Fated To Love You

Fated To Love You
43


__ADS_3

Hampir saja Angga melupakan alasan keduanya datang ke kelas hamil ini. Ia harus mengganti kartu anggota Icha dengan yang baru. Ia benar-benar risih jika melihat Icha membawa-bawa kartu yang ada foto orang lain bukan fotonya.


Lalu Angga meminta Icha menyerahkan kartunya. Icha yang tidak memeriksa apa yang sudah Angga lakukan pada foto Reza hanya memberian begitu saja kartunya pada Angga. Icha memberikannya, lalu Angga membuang kartu tersebut ke tempat sampah. Icha tampak bingung dan ketakutan dengan apa yang dilakukan Angga. Ia menjadi cemas, apakah Angga tidak menyukai jika dia kemari dan ini sebagai peringatan baginya?


Lalu Angga merangkul pundaknya dan membawanya berjalan bersama menuju bagian registrasi. Namun saat sampai disana, Angga kembali terkejut dan kesal melihat foto Icha bersama Reza di papan informasi dan begabung dengan foto pasangan suami-istri lainnya.


Icha melirik Angga gugup sambil membasahi kerongkongannya yang kering. Ia takut Angga akan marah. Tapi Angga tidak memarahinya malah ia tersenyum dan semakin mengeratkan rangkulannya.


Lalu Angga meminta karyawan registrasi tersebut memberikan kartu anggota baru padanya dan menanggalkan foto itu lalu diganti dengan fotonya.


Karyawan tersebut kebingungan dan memandangi mereka secara bergantian. Ia bingung dengan permintaan Angga. Namun Angga yang mulai kesal akhirnya mendesak karyawan itu untuk segera melakukannya.


Lalu karyawan itu menuruti permintaan Angga karena Angga sudah mulai marah-marah dan membuat kegaduhan. Ia meminta Angga menurutinya dan kembali mengambil foto mereka.


Setelah foto diambil, Angga tampak puas melihat fotonya yang berada di kartu Icha dan berkata Icha harus menjaga kartu tersebut, jangan sampai menghilangkannya. Lalu ia kembali berkata, jika ia tidak suka kalau sesuatu yang ada hubungan dengannya malah ada orang lain didalamnya dan ia kembali menekankan pada Icha bahwa ia melakukan ini untuk anaknya. Jadi Icha jangan kebaperan. Lalu Icha mengangguk paham dan mengambil kartu yang diberikan Angga.


Siapa juga yang baper, padahal dia saja yang cemburu. Dasar Angga! (author Pov)


Mereka pun hendak pergi dari kelas hamil ini. Namun tiba-tiba ponsel Icha berdering dan tertulis dilayar ponsel "Ibu". Lalu Icha menerima panggilan itu.


Mendengar suara Icha yang lemah membuat ibunya panik dan bertanya, apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa suaranya terdengar lemah?

__ADS_1


Lalu Icha menjawab dia tidak kenapa-kenapa dan suaranya juga baik-baik saja, telinga ibunya saja yang aneh. Lalu Ibunya memberitahu bahwa dia ada acara di sini. Dia sudah tiba bersama teman-temannya dari kampung halamannya. Anak temannya menikah, jadi dia mau menggunakan kesempatan itu untuk sekalian bertemu Icha dan Angga. Lalu Icha menjawab kalau dia akan mengusahakannya.


Angga menatap Icha yang tengah menelpon dan bertanya pada Icha, ada apa? Lalu Icha memberitahunya bahwa ibunya ada di daerah ini dan ibunya meminta untuk bertemu,


"Ibu sedang berada di sekitar sini. Ia datang bersama teman-temannya dari kampung dan meminta untuk kita menemuinya, tapi jika kau sibuk biar aku saja yang pergi." Icha berkata dengan canggung, Ia tidak ingin merepotkan Angga.


Melihat kecanggungan di wajah Icha, Angga berkata ia akan mengantarkan Icha kesana. Namun Icha menolak dan berkata ia bisa pergi sendiri. Namun Angga tak membiarkannya.


