Fated To Love You

Fated To Love You
32


__ADS_3

Angga sudah lelah mencari jalan keluar dari ruang penyimpanan ini. Ia melihat Icha hanya duduk melamun. Lalu Angga menghampirinya dan berkata ia lelah. Kemudian Icha memintanya untuk duduk saja, besok pasti ibunya akan membukakan pintu dan membiarkan mereka keluar. Pasti ada alasannya kenapa ibu tega mengunci mereka berdua di ruangan ini?


Namun Angga tidak bisa duduk diam begitu saja. Ia merasa bosan dan risih dengan berada di ruangan ini. Kini Angga mencoba mencari kesibukan dengan memeriksa setiap barang yang ada diruang penyimpanan. Siapa tahu ia menemukan sesuatu yang menarik.


Benar saja. Saat ia menggeledah apa yang ada, ia berhasil menemukan sesuatu yang menarik, sebuah kotak yang bertulis tangan dengan tulisan "Kotak Harapan Icha".


Angga mengucapkan kata itu dengan keras hingga terdengar oleh Icha. Sadar itu adalah miliknya, Icha berusaha merebutnya dari Angga. Icha tak ingin Angga melihat apa yang ada didalam kotak itu.


Melihat Icha was-was, ini makin menarik bagi Angga. Ia penasaran apa isi didalam kotak ini? Apa yang begitu ingin disembunyikan Icha darinya?



Angga mengangkat kotak itu jauh dari jangkauan Icha. Dikarenakan tubuh Angga yang tinggi Icha tak dapat meraihnya. Akhirnya Icha mengalah. Dia membiarkan Angga melihat isi dari kotak harapan itu, tentu saja Angga senang. Akhirnya ia dapat mengetahui apa yang sanagt ingin disembunyikan Icha.



Mereka duduk kembali dan Icha pasrah saja saat Angga mengambil satu kertas lalu membaca isinya. Di kertas pertama yang berisi kalimat 


“Aku ingin temanku mengembalikan barang yang dia pinjam.”


Angga lalu menatap Icha dan bertanya "kenapa tidak tinggal minta saja? Itu kan barangmu. Apa temanmu galak?"


Icha menjawab kalau dia hanya merasa tidak enak. Mungkin saja temannya itu tidak sengaja menghilangkan barang miliknya atau dia masih memakainya makanya tidak dikembalikan. Begitulah Icha, selalu memikirkan orang lain daripada dirinya terlebih dahulu.


Lalu Angga bergumam, "terkadang memang yang minta lebih menakutkan dari yang ngasih"


Kemudian Angga mengambil satu kertas lagi di kotak itu dan kembali membacanya. Kali ini kertas itu bertuliskan 

__ADS_1


“Jika aku membantu teman-temanku, kuharap mereka mau mengucapkan terima kasih padaku.”


Angga membacanya dengan keras dan berkomentar kalau sepertinya Icha mengalami penyakit serius "aku heran, ternyata ada orang sepertimu, apa kau kecanduan bersikap baik?"


Icha kesal diejek seperti itu, sehingga dia meminta Angga berhenti membaca isi kotak harapannya. Tentu Angga menolak, dia masih ingin membaca lagi. Ini sangat menarik.


Ia mengambil lagi kertas yang ada. Kali ini kalimat yang berbunyi,


“Aku harap ayah pergi ke tempat yang indah di surga"



Angga terdiam sejenak setelah membaca isi di kertas itu. Ini juga mengingatkannya pada orangtuanya yang meninggal karena kecelakaan bersamanya saat masih kecil dahulu. Hanya ia yang selamat, kedua orangtuanya meninggal ditempat.


Lalu Dia bertanya pada Icha kapan memangnya ayah Icha meninggal?


Saat itu ayahnya pergi melaut, tapi tidak pernah pulang kembali. Orang-orang berkata Ayah Icha meninggal ditengah laut.


Icha juga berkata, apabila dia merindukan ayahnya, maka dia akan menuliskan kalimat ini dan memasukkannya ke dalam kotak harapan.


