
Icha terlihat bahagia saat menggendong bayi Alia.
“Kenapa kamu tidak menggendong bayinya?” tanya Alia pada Angga yang hanya melihat Icha.
“Aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana jika aku melukainya?” jawab Angga cemas
“Gendong saja. Kamu tidak akan melukainya. Kamu tidak hanya menyelamatkan pabrik, tapi juga membantu bayiku lahir ke dunia ini.” Lalu Angga dan Icha menggendong bayi Alia bersama.
“Kalian berdua lebih mirip sebagai orang tua.” Canda Alia. Lalu Angga tersenyum pada Icha.
Setelah memberikan bayinya kembali pada Alia. Icha mendekati Angga dan berbicara padanya. Angga berbalik dan menatap Icha. Lalu Icha mengucapkan terima kasih pada Angga. Terima kasih karena sudah menyelamatkan pabrik dan meminta maaf karena sudah bersikap seperti tadi sampai Ia membuat Angga khawatir dengan pergi dari rumah.
Lalu Icha kembali teringat kejadian saat mereka di Bali, saat Angga membantunya dan menjadikan Icha sebagai lem super. Ia sangat berterima kasih karena Angga lah yang selalu menyuruhnya menjadi lem super, disaat semua menjulukinya gadis post it.
****
__ADS_1
Pagi hari, keluarga Budiman sedang sarapan pagi bersama. Namun saat makanan terhidang di depan mereka, Angga malah merasa ingin muntah. Tak hanya Angga. Icha juga merasakan hal yang sama. Perut mereka bergejolak dan berasa ingin memuntahkan semua isi di dalamnya, saat Ny Sekar tak sengaja membuka kulkas.
Ny Sekar merasa heran dan kemudian bertanya apa Angga dan Icha mengalami yang namanya Morning Sickness? Tapi yang di tanya malah hanya saling pandang. Mereka tak mengerti. Sementara Ny Sekar berteriak kesenangan.
Menurut neneknya hal ini harus dirayakan. Neneknya berkata kalau Icha dan Angga pasti merupakan pasangan dari surga, makanya bisa mengalami Morning Sickness bersamaan. Jodoh sekali.
Lalu Neneknya menyuruh mereka makan bersama di kamar saja dan saling menyuapi. Tapi mereka hanya melirik satu sama lain menanggapi ucapan neneknya. Mereka hanya bisa tertawa aneh dengan ide konyol neneknya tersebut.
Sesampainya di kantor, Angga sudah di sambut sinis oleh Reza. Meskipun saling menatap sinis, mereka harus tetap melanjutkan perbincangan bisnis di ruangan rapat. Mereka harus tetap profesional sebagai rekan kerja.
__ADS_1
Di dalam ruangan, mereka tampak saling menyindir satu sama lain. Angga berkata kalau dari awal dia sudah mencurigai kedekatan Reza dengan istrinya. Dia berkata Reza tak boleh mengusiknya dengan bersikap seperti seorang brengsek yang sengaja mendekati istri temannya. Tapi Reza dengan santai menjawab mendingan dilihat nanti saja, siapa yang lebih brengsek di antara mereka berdua. Memang seperti itulah hubungan mereka. Saling mengatai agar hubungan itu makin terus kuat. Lalu mereka kembali fokus ke masalah bisnis.
Angga bertanya lagi, apa maksud Reza mendekati Icha dengan serius. Lalu Reza membalas tatapan tajam Angga dan menjawab “Ini karena aku tak tahan melihat perempuan baik kau sakiti.”
Kemudian Angga mengingatkan Reza, perempuan baik yang Ia sebutkan itu adalah istrinya. Apa Reza lupa?
Tapi Reza dengan sinis menjawab kalau Angga sama sekali tidak pernah memperlakukan Icha seperti istri. Jadi dia lupa kalau Icha adalah istri Angga. "Harusnya jika kau menganggap dia adalah istrimu, kau tak seharusnya membuat dia bersedih dan menangis. Aku takkan menolak untuk selalu di dekatnya meminjami bahuku sebagai tempatnya bersandar dan menggantimu"
Lalu Angga tertawa dan menyuruh Reza agar fokus saja pada pekerjaan dan jangan pernah coba-coba tertarik pada istrinya. Reza menjawab peringatan Angga dengan santai dan kembali berkata kalau dia termasuk orang yang pandai menemukan permata yang belum diasah. “Asal kau tahu, Icha adalah permata terbaik. Dia lebih baik dari Anin."
Angga kembali terdiam. Kenapa Reza tiba-tiba membawa nama Anin? Ini tak ada hubungannya.
"kau bisa katakan padaku, kapan kau harus melepaskannya dan aku akan menerimanya dengan sepenuh hati" ucap Reza memperingatkan Angga.
__ADS_1
Angga tak bergeming. Ia takkan berniat melepaskan Icha tapi Ia juga belum bisa melepaskan cintanya untuk Anin. Tapi serangkaian hal yang terjadi padanya dengan Icha, apakah ini disebut sebagai takdir?
Apakah Ia di takdirkan untuk mencintai Icha?