
Icha tak tahu harus bagaimana. Tapi yang jelas dia memilih untuk pergi meninggalkan ruang lelang tersebut. Reza menatap kepergian Icha heran. Sementara Angga langsung menyusulnya. Angga menghentikan langkah Icha. Dia bertanya ada apa? Icha menjawab kalau dia tampak seperti orang bodoh. Angga bertanya kenapa?
Icha hanya bisa menatap Angga dan berkata “Ini pertama kalinya aku benar-benar menginginkan seseorang. Semakin kau baik padaku, semakin aku ingin memiliki dirimu. Jika aku terus seperti ini, aku tetap tidak akan bisa hidup bersamamu dan Pangeran kecil. Jadi aku hanya bisa memimpikan kebahagiaan yang dimiliki pasangan lain. Kemudian, aku akan mengharapkan hal yang tidak mungkin. Aku sadar, aku seperti orang asing yang tak diundang dalam hidupmu dan selalu memberimu masalah. Angga kita … kurasa kita harus berhenti sampai disini. Jangan lakukan ini lagi.”
Icha mulai berbalik dan akan melangkah pergi, tapi tangan Angga menarik lengannya. Dia kemudian tersenyum lalu berkata “Icha, sejak kapan kau jadi egois? Sejak kapan kau hanya memikirkan apa yang kau inginkan dan tidak peduli pada perasaan orang lain? Bagaimana denganku? Bagaimana perasaanku? Aku semakin memikirkanmu saat kau meminta jangan mempedulikanmu. Aku juga merasa tidak nyaman saat tidak melihatmu. Aku bahkan tersenyum saat kau tersenyum dan menangis ketika kau menangis. Bagaimana dengan perasaanku itu? Tidakkah kau mengerti aku?”
Icha menggeleng dan berkata tidak, tapi entah mengapa Angga selalu mampu mengejutkannya, Angga berkata, "Karena kau selalu sangat baik padaku, aku sampai lupa bahwa suatu hari nanti aku harus berpisah denganmu.”
Icha mengeluarkan air mata, lalu melanjutkan kalimatnya “Aku takut bahwa aku tidak akan mampu melepaskanmu pada saat itu dan aku takut... Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tahu seharusnya aku tidak boleh merasa seperti ini.”
Angga tak menunggu lanjutan kalimat Icha karena dia langsung menciumnya. Icha terkejut tapi dia tak menolak. Tubuhnya melembut seiring lembutnya ciuman Angga di bibirnya. Tiba-tiba Angga berhenti dan menatap Icha. Lalu dia berkata “Di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi untukku”
Setelah selesai berkata seperti itu Angga kembali mencium bibir Icha. Awalnya pelan, tapi kemudian ciuman itu menjadi panas karena Icha ikut membalas setiap pagutan mesra Angga di bibirnya. Mereka begitu rapat dan seolah tak terpisahkan. Seperti sudah diberi lem super.
Setelah selesai ******* bibir satu sama lain, mereka kini duduk di anak tangga. Angga bertanya apa Icha tidak ingin memujinya? Icha balik bertanya memuji tentang apa?
Angga menjawab bukankah tadi dia berhasil mendapatkan kalung itu dan dia akan memberikannya pada Icha. Dia memperjelas kembali bahwa dia yang memberikannya bukan si playboy teri itu. Sambil tersipu malu Icha mengucapkan terima kasih dan menyebut bahwa Angga lah yang terhebat. Dia juga mengacungkan dua jempolnya dan Angga tentu saja senang. Angga membalas dengan ucapan dan gerakan yang sama.
__ADS_1
Lalu Angga bergerak menggeser duduknya mendekati dan berkata siputnya sudah kembali seperti biasanya. Istrinya, Anisa Icha. Kemudian Icha tersipu mendengar Angga mengatakan hal tersebut. Angga lalu berdiri dan mengulurkan tangannya mengajak Icha pergi makan malam yang enak seperti yang ia janjikan sebelum Pangeran kecil merengek lapar di dalam sana. Ia berkata sambil menunjuk ke perut Icha, tempat dimana anaknya berada. Ia takkan membiarkan anaknya kelaparan.
Icha tak menolak, dia menyambut uluran tanga Angga. Mereka pergi menuju Restoran mewah yang indah dan Angga melayani Icha layaknya seorang putri. Ia bahkan memotongkan stik untuk Icha makan dan menyuruh Icha untuk makan dengan banyak karena Icha harus mengisi energinya untuk menjadi kuat.
