
Angga kembali ke kantor dan disana dia bertemu dengan Reza. Angga menanyakan hubungan Reza dan Icha karena waktu di Rumah Sakit mereka terlihat sangat dekat. Bukankah Icha adalah istrinya, lalu kenapa Reza bisa dekat dan datang bersama dengan Icha?
Reza tersenyum dan menjawab kalau dulu mereka juga pernah membicarakan hal seperti ini. Reza kemudian menceritakan kalau dulu Angga pernah bertanya, apa niatnya? Lalu saat itu dia menjawab kalau dia siap menerima Icha jika Angga menyakitinya. Dia mengatakan dengan jelas bahwa dia juga menyukai Icha. Tapi Icha hanya menganggapnya sebagai kakak dan orang baik. Reza kemudian menoleh menatap Angga dan berkata “Aku harap ingatanmu segera kembali, jika kau ingin tahu betapa baik dan tidak menuntutnya Icha. Jika kau terlambat, kesempatan itu akan hilang. Selamanya. Aku akan mengambil kesempatan itu”
Angga terperangah mendengar ucapan Reza. Bagaimana mungkin Reza bisa senekat itu ingin merebut istrinya? Apa kelebihan Icha sehingga Reza juga menginginkannya? Angga merasa terusik dengan perkataan Reza. Bagaimana ia bisa terusik padahal tidak ada cinta diantara mereka. Pikir Angga.
Lalu Angga menghubungi Anin dan mengajaknya untuk makan siang bersama di sebuah restoran. Anin berkata kalau dia tidak peduli dengan pernikahan kontrak antara Angga dan Icha. Ingat atau tidaknya Angga nanti, dia tetap tidak peduli jadi dia meminta Angga tidak usah khawatir dan istirahat saja sampai ingatannya kembali.
Saat mereka menyantap sajian makan siang tiba-tiba ada yang datang mendekat. Dia menyapa Angga dengan sebutan Ayah Angga. Ternyata dia adalah instruktur di kelas hamil. Angga bertanya heran karena dia tidak mengingat siapa perempuan yang menyapanya “Kau kenal aku?”
Instruktur itu menjawab tentu saja dia kenal dan berkata mana mungkin dia lupa pada peserta kelas hamilnya. Angga masih menatap dengan aneh sementara Anin tampak sedikit kecewa mengetahui Angga ikut kelas hamil bersama Icha. Lalu Instruktur itu bertanya bagaimana kabar Icha. Dia kemudian menoleh menatap Anin dan berkata dalam hatinya “Apa dia sedang berselingkuh dengan perempuan lain?”
Anin merasakan ada yang aneh dengan tatapan Instruktur itu. Dia merasa tidak nyaman. Dia tidak terima dilihat seperti pelakor dan dia langsung pergi. Angga ikut kesal dan memarahi Instruktur itu karena sudah menganggu makan siangnya. Kemudian dia pergi menyusul Anin.
__ADS_1
Angga memegang lengan Anin dan menghentikannya. Dia meminta maaf dan Anin menjawab dengan kesal “Apa saja yang kau lakukan? Kau bilang dia materialistis, kau bilang ini hanyalah pernikahan kontrak. Maka segera selesaikan. Aku bahkan kembali untukmu, lalu apa ada masalahnya?”
Anin juga berkata kalau itu masalah anak, dia akan merawat anak Angga itu seperti anaknya sendiri. Maka seharusnya sudah tidak ada masalah lagi. Dia mau Angga segera bercerai. Tapi Angga menjawab kalau dia butuh waktu lagi. Dia tidak yakin apakah bercerai adalah langkah terbaik untuk anaknya.
“Kenapa kau membutuhkan waktu lagi? Aku bahkan berhenti bermain piano dan meninggalkan impianku hanya untukmu. Lalu kenapa kau ragu-ragu?" Anin kesal dan melepaskan tangan Angga yang masih berada di lengannya. Ia pergi sambil menangis dan Angga hanya bisa terdiam membiarkannya pergi.
Angga pulang ke rumah, dia masuk ke kamarnya dan melihat buku diary bayi. Angga mengambilnya dan membacanya.
Di lembar lain juga tertulis “Pangeran kecil... Ibu ingin menjadi Ibu yang kuat untukmu. Tapi terkadang Ibu takut.”
Di lembar lainnya tertulis “Pangeran kecil… Bertemu dengan ayahmu adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada Ibu. Ayahmu seperti pangeran bagi ibu. Tidak heran ibu memanggilmu Pangeran kecil. Ayah adalah pria terbaik di dunia. Dia seperti pangeran tampan."
__ADS_1
Saat Angga kehilangan ingatannya, Icha menulis "Maaf soal hari ini. Paman Reza menemani Ibu ke pemeriksaan rutin kali ini. Ayahmu sedang sakit. Jadi ayahmu tidak bisa datang hari ini. Ibu mohon jangan marah ya. Untukmu ayahmu sudah membelikan kuda kayu yang menakjubkan. Ibu bisa melihatmu duduk santai di kuda kayu dan tersenyum. Ayahmu menjagamu sepenuh hati. Hari itu akan datang bukan? Entah kenapa hari ini ibu sangat merindukan ayahmu. Melihat ayah lain bersama anak anak mereka di rumah sakit membuat ibu agak iri."
Entah mengapa membaca tulisan itu membuat air mata Angga bergulir membasahi pipinya. Angga mengusap air matanya dengan heran. Kenapa dia bisa menangis. Angga membuka bagian akhir diary itu, Angga tambah menangis tersedu sedu. Saat membaca tulisan. Ayah Angga, Bunda Anin.
Icha seperti sudah mempersiapkannya. Ia ingat sekali bahwa dia harus pergi setelah kontrak perjanjian itu berakhir. Meskipun ia melahirkan anaknya tapi setelah itu ia harus menyerahkannya pada Angga. Hatinya sakit tapi kebahagiaan anaknya yang utama. Anaknya akan mendapat lebih banyak berkat jika mempunyai ibu hebat seperti Anin.
Angga meneteskan air mata haru sambil mengelus diary itu dan berkata "Pangeran kecil Ayah di sini…"
Lalu Angga juga bergumam tentang Icha, “Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia menulis ini? Benar. Aku hanya memberinya kenangan sedih. Maafkan aku. Dia sudah menderita karenaku”
Lalu Angga ingin melakukan tugasnya sebagai seorang ayah. Ia merakit kuda kayu mainan yang ia beli saat bersama Icha. Ia masih belum sempat merakitnya. Ia merasa buruk sebagai seorang ayah. Bagaimana bisa ia membuat kontrak perjanjian itu?
__ADS_1