
Icha kembali menjelaskan pada ibunya bahwasanya pernikahan bukanlah hal yang main-main. Pernikahan harus didasarkan cinta dan komitmen. Sementara Angga tidak mencintainya dan ia juga belum mengenal Angga sepenuhnya sehingga belum cukup untuk membangun sebuah komitmen.
Pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat sakral, pernikahan adalah janji yang abadi. Melahirkan tentu berbeda dengan menikah itu sendiri.
Alia yang berada disana juga ikut mendengarkan penjelasan Icha, ia berkata kalau adiknya ini sangat polos dan bodoh. Apa ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan?
Saat Icha selesai melahirkan, Icha akan menyerahkan bayinya pada keluarga Angga. Kemudian Icha hanya akan menjadi masa lalu Angga saja. Hilang seketika. Lalu, jika Icha memutuskan membesarkan bayi itu sendiri, maka itu artinya Icha akan jadi ibu tunggal. Anaknya akan hidup tanpa Ayah. Apa dengan semua itu Icha masih tetap tidak ingin menikah?
Kemudian Icha menjawab, memaksa Angga menikahinya itu bukanlah hal yang baik.
Lalu Ibunya bertanya apakah benar Angga yang menghentikan aborsi tadi dan memaksa Icha keluar dari ruang operasi? Kemudian Icha mengangguk membenarkan. Lalu Ibunya bergumam ternyata Angga adalah lelaki yang baik dan masih punya hati nurani.
Lalu tiba-tiba saja Angga masuk kedalam diskusi keluarga Icha. Ia meminta Icha ikut bersamanya dan ada yang perlu ia bicarakan. Ia hanya ingin bicara berdua dengan Icha.
Setelah hanya berdua dengan menatap pemandangan indah di depan mereka, Angga bertanya apa benar Icha tidak mau menikah dengannya?
Icha kemudian menjawab, dia tahu Angga adalah orang baik dan pasti nantinya Angga bisa menjadi ayah yang baik. Dia tidak bisa menikah karena Angga sudah punya orang lain yang dicintai
__ADS_1
“Aku tahu betapa kau mencintainya. Aku tidak ingin menikah jika nantinya membuat orang lain tak bahagia.” lirih Icha.
Dalam hatinya ia berkata siapa yang tidak mau menikah dengan pria baik seperti Angga. Bahkan Angga terlihat seperti pangeran impian baginya. Namun Angga kan tidak mencintainya. Jadi ia tidak bisa memaksa.
Namun Angga menjawab, kenyataannya sekarang adalah anak yang ada didalam perut Icha adalah anak mereka berdua dan kenyataan itu tak bisa diubah.
“Aku sudah jadi pria yang tidak baik, tapi aku ingin menjadi ayah yang baik untuk anakku. Tentu saja saat ini Anin masih jadi satu-satunya untukku. Aku tidak tahu berapa banyak waktu yang akan kuhabiskan agar hatiku bisa berpindah padamu. Tapi aku berjanji, setidaknya untuk anak kita, aku akan menjadi ayah yang baik, tapi aku tidak bisa mencintaimu. Jika kau bisa menerima ini, kita akan menikah.” ucap Angga.
Icha terharu mendengarnya. Dia kemudian menjawab kalau dia juga ingin menjadi ibu yang baik bagi anak mereka. Jika itu keinginan Angga maka ia bersedia melakukan pernikahan.
Penikahan dilangsungkan hari itu juga dan lokasi yang digunakan untuk pernikahan ini adalah sebuah sekolah. Kedua pengantin dipisah dan ditempatkan di dua ruang kelas berbeda. Sementara halaman sekolah dipakai untuk acara pernikahan dan pemberkatan pengantin.
Nenek Angga dan Ibunya menghampiri. Nenek Angga berkata ia senang akhirnya Icha menikah dengan Angga dan akan memberikan cicit untuknya. Sebuah hadiah besar baginya. Ia sangat berterimakasih pada Icha.
Sementara di lain tempat Angga tampak tak senang. Keceriaan tak tampak di wajahnya sama sekali. Dia menatap cincin yang seharusnya dia berikan pada Anin untuk acara lamaran. Malah sekarang cincin ini akan ia berikan dan dikenakan oleh Icha dalam acara pernikahan.
__ADS_1
Tiba-tiba Angga mencoba menelpon Anin dan langsung saja Anin menerima panggilan itu. Dia sudah lama menunggu telepon dari Angga. Dia sangat tersiksa menunggu dan akhirnya sadar bahwa ia sudah demikian pada Angga selama ini. Ia sangat menyesal.
“Aku tidak tahu ternyata menunggu sangat menyakitkan seperti ini.” ucap Anin dari balik telepon.
Angga ingin memberitahu Anin semuanya tapi dia hanya berkata sudah bersalah pada Anin tanpa mengatakan bahwa ia akan menikahi perempuan lain.
Anin yang hampir menangis berkata merasa bersalah karena sudah membuat Angga menunggu terlalu lama. Ia juga berkata Angga punya hak untuk marah padanya. Angga boleh memarahinya.
Kemudian Anin berkata lagi, ia minta maaf sudah menggagalkan rencana Angga dalam acara lamaran itu. Tapi Angga menjawab jangan katakan itu, justru itu makin membuatnya merasa bersalah.
Lalu Anin berkata dan memberitahu Angga bahwa hanya Angga satu-satunya di hatinya
“Tidak ada selain kau Ga. Percayalah. Aku hanya mencintaimu seorang" Lalu Angga menjawab bahwa ia juga mencintainya.
Lalu Anin memberitahu Angga bahwasanya Angga menelpon disaat yang tepat. Hari ini hari pertamanya tampil sebagai pemain utama piano dalam pertunjujkan Jazz terbesar di Paris.
Angga mencoba terdengar senang dengan berita yang diberitahu Anin. Namun dalam batinnya, ia bergumam ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan Anin apa yang sebenarnya telah terjadi saat ini.
Ia hanya akan mengacaukan pertunjukkan Anin jika ia beritahu Anin bahwasanya ia akan menikah hari ini. Anin sudah berusaha keras mewujudkan impiannya.
__ADS_1
Akhirnya ia hanya mengucapkan semangat dan Anin harus berikan penampilan yang terbaik pada pertunjukkannya.
Telepon terputus dan Angga tahu mungkin akan susah mencari waktu selain hari ini untuk memberitahu Anin semuanya. Tapi tetap saja ia tak bisa memberitahunya hari ini. Itu akan merusak semuanya.