Fated To Love You

Fated To Love You
25


__ADS_3

Saat ini Icha bersama Angga berada di sebuah Cafe. Angga meminta waktu Icha untuk mengobrol. Sesampainya di Cafe Angga malah mengomentari Icha. Bukankah Angga sudah menasehati Icha, supaya lebih percaya diri dan tidak terintimidasi. Icha harusnya berubah dari gadis catatan tempel menjadi gadis catatan super. Tapi kenapa setelah yang ia lihat tadi, tetap saja Icha masih menjadi gadis yang tidak bisa menolak?


Icha hanya tersenyum dengan komentar Angga dan kembali mengucapkan terimakasih sebab Angga sudah membantunya lagi. Angga memang benar-benar penyelamatnya.


Angga kemudian berkata sudahlah lupakan saja. Sepertinya tiap kali Icha punya masalah, Angga akan membantunya. Kemudian Icha teringat dengan apa yang ia periksa di toilet tadi. Apakah Angga juga akan menerimanya jika Angga tahu ia hamil. Namun Icha tak berani mengungkapkannya. Ia masih belum tahu apakah ia memang benaran hamil.


"perutmu kenapa? apa kau hamil?" tanya Angga. Icha mengangguk.


"benarkah? benarkah kau hamil anakku?" Angga terdengar bahagia. Icha kemudian tersenyum mengiyakan. Lalu Angga langsung memeluknya dengan perasaan bahagia.


Kemudian Icha tersadar dan tahu kalau tadi cuma khayalan tingkat tingginya saja. Tidak mungkin Angga akan dia beritahu dan akan sesenang itu sementara Angga tidak mencintainya. Angga sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai. Sudah semestinya Angga ingin menikah dan memiliki anak dengan perempuan yang cintai. Bukan perempuan sepertinya yang hanya terus merepotkan.


Icha lega menyadari jika semua itu tidaklah nyata. Icha menjawab dia tidak apa-apa. Setelah Angga menjetikkan jarinya di depan Icha saat membuyarkan khayalan Icha tadi.


Untuk memecah kecanggungan, akhirnya Icha bertanya mengenai Anin, apa Angga sudah bertemu Anin semenjak dari Bali?


Angga berbohong ia hanya menjawab ya dengan singkat.


Raut wajah Icha seketika berubah mengetahui kalau Angga masih berhubungan dengan Anin. Apa yang ia pikirkan tadi ternyata benar. Tidak mungkin ada ruang baginya. Kemudian akan sangat susah dan tidak mungkin baginya memberitahu Angga tentang keberadaan janin yang ada di perutnya ini.


"Apa kau lapar?" ucap Angga saat melihat Icha meletakkan tangannya diperutnya.


Icha belum melepaskan tangannya dari perutnya sejak berkhayal tadi. Kemudian Icha menjawab, ia tidak lapar. Ia hanya merasa canggung bertemu lagi dengan Angga. Setelah itu Angga tertawa mendengar ucapan Icha. Angga menganggap Icha sangat konyol.


Setelah selesai berbicara mereka pun berpisah. Angga sudah pergi dengan mobil sedannya. Icha masih galau dengan kehamilannya, ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke apotek. Ia harus segera memastikan keraguannya apakah ia hamil atau tidak?

__ADS_1


Saat di apotek, Icha berpapasan dengan seseorang. Orang itu mengenal Icha, ia pernah bertemu dengan Icha di Bali. Saat itu Icha tampak sempoyongan dan mungkin takkan ingat padanya.


Ia memperhatikan Icha. Apa yang dilakukan oleh Icha? Icha tampak ragu dan ketakutan. Padahal dirinya hanya perlu membeli alat tes kehamilan. Tapi ia takut orang-orang akan melihatnya dan membicarakannya. Icha tampak gugup. Hal itu terlihat ketika Icha hanya mondar-mandir tak jelas.


Reza pun menghampiri Icha. Ia menyapa Icha "hai? apakah kau mengingatku?" tanya Reza.


Icha kelihatan bingung dan berusaha untuk mengingat. Tapi ia benar-benar tak ingat. Icha hanya mengernyitkan keningnya.


"kita bertemu di Bali, saat itu kamu kelihatan tidak sehat dan aku membantumu" Reza mencoba mengingatkan Icha.


