Fated To Love You

Fated To Love You
33


__ADS_3

Pagi ini, Angga masih tertidur pulas. Dia bahkan tidak sadar bahwa Icha tak lagi bersamanya diruangan itu bahkan jas yang dikenakannya pada Icha kemarin sudah kembali padanya.


Tiba-tiba ia terbangun karena gigitan nyamuk. Dia kesal sekali kenikmatannya tidur yang sudah lama tidak ia rasakan, malah terganggu karena adanya nyamuk. Dia berteriak kesal kalau dia akan membunuh semua nyamuk yang mengganggunya.


Saat seperti itulah Angga baru tersadar, kalau Icha sudah meninggalkannya dan pergi sendirian. Dia pun mencoba memanggil-manggil nama Icha, namun tak ada sahutan. Lalu Angga mendapati secarik kertas yang merupakan pesan dari Icha.


Pesan itu berbunyi “Aku akan ke rumah sakit. Jadi tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja.”



Angga semakin panik setelah membaca surat itu. Kenapa Icha tidak mendengarkannya semalam? Bukankah ia jelas-jelas sudah berkata akan pergi bersama dengan Icha. Lalu kenapa Icha nekat pergi sendiri dan meninggalkannya? Ia kemudian bergegas keluar mencari Icha.


Pertama ia menuju rumah Icha. Ia mencari Icha disana dan berkata pada Ibu Icha bahwa Icha sudah menghilang dan hanya meninggalkan pesan ini. Ia memberikan kertas yang ditinggalkan Icha pada Ibunya.



Ibu Icha juga ikutan panik. Mereka bergegas mencari Icha dan menyusul kerumah sakit. Ia harus segera menghentikan Icha melakukan sesuatu yang dapat membahayakan Icha.


Kini Icha sudah tiba dirumah sakit Bersalin. Dia awalnya sedikit ragu, tapi kemudian dia memantapkan niatnya dan segera melangkah masuk. Disana Ia melihat banyak perempuan yang ditemani pasangannya.


Kemudian teringat oleh Icha mengenai Angga. Ia sudah meninggalkan Angga padahal Angga sudah berkata akan menemaninya.


Lalu Icha berjalan mendekati bagian registrasi dan berkata kalau dia mau operasi. Icha berkata dengan suara sangat lirih sehingga staff bagian pendaftaran tidak dapat mendengar dengan jelas dan meminta Icha mengulanginya.


Icha menunggu dirinya dipanggil. Ia hampir saja menangis dan berdoa didalam hatinya dengan sepenuh hati,

__ADS_1


"TUHAN tolong kasihani bayi yang bertemu dengan ibu buruk sepertiku. Tolong ijinkan dia pergi ke tempat yang indah dan menyenangkan.” Icha menangis dalam doanya, dia kemudian meminta maaf pada Tuhan karena terpaksa melakukan ini dan tidak bisa melindungi bayi di rahimnya ini.



Sementara Angga masih mencari-cari dimana Icha berada?


Lalu Angga berakhir di depan rumah sakit Bersalin tempat Icha berada. Dia langsung masuk dan segera ke bagian pendaftaran untuk bertanya apa ada pasien bernama Anissa Icha disini? Staf meminta Angga untuk menunggu terlebih dahulu.


Saat sedang menunggu itulah, Angga melihat sepasang kekasih yang baru saja melakukan aborsi. Telihat si perempuan memukul dada kekasihnya karena aborsi tadi sangat menyakitkan dan si lelaki hanya bisa meminta maaf.


Angga langsung teringat pada Icha dan merasa Icha pasti juga merasakan sakit seperti perempuan itu. Staff registrasi kemudian berkata kalau memang ada pasien bernama Anissa Icha yang saat ini sedang konsultasi dengan dokter. Angga pun bergegas menuju ruang dokter dimana Icha berada.


Icha saat ini sedang tengah diperiksa kandungannya. Dokter memintanya jangan gugup. Di layar tampak janinnya yang masih kecil.


