
Malam harinya Angga tidak bisa tidur, sebab Ia mendengar suara aneh berasal dari wilayah Icha tidur. Suara itu seperti suara di film horror, dimana ada tawa menakutkan yang di dengarnya. Tawa melengking persis tawa para setan di film horror. Angga berjalan mengendap-endap memeriksa suara yang Ia dengar. Tapi ternyata yang membuat suara menyeramkan itu adalah Icha.
Icha dengan rambut terurai yang ditaruh didepan wajah, mencoba membaca buku cerita yang dibelinya. Dia tampak menghayati peran dalam buku cerita tersebut. Angga lega melihat Icha, kemudian mendekat dan sedikit kesal. Dia memarahi Icha yang malam-malam begini bukannya tidur malah membuat suara menyeramkan seperti hantu. Bagaimana bisa dia tidur mendengar suara seperti itu?
Lalu Angga mendekat dan duduk di samping Icha. Ia bertanya pada Icha, sedang apa? Icha menunduk malu dan berniat tidak memberitahu kalau dia tengah membaca buku cerita. Tapi Angga mendesak dan memaksa, sehingga akhirnya dia berterus terang dan memberitahu Angga.
Icha memberitahu kalau membaca buku cerita bagus untuk bayi dalam kandungan dan Angga merasa tertarik. Dia mengambil buku bacaan itu dan melihat isinya. Angga merasa aneh karena gambar di dalam buku cerita ini sangat menyeramkan. Bukankah masih banyak buku bacaan yang ceria dan lucu?
Tapi akhirnya Angga melanjutkan membaca buku cerita itu untuk anaknya. Anak yang masih berada dalam kandungan Icha. Sementara Icha senang mendengar Angga yang mau membacakan cerita untuk bayi mereka.
Selesai membacakannya, Angga berkata “Jangan hidup seperti gadis pos-it. Saat kau hidup bersamaku dan menjadi orang yang tak berarti, bukan seperti itu maksudku. Kau adalah lem super. Apa kau lupa itu? ”
Tiba-tiba saat Angga akan bangkit berdiri dan pergi, Ia menginjak salah satu mainan karet yang membuatnya terpeleset. Angga pun seketika terjatuh dan berteriak kesakitan sambil memegangi punggungnya. Icha ikut menjadi panik dan mencoba membantunya.
Melihat Angga kesakitan, membuat Icha merasa tidak enak dan berkata kalau lebih baik Angga tidur di ranjang. Biar dia yang tidur di sofa, pasti tidak nyaman selama ini Angga sudah tidur di sofa dan Icha pun berniat pergi.
__ADS_1
Sebelum Icha melangkah pergi. Seketika Angga tampak sehat dan mencegah kepergian Icha. Dia menarik tangan Icha dan membuat Icha terduduk kembali di kasur dan kini tengah berhadapan dengannya.
Angga memarahi Icha dan menyebutnya bodoh. Apa bisa wanita hamil tidur dengan nyaman di sofa? Lalu Icha menjawab kalau dia tahu, Angga juga tidak nyaman tidur di sofa. Kemudian dengan gugup Angga mengusulkan agar mereka tidur bersama saja. Lagipula mereka sudah pernah dua kali melakukannya.
Icha terkejut dan Angga langsung meminta jangan salah paham. Mereka tidur bersama hanya sampai bayi itu lahir. Daripada tidur terpisah dan tidak nyaman satu sama lain. Angga berkata kalau dia tidak akan menyentuh bahkan untuk sehelai rambut pun.
Melihat ekspresi kebingungan Icha. Lalu Angga bertanya, apa Icha punya perasaan aneh padanya? Icha langsung menghindar dengan menggeleng cepat dan menjawab tidak. Dia tidak punya perasaan aneh pada Angga.
Angga juga tertawa dan mengatakan hal yang sama. Dia juga tidak punya perasaan apapun pada Icha. Kemudian berkata “Kalau begitu kita bisa tidur bersama di ranjang ini, seperti sepasang benda.”
“Ya.. seperti benda.” Jawab Icha sambil tersenyum.
Icha mengangguk dan menyetujui ide gila tersebut. Merekapun akhirnya berbaring di ranjang yang sama dan sama-sama menggumamkan kalau mereka adalah benda. Ya, sepasang benda.
Saking kikuknya, mereka saling berbalik dan membelakangi satu sama lain. Angga berkali-kali mensugesti diri, kalau dia hanyalah benda. Dia mencoa memejamkan matanya sambil terus bergumam “hanyalah benda.. hanyalah benda… Benda yang tak punya perasaan"
__ADS_1
Icha juga melakukan hal yang sama, dia kemudian berbisik pada dirinya sendiri “Ini pasti bukan rasa gugup, ini ketidaknyamaan. Ya, ketidaknyamaan. Aku tidak punya perasaan aneh"
Mereka seperti itu beberapa saat dan sampai seterusnya. Sampai akhirnya keduanya berbalik bersamaan dan sama-sama terkejut.
Mereka sama-sama merasakan jantung yang berdetak kencang. Berdebar dengan irama yang berbeda dari biasanya. Akhirnya Icha bangkit dan berkata kalau lebih baik dia tidur di sofa saja. Itu lebih baik. Tapi tangan Angga menariknya dan tiba-tiba memeluk tubuhnya. Icha terkejut mendapati Angga memeluknya erat.
Terbesit dalam pikirannya, Apakah Angga punya perasaan padanya? Namun secepat mungkin Ia tepis. Tidak mungkin Angga punya perasaan padanya sementara di hati Angga masih ada Anin.
Angga masih memeluknya semakin erat dan berkata kalau ini menyalahi kesepakatan mereka tadi.
“Jangan pedulikan aku. ” ucap Angga sambil melepaskan pelukannya secara tiba-tiba. Icha tentu merasa heran degan perlakuan Angga yang berubah 180 derajat hanya dalam hitungan detik. Ini juga berarti pikirannya benar. Tak ada perasaan Angga untuknya.
Lalu mereka berusaha agar bisa terpejam malam ini tanpa suara detak jantung yang dag dig dug dan tentu mengganggu bagi keduanya. Angga menutupi wajahnya dengan bantal sementaraIchah berbalik membelakanginya sambil menarik selimutnya. Hatinya juga masih berdebar tak karuan.
Angga kemudian kembali melihat Icha, tapi ternyata Icha sudah pulas tertidur. Dia merasa heran bagaimana bisa Icha tidur dalam keadaan seperti ini dan berkata “Dasar Siput.”
__ADS_1
Kemudian dia menepuk-nepuk pundak Icha berharap tidurnya semakin terlelap. Lalu saat itu juga Ia ikut tertidur di samping Icha.
Di pertengahan malam kembali terlihat mereka sedang tertidur pulas dan saling berpelukan tanpa mereka sadari.p