
Angga kembali menjelaskan kalau dia akan memiliki anak dan Icha adalah ibu dari anaknya itu. Anin hanya terdiam, bibirnya tak sanggup mengatakan apapun. Hatinya terluka parah dan hujan membuat semuanya bertambah perih. Ia beranjak pergi dengan meninggalkan Angga di bawah hujan yang dangat deras ini.
Kini di ruangan miliknya. Ruangan pribadinya, Angga memutar kembali video yang berisi kenangan romantisnya bersama Anin. Perempuan yang dia cintai namun tak bisa dia miliki. Dia pun membuka hadiah yang dibawa Anin tadi. Hadiah kancing manset yang ditujukan untuknya. Angga juga membawa surat yang ada bersama hadiah tersebut.
“Bagaimana Ga, kau suka kan? Aku senang saat menemukan hadiah ini. Pasti cocok sekali untukmu. Saat ku bayangkan, manset ini akan bercahaya bersama dirimu. Saat kau menandatangani kontrak atau melambaikan tanganmu saat kau pergi bekerja itu membuatku sangat bahagia sampai menitikkan air mata. Jangan sampai hilang. Manset itu tak akan berguna jika salah satunya hilang. Seperti kau dan aku, Ga.”
Angga tertawa terbaha-bahak di dalam tangisnya. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Tawa kesedihan yang dirasakan Angga saat ini.
Sementara itu Icha duduk di depan ruangan Angga. Seolah ia ikut merasakan kesedihan Angga dan beratnya beban Angga atas semua kejadian ini. Dia ikut bersedih dengan sedihnya Angga. Dia menangis karena tahu Angga pun pasti menangis didalam ruangan ini. Angga menutupi tangisannya dengan tawa khasnya. Icha menyesal dan merasa bersalah atas apa yang terjadi antara Anin dan Angga.
Keesokan harinya Angga sudah selesai mandi. Dia menatap pada setelan jas yang sudah dipilihkan istrinya pagi ini. Seperti biasanya, setiap pagi Icha selalu memilihkan setelan jas apa yang akan dia gunakan untuk berangkat kerja. Begitu pula pagi ini. Tapi Angga memilih tidak menyentuh pakaian itu.
Icha sudah menunggunya untuk sarapan. Dia melihat Angga tidak memakai pakaian yang dia siapkan pagi tadi, Icha kecewa tapi dia berusaha untuk tersenyum. Bahkan Angga hanya diam saja, Ia tak berminat untuk sarapan bersama Icha dan langsung berpamitan tanpa sepatah kata pun. Icba hanya bisa menatap kepergian mobil suaminya yang sudah menjauh dan melambaikan tangan sendirian.
Nenek Sekar memberitahu Icha bahwa nanti malam akan ada pesta amal dan dia mau Icha menemaninya. Icha tak bisa menolak dan berkata kalau dia akan berusaha sebaik mungkin agar tak membuat nenek malu.
Nenek tiba-tiba menggenggam tangan Icha dan berkata “Sejak kau menikah dengan Angga, nenek tak bisa melakukan apapun untukmu. Kau pasti membenci Angga karena dia bersikap dingin padamu?”
Icba segera menggeleng dan tersenyum sambil berkata tidak. Dia malah berharap Angga bisa terus bertahan dengan kondisi ini. “Aku sunggun ingin membantu Angga, tapi tidak ada yang bisa ku lakukan untuknya.”
Malam ini, Icha tampak cantik. Dia datang ke pesta amal bersama Nenek. Ny Sekar dengan bangga memperkenalkan cucu mantunya pada semua tamu yang bertemu dengannya di pesta amal malam ini. Seorang pria yang ditemui Nenek Sekar tiba-tiba mengajak Nenek Sekar untuk bicara berdua saja sebentar. Sehingga terpaksa meninggalkan Icha sendirian.
__ADS_1
Akhirnya Icha hanya memilih menikmati makanan yang disediakan di pesta amal itu sembari menunggu Nenek Sekar selesai urusannya. Icha tampak asing dengan suasana pesta ini. Ia tampak berada di dunia lain.
Saat sedang sendirian tiba-tiba Icha mendengar wanita paruh baya di sebelah mejanya bergosip mengenai dirinya dan kabar yang beredar belakangan ini. Ketiga wanita tersebut bahkan dengan kejamnya berkata kalau wanita seperti Nona I adalah wanita yang memalukan dan tampak lugu diluar saja, ternyata di dalam sangat menakutkan, seolah para wanita itu sedang membicarakan Icha.
Hal itu membuat Icha terusik sehingga dia berniat pergi. Namun saat akan pergi tak sengaja dia bertemu dengan temannya Anin. Ia bertanya sinis pada Icha. Apa dia disini karena sebagai Sekretaris Ny Sekar?
Icha tak menjawab dan memilih pergi dengan sopan tapi temannya Anin itu malah bertanya padanya, apa Icha bisa membuang isi gelas nya ini?
Icha tak menolak dan hendak mengambil gelas itu dari tangannya. Namun tiba-tiba temannya Anin malah menyiram isi gelas itu ke wajah Icha. Lalu dia berkata agar icha tidak hidup seperti ini. “Aku sebagai wanita sungguh malu padamu.”
