Fated To Love You

Fated To Love You
71


__ADS_3

Icha segera menuju tempat pertemuannya dengan Angga. Dia sudah sampai di lokasi yang dipilih Angga dan disana pun Angga sudah menunggunya.


Icha langsung bertanya apa yang ingin Angga katakan padanya. “Peranmu sebagai cucu menantu nenekku dan sebagai istriku berakhir hari ini. Aku ingin kau pergi.” ucap Angga.


Icha menatap Angga tak percaya. Dia hampir saja menangis, tapi dia mencoba menahannya. Angga juga berkata kalau dia akan memberikan sebuah dokumen pada Icha dan dia minta Icha untuk dapat menandatanganinya. Angga bahkan dengan santainya mengembalikan cincin pernikahan mereka sebagai tanda bahwa dia sudah tak menginginkan pernikahan ini lagi.



Icha semakin terluka melihatnya. Ia pun telah salahpaham. Ternyata yang dikatakan Anin tadi padanya adalah benar. Ia telah salahpaham mengira dokumen yang Angga ingin dia tandatangani. Angga ingin dia menandatangani surat warisan untuknya dan Pangeran kecil. Tapi Icha malah mengira Angga memintanya menandatangani surat persetujuan aborsi. Itu artinya Angga memintanya membunuh anak mereka sendiri.


Icha mulai menangis dan berkata, “Saat kudengar kau hilang ingatan dan kau melupakan tentang pernikahan kita, ada yang bilang kau memang menginginkan itu. Aku tak percaya dan yakin kau tak akan semudah itu menghilangkan perasaan cinta untuk anak kita. Aku selalu dengan bodohnya membayangkan semua yang indah-indah sendiri dan aku mempercayai semua sendiri seperti orang bodoh. Aku juga berharap sendirian seperti orang bodoh.”


“Hentikan. Tidak ada yang akan bersimpati padamu meskipun kau bersikap menyedihkan seperti ini. Bukankah sudah kubilang padamu, tak ada yang bisa bersama denganmu selamanya, jadi kau harus berjuang sendiri. Icha, berapa lama memangnya kita bersama? Hanya tiga bulan. Jika kau tidak bisa melupakan waktu sesingkat itu, bagaimana kau bisa bertahan hidup di dunia ini sendirian?" Angga mengelak. Icha tak menyangka Angga sekejam itu berkata padanya.


Mereka berhenti sejenak untuk bicara. Apa yang ada di pikiran Angga tak sama dengan apa yang dipikirkan Icha. Sambil memegangi perutnya Icha beranjak dan ingin pergi. Ia pergi meninggalkan Angga. Ia tak mungkin mengabulkan permintaan Angga untuk menggugurkan bayinya. Icha sudah sangat menyayangi bayinya sehingga dia sangat ingin melahirkannya. Jika Angga tak menginginkannya biar dia saja yang merawatnya.


Tapi Angga belum selesai dengan pembicaraannya dan dia mengejar Icha. Mereka sampai diluar dekat jalan raya. Icha masih berlari menjauhi Angga. "Kenapa kau berlari dan pergi meninggalkanku?" Angga berteriak.


"Jangan memaksaku untuk melakukannya" Ucap Icha yang semakin menjauh. Tapi Angga masih mengejarnya.


“Kenapa kamu tidak mau menandatangani dokumen ini?” ucap Angga dan Icha masih mengira dokumen yang dibawa Angga itu dokumen persetujuan aborsi.


“Jangan memaksaku menandatanganinya!” teriak Icha


“Kumohon katakan alasannya. Aku membuat perjanjian ini demi kebaikanmu.” Angga mendekat ke depan Icha.

__ADS_1


“Kumohon jangan memaksaku menandatanganinya!”pinta Icha.


Icha berlari lagi tapi tiba-tiba sebuah mobil lewat, untungnya Ia selamat dan tidak terjadi tabrakan. Padahal bunyi remnya berdecit sangat keras. Angga mendengarnya dan terlihat khawatir. Tapi Icha kembali berlari menjauh dari Angga, namun saat itu mobil datang lagi dan Icha tak sempat menghindar. Icha pun tertabrak. Tubuhnya tumbang kacamatanya terlepas ke jalan. Darah mengalir dari pahanya. Angga menjerit memanggilnya. Angga panik minta tolong siapapun untuk menolong mereka.



Icha dibawa ke rumah sakit. Angga terus-terusan memanggil namanya dengan khawatir. Angga meminta dokter menyelamatkannya. Dokter mengatakan ada pendarahan dari pelepasan plasenta yang disebabkan benturan. Dokter akan mengutamakan keselamatan sang ibu. Angga diminta menandatangani dokumen aborsi. “Apa kamu memintaku merelakan bayi itu?” tolak Angga.


