
Saat malam tiba, mata Icha tak bisa terpejamkan. Ia masih memikirkan dan merasa bersalah ata apa yang sudah terjadi. Ia menatapi sang ibu yang tengah pulas tertidur disampingnya.
“Ibu, maafkan aku, putrimu yang menyedihkan ini. Aku tidak pernah bisa membuatmu bangga. Ibu, apapun yang terjadi padaku, aku harap ibu tidak terlalu terkejut dan ibu mau memaafkanku." ucap Icha ngebatin.
Icha memutuskan keluar kamar, Ia belum bisa tidur. Saat berada diluar, Ia melihat Alia sedang ngemil sambil selonjoran. Icha kemudian mendekat dan menawarkan diri untuk memijat kaki sang kakak.
"apakah kondisi pabrik tempat Kak Zaki bekerja baik-baik saja?" sambil memijat, Icha memulai pembicaraan dengan mengkhawatirkan kakak iparnya. Ia masih ingat Angga bilang masalah itu belum berakhir.
"aku tidak tahu dengan jelas, apakah ada masalah di pabrik? Dia tidak bercerita, mungkin ia khawatir jika cerita bisa membuat aku tertekan, aku kan lagi hamil, tapi sepertinya pabrik itu memang dalam masalah. Kau kan bisa lihat banyak spanduk dan baliho penolakan tertempel disekitar daerah ini menuntut CEO pabrik itu" jawab sang kakak tanpa curiga kenapa Icha tiba-tiba bertanya tentang kondisi tempat suaminya bekerja.
__ADS_1
Icha mengangguk, ia memang melihat bentuk protes itu saat tiba tadi. Ia juga khawatir dengan kondisi penduduk di kampungnya. Selain bergantung pada hasil laut, penduduk disini juga menggantungkan kehidupannya dengan keberadaan pabrik sabun yang sudah berdiri puluhan tahun lamanya dipulau ini. Icha hanya bisa berharap semoga Angga mendengar permintaannya saat itu. Tidak memenjarakan kakak iparnya dan presdir Dodi. Serta Angga dapat bermurah hati mempertahankan keberadaan pabrik ini.
Kemudian Icha bertanya lagi pada Alia, bagaimana sang kakak bisa tahu kalau dirinya hamil? Apakah ia juga menggunakan alat tes kehamilan untuk membuktikannya?
Sambil memasukkan makanan ringan ke mulutnya, Alia menjawab ia melakukan tes kehamilan pada alat tes kehamilan yang banyak dijual orang di apotek. Namun saat ia mencobanya untuk pertama kali itu memberikan hasil negatif. Jadi menurutnya jangan terlalu percaya pada hasil yang dilihat.
Namun Alia mengagetkan Icha dari pikirannya, "kenapa kau tiba-tiba bertanya pasal kehamilan?" tanya Alia curiga,
Icha langsung menyangkal kecurigaan sang kakak dengan mengatakan itu temannya yang bertanya, karena ia ragu apakah ia hamil atau tidak. Makanya Icha langsung ingat saat melihat Alia.
__ADS_1
"karena kakak sedang hamil aku jadi teringat pertanyaan temanku" ujar Icha berhati-hati agar kakaknya tidak curiga.
Kemudian Alia kembali menjelaskan dan menyarankan "Jika temanmu itu ragu pada hasilnya lebih baik ulangi lagi, aku dua kali melakukannya dan itu baru hasilnya positif. Untuk mendapatkan hasil yang akurat lakukanlah di pagi hari saat buang air kecil pertama"
Icha mengangguk paham. Ia berniat akan mencoba kembali tes itu di pagi hari seperti yang dikatakan kakaknya. Ia harus pastikan ini dengan akurat supaya ia bisa lega dan berpikir baik-baik untuk melakukan langkah selanjutnya dengan kehamilannya,
"akan aku beritahu dia nanti" jawab Icha atas saran yang diberikan Alia
Kemudian mereka mengakhiri pembicaraan itu. Icha kembali ke kamar dan tidur disamping ibunya. Ia berharap besok pagi segera datang dengan cepat dan hasilnya adalah negatif.
__ADS_1