Fated To Love You

Fated To Love You
1


__ADS_3

**Icha Pov


Aku harus buru-buru jika tidak kopi-kopi panas ini akan dingin setibanya di lantai 11. Hal itu akan mempengaruhi rasanya. Kopi hanya enak diminum saat masih hangat.


Pintu masuk sudah lewat, saatnya menuju lift. Semoga saja liftnya tidak lama. Oh tuhan begitu banyak orang yang akan menaiki lift. Lift ini kan hanya memuat 10 orang, aku harus termasuk diantaranya.


1-2-3-4-5-6-7-8-9 ku hitung setiap orang disana. Tentu saja aku bisa masuk, pas 10 orang jika aku kesana. Ayo lari..


Setibanya di depan lift langsung saja pintu lift terbuka. Orang-orang langsung memburu masuk termasuk aku.


Tapi tiba-tiba saja lift tersebut berbunyi. Menandakan kelebihan kapasitas. Aku rasa aku tak salah hitung tadi. Tapi kenapa tidak ada yang mau mengalah keluar?


Yasudah, biar aku saja yang mengalah.


Eits,, sebelum aku mengalah ada yang menghentikanku. Ia menahan bahuku. Sehingga aku tak bisa bergerak.


"Roki.. keluar kamu, tidak dengar lift berbunyi setelah kamu masuk" usirnya pada pria yang ada didepanku.


Aku tak bisa tahu siapa orang yang bicara itu. Disini terlalu sempit untuk bergerak. Merapikan kacamata yang hampir jatuh saja aku tak mampu.



"heiii" pemilik suara itu menyapaku dan kini dia sudah ada di sampingku.



Aku menoleh darimana suara itu berasal. Aku menganggukkan kepala setelah menjawab salamnya. Tanpa ku minta, tangannya langsung saja menyentuh kacamataku. Mengembalikannya ke Tempatnya semula berada.


__ADS_1


Aku kembali mengangguk dan mengucapkan terimakasih.


Kemudian dia merebut keranjang kopi di salah satu tanganku. Apa dia ingin membantuku. Oh dia sangat baik. Pria yang sangat baik. Di bagian manakah ia bekerja di kantor 15 tingkat ini. Aku tak pernah berjumpa dia selama disini.


Ia meminta izinku dengan mengangkat sedikit keranjang kopi itu. Aku kembali menganggukkan kepala. Sambil menyembunyikan senyum.


lift berbunyi dan pintunya terbuka. Aku lihat nomor lantai. Oh ini lantai dimana aku harus keluar dari sini. Ia mengikutiku dan ikut keluar dari lift.


Ia menyerahkan keranjang kopi itu. Aku mengambilnya dan mengucapkan terimakasih.



Aku memberikannya segelas kopi karena sudah membantuku. Ia tidak menolak dan langsung mengambilnya dari tanganku.


Aku kembali menunduk. Aku akan pergi keruangan dimana timku berada. Sepertinya kami sama-sama bekerja di lantai yang sama tapi di blok ruangan yang berbeda.


Sebelum aku pergi, dia benar-benar mengehentikan langkahku. Ia mencegatku.


Aku menggelengkan kepala tanpa tidak tahu.


"hmm..." tangannya tanpa kuizinkan menyibak anak rambutku ke belakang telinga.


Aku terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba. Aku Langsung membelalakkan mata tanda aku terkejut. Ia melihat ekspresi kagetku. Ia langsung meminta maaf atas kelancangannya.


Aku kembali mengangguk.


"apa kau bisu?" tanya nya karena belum mendengar sepatah katapun keluar dari bibirku.


"tidak..." ucapku

__ADS_1


Aku harus bergegas mengantarkan kopi-kopi ini pada rekanku yang sudah menunggu. Sepertinya ia paham dengan keadaanku.


"pergilah.. kau tampak khawatir,, bagaimana jika nanti sewaktu makan siang kita bertemu lagi. Kita makan siang bersama, biar aku traktir. Aku ingin mengenal mu" ucapnya kemudian pergi tanpa mendengar persetujuanku.


Aku menatap punggungnya dengan heran. Kenapa ia bisa tertarik bicara dengan gadis biasa seperti itu? Aku bergegas masuk ke ruangan ku, memberikan pesanan kopi rekan-rekan.


"kopimu?" tanya Mira heran.



Amira Wulandari. Ia sahabat sekaligus rekan kerjaku. Aku bertemu disaat sama-sama melakukannya interview di firma ini dua tahun yang lalu. Sejak saat itulah kami dekat dan memutuskan bersahabat.


"aku sudah berikan pada pria di blok sebelah yang membantuku tadi" jawabku tak masalah.


"Ini minum kopiku,, pagi hari harus disambut dengan kopi panas" ujarnya sambil menyodorkan gelas kopinya padaku. Aku mengambil dan menyeruputnya.


"kapan kamu bisa menolak dan mengatakan tidak atas permintaan orang-orang ini,, lihatlah mejamu bahkan penuh dengan kertas tempel yang berisikan permintaan dan pesanannya" Mira mengeluh pada diriku.



Ia mencabut salah satu kertas tempel itu.


#icha, tolong kirim laporan ini ke email pak Rudiantara (kepala pengacara di tim kami)#


"mengirim email saja harus minta tolong Icha" gerutu Mira tak berhenti.


aku hanya tersenyum melihat Mira.


"kamu jika butuh bantuanku, katakan saja" ucapku padanya untuk menghiburnya.

__ADS_1


"aku tidak akan merepotkanmu seperti orang-orang itu" Ia menyelesaikan pembicaraan ini dengan menyeret kembali kursinya ke depan layar komputernya.


__ADS_2