
Dengan bersiul, Mike menuruni setiap anak tangga rumahnya dengan tak sabaran. Dia tak sabar ingin segera bertemu dengan Floryn. Karena melihat senyum kekasihnya pagi-pagi seperti ini akan memberi mood booster tersendiri baginya.
Mike sudah mandi, tubuhnya sudah wangi sabun bercampur parfum mahal. Rambutnya sudah disisir rapi dengan sedikit pomade agar lebih berkilau.
Tampilannya kali ini sudah sangat sempurna, Mike tak akan membiarkan gadis pujaannya itu kembali melihat wajah gembelnya ataupun mencium bau tak sedap dari tubuhnya.
Cukup kemarin saja Mike melakukan kesalahan dengan tak menjaga tampilannya di depan Floryn. Itupun sudah termasuk untung karena kekasihnya itu tak pingsang saat berciuman dengannya.
"Good morning ladies... Wah, rajin banget pagi ini udah pada kumpul di dapur bikin sarapan." Setelah menyata tiga ibunya, Mike mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah sang kekasih yang saat ini tengah membantu memasak.
"Duh, pagi-pqgi udah ada yang gak sabar pengen ke KUA," sindir Mom Lisa yang melihat bagaimana genitnya Mike pada Floryn.
"Mommy kayak gak pernah muda aja," sahut Mike cuek.
Sedangkan disisi lain, wajah Floryn sudah memerah seperti tomat. Dia sangat malu dengan kelakuan Mike pagi ini. Apalagi kekasihnya itu bersikap genit di depan para orang tua.
"Sayang, lagi apa? Sini aku bantuin." Mike berjalan mendekat, hendak mengambil alih pisau yang saat ini tengah di pegang kekasihnya.
Namun belum juga pisau itu berpindah ke tangannya, sebuah perintah justru lebih dulu menyerang. "Kak Mike tolong jagain Deo aja ya. Ayura mules banget ini. Udah gak tahan."
Ayura langsung memberikan Deo pada Mike bahkan sebelum Mike mengiyakan perintahnya. "Emang Ello kemana? Kenapa gak nyuruh dia aja."
"Papi Ello masih tidur. Ayura gak tega banguninnya," jawab Ayura dengan berteriak, sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu kamar tamu.
Mike berdecak kesal. Namun begitu melihat pria kecil di gendongannya, kekesalan itu seolah menguap begitu saja.
"Anak ganteng sama Papa Mike dulu ya. Mami Yura lagi pup," ujar Mike lalu mencium pipi gembul Deo dengan gemas. Pria kecil di gendongannya adalah salah satu obat penawar segala suntuk dan lelah orang-orang di sekitarnya.
Ah, rasanya Mike jadi tak sabar ingin mempunyai anak sendiri, tentunya juga agar tak berebut dengan Ello. Karena kadang sahabatnya itu sangat pelit saat Mike ingin berlama-lamaan dengan Deo.
__ADS_1
"Kenapa manggilnya Papa Mike?" tanya Mama Sita yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Mike sembari menatap kagum pada sosok tampan di gendongan putranya.
"Ya karena dia anak Mike. Mangkanya manggil Papa Mike."
"Hah maksud kamu..." Mama Sita terlihat syok. Dia bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi. Mama Sita tak percaya, sang putra menghamili istri sahabatnya sendiri. Dan anehnya semua orang disini nampak biasa saja.
Mike yang melihat ekspresi keterkejutan Mama Sita pun kini hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya dirinya salah memilih kata hingga membuat Mama Sita salah paham dengan penjelasan yang baru saja dia berikan.
"Maksud Mike, Deo itu udah kayak anak Mike sendiri. Bahkan sejak di dalam kandungan, bayi ganteng ini sudah pandai menyusahkan Mike. Dulu Maminya Deo suka ngidam aneh-aneh. Selain suaminya, orang-orang di sekitar Ayura juga selalu kena imbasnya. Dan itu termasuk Mike."