Setelah makan malam yang romantis, mereka kembali pulang ke rumah. Icha langsung tertidur karena lelah. Sementara Angga sedang berusaha menyusup ke dalam selimut seperti jalannya siput. Setelah sampai di dekat tubuh Icha, Ia mendapatkan keberuntungan karena Icha tak sadar memeluknya dalam tidur. Angga jelas merasa ini sangat menyenangkan.
Gairah jelas sudah meluap sampai ke ubun-ubun kepala Angga, sebab Icha yang memeluknya tapi dia tetap menahannya. Dia bahkan mengedipkan matanya pertanda ini benar-benar durian runtuh baginya. Tapi tiba-tiba Icha mengigau memanggil nama Pangeran kecil.
Angga menjadi frustasi, dia tidak bisa menyalurkan hasratnya karena Icha tidur dengan sangat lelap. Padahal tadi dia sudah mendapatkan ciuman maka itu bisa menjadi kesempatan baginya menginginkan hal lain dari istrinya seperti layaknya pasangan suami-istri lainnya. Namun tetap saja dia tak bisa mendapatkannya. Ia tak ingin memaksa dan membangunkan Icha. Ia hanya memilih menatap Icha yang terlihat sangat manis saat tertidur.
Akhirnya dia memilih mandi air dingin di malam-malam seperti ini untuk meredam hasratnya. Dinginnya air akan membuat kesadarannya kembali, dan gairahnya yang meluap tadi pasti akan pergi. Angga merasa aneh dan merasa ada orang lain merasuki dirinya sehingga dia menginginkan hal yang aneh-aneh di tempat tidur bersama Icha. Ia terlihat menjadi seperti orang lain. Oleh karena itulah Angga berteriak menyuruh orang lain di tubuhnya untuk pergi menjauh dari dirinya.
Keesokan paginya dengan wajah seperti vampire kekurangan darah Angga menemui dokternya, seorang psikiater. Setelah bertemu dengan Icha, Angga jadi sering menemui Psikiater. Dokter bertanya kenapa Angga datang pagi-pagi?
“Dokter, di dalam ada diriku yang lain. Dia sangat buas, dan tengah menunggu kesempatan yang tepat…” ucapnya terengah-engah
__ADS_1
Kalimat Angga terputus karena tiba-tiba secara mengejutkan seperti monster ia berdiri dan berteriak di depan wajah sang dokter. Dokter jelas saja heran. Tapi kemudian dia kembali duduk dan berkata kalau itu tadi adalah dirinya yang lain dan dirinya yang lain hampir saja keluar. Dia seperti psikopat yang memiliki banyak kepribadian. Dia mengadukan setiap kegelisahannya pada dokter itu.
Dokter bertanya apa gejala yang Angga alami? Anga menjawab “Siput yang seksi, siput yang lucu. Dia membuatku menginginkannya”
Dokter bertanya heran, benarkah? Lee Angga tidak menjawab dan malah memberitahu dokter kalau dia bahkan sudah mencium siputnya itu. Sejak saat itulah dia merasa tubuhnya selalu terbakar setiap dia melihat siput (Icha). Angga kembali histeris dan meminta dokter untuk segera menyembuhkannya.
Dokter menjadi bertambah bingung, terlebih Angga berkata kalau siput sudah ada disini. Lalu dengan tenang dokter berkata kalau memang sulit untuk pria normal yang ternyata mencintai siput. Tapi akan alami saja jika manusia menginginkan sesuatu. Apalagi sesuatu itu adalah yang kita sukai.
“Saat siput memujiku, jantungku berdegup kencang dan aku menjadi gugup. Dan aku jadi sangat menginginkannya.” imbuh Angga lagi
Dokter lalu berkata, satu-satunya cara yang harus dilakukan Angga adalah mengendalikan semua itu dan membuat dirinya tenang. Lalu Angga bertanya bagaimana caranya?
Dokter menyarankannya untuk membaca alkitab, dengan membaca alkitab maka diri Angga akan menjadi tenang dan hasratnya bisa dikendalikan. Angga mematuhinya. Dia bahkan mencoba menyanyi sebagai bentuk keseriusannya dalam mempelajari alkitab yang berserakan di meja kerjanya.
Tapi tiba-tiba wajah Angga berubah panik dan ketakutan. Dia mencoba melirik pundaknya dan dia sudah kembali mengkhayal bahwa ternyata sudah ada siput pink cantik berjalan pelan diatas pundaknya. Merangkak perlahan-lahan. Angga mencoba mengambil siput di pundaknya tersebut dan menariknya, tapi siput itu terlalu kuat melekat di pundaknya.
Angga berusaha melepas siput yang menempel dengan lem super itu dan berhasil mengambil siput tersebut, tapi saat dia menatap tangannya, tak ada apapun. Kosong. Nihil. Itu hanya imajinasinya saja.
__ADS_1