Akhirnya Icha pun teringat. Ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih kembali pada Reza dalam keadaan yang sadar.


"aku melihatmu gugup? apa kau perlu bantuanku?" tanya Reza.


Namun Icha melirik tempat alat tes kehamilan berada. Reza yang menyadari kegelisahan Icha. Mendekati tempat alat tes kehamilan itu berada. Ia mengambilnya satu. Kemudian ia kembali ke hadapan Icha.


"apakah membutuhkan ini?" tanya Reza sambil menyodorkan alat itu pada Icha.


Icha tampak gelisah dan memeriksa orang-orang sekitar. Ia takut orang-orang akan memperhatikan.


Reza tahu Icha membutuhkannya, kemudian ia berkata, "masukkan kesini saja" ucap Reza dan memasukkan alat itu kedalam barang-barangnya. Icha tampak bingung dengan yang dilakukan Reza.


"kau tak perlu cemas, anggap saja kita yang membelinya, orang-orang takkan memperhatikanmu, kau bisa memanfaatkanku" ucap Reza bersedia dimanfaatkan dalam kondisi seperti ini.


Jika mereka membelinya berdua, orang-orang akan mengira mereka pasangan suami-istri yang ingin memeriksa kehamilan. Jadi itu tidak akan dipermasalahkan.

__ADS_1


Icha kemudian mengikuti Reza ke bagian pembayaran. Setelah selesai, mereka berbicara sebentar di luar apotek.


"apa kau hamil?" tanya Reza dan memberikan alat tes kehamilan itu pada Icha.


"aku tidak yakin, makanya aku perlu memastikannya dengan alat ini.” Icha menjawab dan mengambil alat itu dari Reza. Kemudian memberikan uangnya untuk membayar alat itu.


Reza terkejut mendengar pernyataan Icha. Kenapa ia tak bisa memastikannya? Ia kan bisa mengingat sudah melakukan itu dengan kekasihnya. Harusnya ia senang bukannya tampak gugup.


Icha melanjutkan perkataannya, dia berkata kalau dia sebenarnya takut, apabila dia akan melahirkan anak. Tapi saat memikirkan untuk tidak melahirkan anak ini, dia juga merasa sangat sedih.


Icha juga mengatakan kalau dia takut orang-orang akan tahu jika dia hamil. Apalagi jika Ibu, kakak atau teman kerjanya sampai tahu kehamilannya ini. Reza yang tak menyangka sedari tadi mendengarkan Icha dan Kenapa Icha mau saja menceritakan masalahnya, kemudian bertanya, "apa ayah si bayi tahu jika itu adalah bayinya?"


Icha dengan jujur menjawab tidak. Serta Icha bahkan berencana tidak akan memberitahukannya.


“Itu karena ayah bayi ini mencintai wanita lain. Dia akan menderita jika dia tahu tentang ini. Dan dia juga sudah cukup menderita karena tidur denganku. Aku rasa aku bisa mengatasi ini sendiri, aku tidak ingin dia juga menderita.” Icha terdengar tulus mengucapkannya serta berpikir akan menanggung masalah ini sendirian


Reza menghela nafas mendengar rumitnya masalah yang Icha alami, Reza pun memberi saran pada Icha. Jika memang iya dia hamil, maka Icha harus tetap mendiskusikan hal itu dengan ayah si bayi. Icha terkejut mendengar saran Reza dan bertanya apa harus dia berdiskusi dengan ayah si bayi?


“Tentu saja. Dia adalah ayah sang bayi. Dia punya hak dan kewajiban pada sang bayi. Meski ini sulit baginya, atau ini bukan hal yang dia inginkan, tapi dia juga harus berbagi beban ini. Kau mengerti kan?” ucap Reza menasehati.


Icha yang sangat lugu, mengangguk dan berjanji akan melakukan apa yang disarankan. Kemudian ia tersenyum mengucapkan terima kasih pada Reza, dan kemudian pergi.


"tetap semangat!!" Reza berteriak dan menyemangati Icha.


Icha kemudian berbalik dan melakukan hal yang sama dilakukan Reza. Ia mengangkat tangannya, mengepalkan tinjunya dan mengucapkan semangat.

__ADS_1


__ADS_2