
Melihat wanita yang sangat dia rindukan ada di hadapannya, membuat tubuh Mike tanpa di komando berjalan mendekat, bahkan terkesan sedikit berlari.
"Sayang....." Walaupun sangat rindu, Mike hanya bisa merengkuh tubuh Floryn dengan satu tangannya, karena saat ini masih ada Deo di dalam gendongannya.
"Aku kangen banget sama kamu." Lagi, tanpa di komando air mata luruh di wajah pria berkaos hitam itu.
Rindu yang sejak beberapa hari ini hanya bisa dia tahan, kini akhirnya bisa terobati sepenuhnya. Bisa melihat dan memeluk Floryn adalah keinginan yang terpaksa dirinya tekan dan pendam beberapa hari ini.
Saat tengah asih menumpahkan seluruh rasa rindunya, pandangan Mike tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya yang berdiri tepat di lorong pembatas antara ruang tamu dengan ruang keluarga.
"Mama," gumam Mike lirih. Pria itu melepaskan pelukannya. Dia tak menyangka jika wanita yang juga dirindukannya selama belasan tahun itu kini ada di rumahnya.
Masih belum bisa mempercayai apa yang dia lihat, membuat tubuh Mike melangkah mundur dengan sendirinya.
Mike rindu, tapi untuk saat ini dirinya belum siap untuk bertemu sang Mama. Hatinya ingin melangkah dan merengkuh wanita paruh baya itu. Tapi otaknya justru mengingatkan sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Sekarang ia bukan hanya menjadi Mamaku, tapi juga Mama Floryn.
"Mike...." Hanya satu kata terucap dari bibir Mama Sita dan itupun sangat lirih bahkan mungkin tak ada satu pun orang yang tahu kecuali melihat gerak bibir wanita berdress biru dongker itu.
Kedua mata Mama Sita sudah berembun. Dari sorot matanya, Mike bisa melihat kerinduan yang mungkin sama besarnya dengan kerinduan yang Mike rasakan saat ini.
Sebenarnya Mike sendiri bingung, harusnya dia berlari mendekat dan memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. Namun yang terjadi justru kakinya melangkah semakin jauh.
__ADS_1
"Mike kenapa manggil Mama." Suara dari arah belakang membuat Mike tersadar dari dunia lamunannya. Pria yang masih dalam mode tubuh dan wajah acak-acakan itu menatap ke arah sumber suara.
"Kenapa nyariin Mama?" tanya Mama Rani lagi. Beberapa saat yang lalu saat sedang memasak dengan Mom Lisa, Mama Rani mendengar Mike berteriak memanggil, hingga dirinya pun memilih lanung mencuci tangan dan bergegas menemui Mike untuk mencari tahu alasan pria tampan itu memanggilnya.
"Ah, ini Ma. Deo pup. Mike gak bisa gantiin diapersnya. Mangkanya Mike nyariin Mama," ujar Mike begitu mengingat alasannya turun ke lantai satu.
"Yaudah sini, biar Mama yang gantiin diapersnya."
Mike tersenyum menatap pria kecil di gendongannya. Begitupun sebaliknya, Deo juga membalas senyuman Mike dengan tawa riang hingga dirinya harus pasrah di hadiahi beberapa kecupan dari sang Papa, Mike.
"Jangan nakal ya," ucap Mike sebelum akhirnya memberikan Deo pada Mama Rani.
Mike kembali menatap ke arah Mama Sita. Namun dirinya justru heran saat melihat sorot mata kerinduan itu berubah menjadi kesedihan.
Mungkin Mama Sita kecewa karena dia tak memeluknya seperti Mike memeluk Floryn. Atau justru ada alasan lain? Entahlah Mike sama sekali tak tahu. Lama tak bertemu membuat Mike tak bisa menduga apa yang sedang Mama kandungnya rasakan saat ini.
Lama mereka berempat dalam keheningan. Bahkan semua masih dalam posisi sama. Papa Jo dan Floryn di tengah ruang keluarga, sedangkan Mike dan Mama Sita berada di sudut yang saling berlawanan.
"Boleh Mama peluk kamu Nak?" Akhirnya Mama Sita memecahkan keheningan dengan mengungkapkan keinginannya.
Mike hanya diam. Tak menjawab iya, namun juga sama sekali tak mengucap kata penolakan. Hingga beberapa detik selanjutnya tubuhnya sudah berada di pelukan Mama Sita. Pelukan hangat yang sudah Mike rindukan sejak belasan tahun lamanya.
__ADS_1
Mike tak membalas pelukan itu. Namun dia menikmatinya, menikmati pelukan dari wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Maafkan Mama sayang. Sudah sejak lama Mama tak menemuimu. Mama harap kamu mau berlapang dada memaafkan kesalahan Mama yang memang sudah terlalu besar." Mama Sita memeluk Mike erat. Setelah belasan tahun hanya bisa memeluk Mike dalam mimpi, akhirnya saat ini Tuhan bermurah hati, membiarkannya menumpahkan segala rindunya pada sang putra.
Sesaat hanya terdengar isakan tangis bersamaan dengan permintaan maaf dari Mama Sita yang entah sudah berapa puluh kali terucap.
"Maafin Mama Mike." Mama Sita menciumi seluruh wajah putranya. Pria kecilnya kini sudah tumbuh menjadi pria berwajah tampan dengan tubuh menjulang tinggi.
Selama belasan tahun hanya bisa memantau sang putra dari jarak jauh membuat pertemuan mereka kali ini begitu berkesan di hati Mama Sita. Kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan kini mulai muncuk kembali di hatinya.
Mama Sita tak akan membiarkan sedetikpun pandangannya beralih dari sang putra. Dirinya hanya akut jika larangan bertemu sang putra akan kembali muncul seperti sebelum-sebelumnya.
Sejak dulu harapan Mama Sita hanya satu, bisa berada di sisi Mike dan menjadi ibu yang baik untuk putranya itu.
Mama Sita tahu saat ini Mike tak membalas pelukannya, namun semua itu tak lantas melunturkan kebahagiaannya. Mama Sita sadar dirinya salah karena tak memperjuangkan kebenaran, hingga untuk saat ini dirinya memaklumi jika sang putra masih menaruh kemarahan padanya.
"Ehem...." Papa Jo berdehem untuk menetralkan suaranya. Pria paruh baya itu merasakan kesedihan sekaligus kebahagiaan yang sama seperti mantan istri dan anaknya.
Bahkan saat melihat kedua orang yang sangat dicintainnya itu saling berpelukan berhasil membuat air asin lolos begitu saja dari kedua kelopak matanya. Perasaan bersalah itu masih bercokol di hatinya.
"Mike, sepertinya kamu dan Mamamu perlu berbicara empat mata."
__ADS_1