Angga kemudian berkata kalau dia merasa Icha sangat mirip dengannya. Dia juga kehilangan ayah dan ibunya dikarenakan kecelakaan juga. Hanya saja ayah Icha di laut, sementara orangtuanya di darat.


Kemudian Icha kembali meminta Angga untuk berhenti melihat isi kotak harapannya. Namun Angga berkata biarkan ia melihat satu lagi untuk yang terakhir. Icha pun tak bisa menolak dan membiarkan. Kertas terakhir itu bertuliskan,


"semoga aku bertemu pangeran impian yang mencintaiku dengan sepenuh hati"


Angga menatap Icha dalam. Icha kemudian tersenyum dan mengambil kertas itu. Lalu tiba-tiba Icha meminta Angga untuk tidak usah khawatir. Dia sudah memikirkan, akan melakukan apa dengan kehamilannya ini.

__ADS_1


Besok pagi dia akan ke rumah sakit dan akan menggugurkan bayi ini. Dia tahu Angga sudah memiliki wanita yang ingin dinikahi. Jadi tidak ada alasan untuk mempertahankan bayi ini.


“aku sudah memikirkannya, kita tidak akan mampu membesarkan anak ini. Jika aku besarkan sendirian, bahkan setelah kalian menikah kau akan tetap merasa gelisah. Anak ini nantinya hanya akan menjadi bebanmu dan istrimu.”


Mata Icha tampak berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat itu. Dia kemudian melanjutkan “Aku tidak ingin anak ini memiliki hidup tanpa berkat.”


Setelah itu mereka terdiam. Icha menghapus air matanya yang sempat menetes. Sementara Angga tak mampu bekata-kata atas apa yang Icha ucapkan. Ia hanya diam seolah memikirkan semua kalimat Icha tadi.


"aku minta maaf sudah membuatmu berpikir demikian" ucap Angga merasa bersalah pada Icha. Namun Icha menjawab tidak apa-apa.


Lalu Icha kembali berkata bahwa besok pagi-pagi sekali ia akan pergi kerumah sakit dan meminta dokter menggugurkan bayi ini. Angga tak usah khawatir ia akan bilang pada dokter bahwa ia punya penyakit serius sehingga ia tak bisa melahirkan dan membesarkan anak ini.


Namun Angga berkata pada Icha bahwa ia akan menemani Icha pergi kerumah sakit bersama. Tidak mungkin ia membiarkan Icha sendirian melakukan hal itu.


Setelah itu Angga menyiapkan tempat untuk Icha berbaring. Ia bahkan melepas jasnya dan memakaikan itu di tubuh Icha agar merasa hangat. Icha berkata dia tidak apa-apa. Angga tak perlu melakukan ini untuknya. Namun Angga tak menghiraukan dan malah menyuruh icha untuk menurut saja.


Kemudian Angga ikut berbaring di sebelah Icha dengan jarak yang cukup jauh dan saling membelakangi. Tapi sebelum itu, mereka sempat mengucap selamat malam satu sama lain.



Tiba-tiba Icha bergumam dan berkata kalau dia merasa kejadian ini luar biasa. Mereka bertemu empat kali dan mereka tidur bersama sudah dua kali diantara pertemuan itu. Angga juga mengingatnya dan membenarkan apa yang dikatakan Icha.


Kemudian Icha mengucapkan “Hubungan antar manusia itu sangat sulit dimengerti.”


Angga lanjut berkata “Jika kita bertemu dalam keadaan yang baik, kurasa kita akan menyebutnya sebagai takdir.”


Mendengar Angga berkata demikian, Icha tersenyum. Angga sudah menghiburnya dengan berkata seperti itu. Andai Angga tidak mempunyai kekasih pasti Angga adalah pangeran impiannya karena Angga sering membantunya.

__ADS_1


Lalu mereka mencoba memejamkan mata agar terlelap dan melupakan sejenak masalah ini.


__ADS_2