Mama Sita nampak menghela nafas lega. Ternyata dirinya hanya salah paham. Untung saja sang putra langsung menjelaskan dengan detail.
...***...
Seperti rencana mereka semalam, setelah sarapan pagi Mike dan Floryn pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Papa Floryn.
Disepanjang perjalanan, Mike tampak gelisah. Jantungnya bahkan mulai berdebar tak menentu. Mike sangat mengkhawatirkan bagaimana hasil pertemuan pertamanya dengan Papa Floryn.
"Sayang, penampilan aku sudah rapi belum?" Ini adalah pertanyaan yang sama yang sudah Mike tanyakan untuk kesekian kalinya.
Padalah saat ini mereka sudah berada tepat di depan pintu rawat inap. Dengan mendorong pintu di depannya saja, Mike akan langsung bertemu dengan Papa Floryn.
Sungguh saat ini Mike sangat grogi. Apalagi saat ini terlalu banyak banyak dugaan-dugaan negatif yang tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya.
"Kamu udah rapi sayang. Udah ganteng."
"Tapi...."
Tanpa memperdulikan Mike yang terlihat masih ragu, Floryn langsung mendorong pintu di depannya hingga menampakan kamar rawat yang cukup luas.
__ADS_1
Seorang pria berdiri dari duduknya setelah meletakan mangkok di atas nakas. Pria itu mengangguk hormat pada Mike dan Floryn sebelum akhirnya meninggalakan ruang tersebut.
"Siapa?" bisik Mike bertanya.
"Orang suruhan Papa kamu." Mike mengangguk dan mengikuti langkah Floryn yang mendekat ke arah ranjang pasien, dimana disana ada seorang pria paruh baya dengan tubuh terbilang kurus tengah terbaring.
"Pagi Om," sapa Mike dan di angguki kepala oleh Papa Floryn.
Mike terlihat salah tingkah saat Papa Floryn terus menatapnya penuh seledik. Sepertinya pria paruh baya itu tengah menilai dirinya, apakah pantas atau tidak berdampingan dengan putri cantiknya.
"Makannya kok gak di abisin Pa?" tanya Floryn saat melihat mangkok di atas nakas masih tersisa setengahnya. "Floryn suapin ya?"
Papa Floryn menahan tangan putinya yang hendak meraih mangkok di atas nakas. "Papa udah kenyang."
"Kalau gitu sekarang Om harus minum obat." Mike langsung sigap mengambil obat dan segelas air putih.
Selain memang peduli, saat ini Mike juga dalam mode cari muka. Dia harus bersikap baik dan sopan agar hubungannya dengan Floryn bisa benar-benar di restui.
"Terimakasih," ucap Papa Floryn setelah selesai meminum obatnya.
"Sama-sama Om." Mike menjawab sembari meletakan kembali gelas kosong ke atas nakas.
Jangan tanyakan keadaan Mike saat ini, karena itu sangat memalukan.
Mike sejak tadi gemetaran, tubuhnya juga mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin. Jantungnya? Ah, rasanya dag dig dug der. Apalagi saat kedua matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan tajam calon mertuanya. Duh, rasanya seakan Mike tengah di todong dengan sejata laras panjang. Sungguh ini luar biasa mendebarkan.
"Namu kamu siapa?" tanya Papa Floryn.
"Nama saya Jonathan Michael Om. Biasa di panggil sayang, eh.. Maksud saya biasa di panggil Mike." Sial, rasanya Mike ingin sekali memukul bibirnya yang seenaknya saja main keceplosan.
__ADS_1
"Jadi kamu orangnya." Mike nampak bingung dengan maksud ucapan Papa Floryn. Namun kalimat pertanyaan yang di ucapkan Papa Floryn selanjutnya membuat Mike ingin melompat bahagia.
"Jadi tanggal berapa kalian akan menikah?"