sangat perhatian.


Tapi Angga hanya menjawab neneknya dengan berkata, dia harus bagaimana? dia kan tidak punya perasaan pada Icha, bagaimana ia akan memperlakukan Icha dengan penuh perhatian? yang benar saja?


Mendengar penjelasan Angga, neneknya menjadi kesal dan memukul Angga. Ia meminta Angga berhati-hati kalau bicara. Bahwa dinding bisa saja punya telinga.


Kemudian Neneknya memperingatkan Angga, jangan sampai Angga tidak setia setelah menikah. Ia harus menjadi suami dan ayah yang baik. Angga menjawab iya dengan kesal. Neneknya terlalu cerewet pagi ini. Kemudian ia melangkah meninggalkan neneknya dengan hati sedikit jengkel. Ia punya banyak kerjaan di kantor.

__ADS_1


Sebelum berangkat ke kantor, Angga memberikan Icha sebuah kartu. Ia berkata, Icha dapat membeli apapun dengan kartu itu. Namun lagi-lagi Icha merasa tidak enak. Ia menolak tapi Angga memaksa, ia berkata itu untuk bayinya jadi lakukan saja apa yang ia perintahkan.


__ADS_2