Tiba-tiba ada yang menyodorkan sapu tangan pada Icha dan Icha menerima itu tanpa melihat siapa yang memberinya. Saat dia menatap pria itu, ternyata dia adalah pria yang diajak Icha ke Macau. Pria yang menyakiti hatinya. Pria yang juga menjadi teman kerjanya.
Icha berniat pergi setelah mengucapkan terima kasih atas sapu tangan yang dipinjamkan Pengacara Malik padanya. Tapi Pengacara Malik yang tengah mabuk mulai berkata aneh-aneh yang tentu didengar semua tamu.
“Jangan berpura-pura menjadi wanita anggun, apa kau sudah lupa aku dulu atasanmu?”
Icha tak peduli dan dia pergi meninggalkan Pengacara Malik yang ternyata bertindak sangat nekat sekarang ini. Pengacara Malik tampak naik ke panggung dan mulai berbicara pada semua tamu yang hadir. Icha pun terpaksa menghentikan langkahnya. Ia takut Pengacara Malik akan berbuat aneh.
Pengacara Malik dengan lantang berkata kalau dia akan memperkenalkan wanita istimewa malam ini, dia adalah Anissa Icha, istri Presdir Budiman Corporation. Melihat tingkah Pengacara Malik, Icha merasa teramat sangat malu.
“Dia sepertinya malu karena tidak pernah datang ke pesta semacam ini. Kalian sepertinya penasaran jadi akan ku ceritakan sedikit tentang dia. Namanya Icha dan usianya 29 tahun. Dulu dia adalah karyawan kontrak di sebuah firma hukum. Sepertinya kalian juga sudah mendengar gossip terkini akhir-akhir ini. Gosip itu benar. Dialah Nona I yang fenomenal. Sensasi terbaru semua tabloid. Dia menikah dengan pria yang sudah punya pacar dengan cara mengandung anaknya. Dia seperti cinderela abad 21.”
__ADS_1
Icha rasanya ingin bisa menghilang disaat seperti ini. Dipermalukan dihadapan orang banyak bukan tujuannya datang ke pesta seperti ini. Dia hanya bisa menunduk dan menahan tangisnya.
Tiba-tiba pangeran penyelemat Icha datang sambil bertepuk tangan dan mendekati Pengacara Malik yang langsung ketakutan. Angga meminta mic diserahkan padanya dan Pengacara Malik menuruti perintah itu.
Angga kemudian berkata “Hey sampah! tutup mulutmu dan pergilah dari sini.”
Kalimat itu didengar semua tamu dan gantian Pengacara Malik yang dipermalukan dengan kata-kata Angga barusan.
Angga kemudian sambil bergaya berpindah posisi jadi di tengah-tengah para pemain musik. Dia memperkenalkan dirinya dengan santai dan meminta yang lain bertepuk tangan. Para tamu pun mengikuti keinginan Angga tersebut. Lalu, dia berkata pada semua tamu kalau apa yang membuat semua penasaran tadi adalah benar. Dia menikah dengan Icha karena Icha hamil, dan para tamu pun tercengang dengan fakta yang diungkapkan Angga.
“Tapi ada hal yang tidak kalian ketahui. Itu adalah kenyataan bahw dia wanita yang sangat aneh, aku telah hidup bersamanya dan aku mengetahui bahwa dia sangat eksentrik. Jika terus memandangnya, maka dia sungguh sangat cantik. Saat cantik menjadi membosankan, tapi dia juga kikuk dan sangat manis. Dia juga baik. Itu sebabnya aku merasa tidak enak menjadi satu-satunya yang benar-benar mengenalnya. Jadi hari ini aku akan beritahu semua tentangnya pada kalian. Jadi dengarkan.”
Lalu Angga berjalan perlahan mendekati Icha sambil berkata “Wanita ini tidak cerdas, dia juga tidak bisa menghitung dengan baik, itu karena dia tidak rajin belajar saat sekolah dulu. Nilai matematika juga yang terjelek”
Icha perlahan menangis mendengar yang Angga katakan karena semuanya benar. Itu yang dikatakan ibunya dulu. Tapi kemudian Angga melanjutkan kalimatnya “Tapi wanita ini, tahu cara memperlakukan orang lain dengan tulus. Wanita ini juga pandai merawat luka orang lain dan menghiburnya. Itu sebabnya dia biasa tapi sangat istimewa. Dialah istriku tercinta. Icha.”
Icha memang menangis, tapi kali ini tangisnya adalah tangis haru. Kata-kata Angga luar biasa memujinya. Angga kemudian meminta semua bertepuk tangan pada istrinya tercinta ini. Para tamu pun tak mengelak. Mereka bertepuk tangan sesuai permintaan Angga.
Angga mendekati Icha dan berkata “Berlian yang belum diasah seperti dirimu, tidak berkumpul dengan remah-remah seperti mereka.”
Angga mengedipkan mata dan tersenyum menatap Icha. Lalu Icha membalas senyumannya dan Angga langsung mengajaknya meninggalkan ruangan pesta. Semua tamu bertepuk tangan kepada pasangan itu.
__ADS_1