Dokter menjelaskan kalau sang bayi ukurannya masih 0,2 cm. Icha pun ikut melihat ke layar dan berkata pada dokter, apa bayinya sekecil ini?


Dokter tersenyum dan menjawab kalau ukuran janin Icha jauh lebih kecil dari yang ia bayangkan. Dokter juga menjelaskan kalau janin biasanya akan mengenali suara orang tuanya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah Angga. Tampak wajah Angga yang panik dan merasa lega karena berhasil menemukan Icha


"aku sudah bilang, kita akan pergi bersama dan menemanimu" ujarnya sambil terengah-engah.


Dokter yang melihat seorang pria masuk tanpa izin langsung bertanya siapa pria ini? Ada urusan apa? Angga bingung harus menjawab apa.


Dia kemudian berkata dengan terbata-bata “Aku… aku… aku ayah si bayi.”

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara aneh. Suara detak jantung dan Angga mencoba mencari sumber suara. Dia bertanya pada dokter suara apa itu? Dokter menjelaskan kalau itu suara detak jantung bayinya.


Angga pun menatap layar monitor dan melihat bahwa benar ada tanda detak jantung bayinya disana. Detak jantung bayinya yang terdengar nyaring dan menggugah perasan. Bayi yang masih sangat kecil itu sudah memiliki detak jantung kehidupan.


Icha juga merasakan hal yang sama. Mengetahui bayinya masih berukuran sangat kecil, membuatnya tak tega melakukan aborsi. Terlebih dia mendengar suara detak jantung bayinya.


Ya, bayinya hidup dan sekarang dia malah ingin menggugurkan bayinya ini. Mereka benar-benar akan menjadi orangtua yang kejam.


Namun tetap saja mereka sepertinya tidak peduli dengan tergugahnya perasaan mereka akan janin tak bersalah ini. Mereka tetap akan melakukan aborsi. Dokter menjelaskan kalau di pasal 14 menurut UU kesehatan ibu dan anak, aborsi diijinkan selama ibu dan ayah si bayi menyetujui dan karena kehamilan ini tak disengaja akibat hubungan yang terjadi di bawah pengaruh alkohol.



Icha langsung membenarkan dan Angga hanya bisa menatap Icha. Dia akhirnya ikut membenarkan apa yang dikatakan dokter. Icha benar-benar sungguhan dengan keputusannya.


Dokter meminta Icha menandatangani sebuah dokumen sebelum operasi dilakukan. Icha pun bergegas menandatanginya dan Angga lagi-lagi hanya bisa menatap Icha. Dia heran, kenapa Icha tampak santai dan tak merasa bersalah melakukan aborsi ini?



Kini Icha sudah masuk ke ruang operasi dan Angga menunggunya di luar dengan cemas. Angga tampak memandangi foto janin anaknya saat diperiksa tadi. Angga teringat kalimat Icha kalau foto ini adalah foto janin anak yang dia dan Icha buat. Dia juga teringat kalimat Icha semalam kalau dia tidak mau anak mereka lahir tanpa berkat. Angga terngiang-ngiang dengan kalimat itu. Ia juga merasa bersalah.


Reza datang dan menghampiri Angga yang tampak linglung. Ia bertanya, ada apa? Kemudian Angga berkata jika Icha sudah memutuskan untuk menggugurkan bayi yang dikandungnya.


Reza tak mengira Icha akan mengambil keputusan itu. Lalu tiba-tiba saja Angga menyerahkan foto janin itu pada Reza, Lalu Reza heran dan bertanya kenapa Angga berikan ini padanya? Angga tak menjawab. Dia hanya berdiri dan seolah tahu kalau dia harus menghentikan Icha. Dia harus menghentikan aborsi yang akan dilakukan Icha.


__ADS_1


Ia bergegas berlari keruangan operasi dimana Icha akan menggugurkan kandungannya. Ia harus sampai sebelum dokter membelah perutnya dan mengeluarkan janin itu. Ia harus berlari secepatnya.


__ADS_2