“Tidak ada pilihan lain.” kata dokter. Angga pun bimbang. Mereka sudah menunggu dan mempersiapkan kelahiran anaknya, bagaimana bisa kini mereka diminta untuk merelakannya. Icha mencengkeram kemeja Angga dengan tertarih Icha berkata, "Kumohon… jangan … Tidak apa-apa jika kau membenciku. Tapi jangan rebut nyawa bayi ini. Angga… Aku mohon padamu…. Ku mohon.” Icha menangis tersedu sedu. Angga juga sedih tapi ia tak punya pilihan lain. Ia mengambil penanya.


“Aku ingin melahirkan bayi ini. Jangan mengorbankan bayi ini. Kumohon! Tolong jangan renggut nyawa bayi ini. Aku mohon padamu… Ku mohon….” Icha masih terus memohon.


Meski berat hati, Angga terpaksa menandatangani dokumen itu. Kini keselamatan nyawa Icha yang paling penting. Angga pun menangis sesenggukan setelahnya. Icha masih dibantu alat pernapasan. Angga mengatakan. “ Icha, nyawamu harus diselamatkan terlebih dahulu"


Icha pun dibawa masuk ke ruang operasi. Ia masih terus berteriak meminta menyelamatkan bayinya. Angga juga ikut menangis menatap pena hadiah dari Icha dengan pena itu dia menandatangani dokumennya.


Lalu anak kecil itu tiba-tiba menghilang yanh tinggal kuda mainannya saja. Icha berteriak, "Jangan pergi Pangeran kecil! Jangan pergi"


Icha pun akhirnya siuman. Ibu dan kedua kakak perempuannya menungguinya. Mereka sangat khawatir. Icha menggenggam tangan ibunya "Ibu bayinya. Pangeran kecil, bagaimana keadaannya?”


Mereka bertiga tidak mampu memberikan jawaban pada Icha. Tapi Ayu terpaksa menjawab bahwa bayinya tidak dapat diselamatkan. Dia sudah pergi ke surga.


Icha menangis, dia berkata bukankah tadi dia sudah bilang kalau selamatkan bayinya dan jangan pedulikan dia.


__ADS_1


“Bagaimana aku bisa hidup setelah membiarkan Pangeran kecil pergi?” Icha menangis sambil bergelantungan pada ibunya. Dia meminta agar anaknya dikembalikan. Ibunya tak kuasa melihatnya bersedih sehingga dia langsung memeluk Icha. Dia berharap Icha bisa tenang. Tapi Icha terus menangis, "Dia sudah tiada bukan? Bayiku sudah tiada bukan? Aku yang paling bersalah. Aku tidak pernah bisa melakukan apapun dengan benar sejak kecil. Aku bahkan tidak bisa melindungi bayiku.” jawab Icha dengan menangis tersedu-sedu.


“Itu tidak benar.” jawab ibunya


Icha menggeleng gelengkan kepala "Karena aku bayiku…”


“Ini bukan salahmu Icha.!” jawab ibunya


Alia tak tahan lagi melihat Icha. Ia hampir menangis dan ia pun memutuskan untuk keluar. Di depan pintu Angga minta diizinkan masuk menemui Icha, tapi Alia malah menyuruh Angga pergi.


Angga bilang ia mencemaskan Icha. Ia ingin melihatnya. Sekilas saja itu sudah cukup. Angga hanya ingin melihatnya. Angga memohon pada Alia.


Suara Angga memohon untuk bertemu Icha terdengar sampai kedalam kamar Icha. Icha ketakutan mendengar suara Angga. Ia trauma dan tidak ingin Angga masuk kedalam. Ia tak mau melihat Angga saat ini. Icha memeluk ibunya erat seakan mencari pegangan untuk menguatkan diri. “Aku kehilangan bayiku. Suruh dia pergi! Jangan biarkan dia masuk!” Icha terus menangis dengan histeris.


Mendengar Icha histeris, Angga semakin merasa bersalah. Ia tetap memaksa Alia untuk mengizinkannya masuk. Tapi Alia tetap menolaknya tegas. Zaki yang berada disana pun mau tak mau akhirnya menarik Angga dan membawa Angga pergi.


Angga tampak sangat linglung, saat itu juga Anin datang menjumpainya. Anin melihat baju Angga yang ada noda darahnya.


“Angga, apa yang terjadi?” Anin tampak khawatir


“Darah itu bukan kecelakaan.” jawab Zaki


“Ada apa? Apa yang terjadi? Ada apa dengan darah di bajunya?” Anin menuntut jawaban.


“Itu darahnya Nona Icha. Dia tertabrak mobil. Dia kehilangan bayinya. Pak Angga telah menyiapkan dokumen karena dia ingin membahagiakan nona Icha. Tapi nona Icha menolak menandatanganinya dan kabur. Saat itulah kecelakaan terjadi" Sekretaris Angga yang ada disana yang menjelaskannya pada Anin.

__ADS_1


Anin shock mendengarnya. Ia merasa bersalah karena ia sudah membohongi Icha. Apa yang terjadi pada Icha, Anin merasa itu adalah kesalahannya. Anin menangisi kesalahannya.


__ADS_2