Angga tidak hanya mengantarkan Icha ke tempat Ibunya berada. Tapi Angga juga ikut masuk bersama Icha kedalam. Lagi-lagi Icha berkata Angga tidak perlu ikut ke dalam, ia tidak ingin merepotkannya. Tapi Angga hanya menghiraukan Icha dan berkata ia tidak sibuk, jadi ia punya waktu sedikit untuk bertemu Ibu Icha.


Di dalam tempat itu, suasana tampak ramai karena semua sedang asik berjoget. Semua tampak berbahagia. Lalu ibunya datang menyambut mereka dan langsung mengajak Angga untuk bergabung bersama mereka. Langsung saja, Angga menurut dan bergabung bersama ibu-ibu paruh baya itu dan ikut berjoget bersama.


Icha tampak tak percaya. Dia kaget mendapati Angga tengah menikmati acara ini dan benar-benar tak canggung berada di lingkaran para ibu-ibu. Lalu Icha tersenyum senang. Dia senang Angga mau datang ke acara ini dan tampak menikmati acara ini bersama ibunya.



Angga hanya tertawa dan menuruti mereka. Semua pun senang karena lagu yang dipilih Angga memiliki iringan musik yang gembira. Lalu Icha tampak menikmati suasana ini. Dia senang menemani Angga bernyanyi.


Acara ibu-ibu paruh baya itupun akhirnya usai, semua ibu-ibu sudah siap naik ke bis yang akan mengantarkan mereka pulang. Angga masih menemani dan mengantar semuanya sampai naik bis, serta berkali-kali dia harus menerima pujian akan ketampanannya.


Angga hanya menanggapinya dengan tertawa. Tawa yang khas yang selalu didendangkannya. Setelah semua teman ibu Icha naik. Salah satu temannya memuji Angga didepan Ibu Icha dengan mengatakan bahwa menantunya sangatlah baik dan mau berusaha keras menghibur teman-temannya. Pasti melelahkan karena teman-temannya dari desa.

__ADS_1


Lalu Angga membantah hal itu dan berkata kalau tadi semua sangat menyenangkan. Ibu Icha kemudian juga meminta maaf karena awalnya dia curiga pada Angga yang tidak memperlakukan Icha dengan baik, tapi ternyata dia salah. Lalu Angga sedikit merasa tidak enak, tapi kemudian ia menjawab kalau seperti itulah hati seorang ibu. Jadi wajar saja. Ia memakluminya.



Ibu Icha tersenyum, dia kemudian menggenggam tangan Angga dan meminta Angga memanggilnya ibu mulai sekarang. Angga langsung tersentuh mendengarnya.


“Mulai sekarang aku ibumu.” Ucap Ibu Icha dengan tulus.


Lalu Angga mencoba menyebut mertuanya itu dengan panggilan ibu dan Ibu Icha senang setelah medengar Angga memanggilnya ibu. Dia kemudian meminta Icha memasakkan makanan yang lezat untuk Angga karena Angga tampak sedikit kurus.


Sesaat sebelum pergi, Ibunya juga memeluk Angga dan berkata kalau putranya harus tetap sehat. Angga sedikit canggung dengan pelukan itu, tapi dia menyukainya. Dia suka pelukan seorang ibu.



Berkali-kali Angga mengucapkan kata ibu pada ibu Icha dan tampak sangat senang. Dia suka memiliki ibu, karena selama ini tak ada yang memperlakukannya sehangat seorang ibu, seperti yang ibu Icha lakukan padanya bahkan memintanya untuk memanggil Ibu. Selama ini ia hanya mendapatkan kasih sayang nenek.


Ibu Icha juga menyebut “Putraku” padanya. Angga menyukai semua itu. Dia menatap Icha sambil tersenyum dan kemudian melambai pada semua yang ada di dalam bis.



Setelah bis melaju pergi, tinggallah mereka berdua saat ini. Lalu Icha berterima kasih pada Angga karena sudah mau datang dan menghibur teman-teman ibunya. Icha bahkan tidak membayangkan Angga mau melakukan semua hal tadi.

__ADS_1


Lalu Angga menjawab, kalau menantu juga sama dengan anak. Jadi mana mungkin dia menolak permintaan ibu mertuanya. Kemudian Angga juga memuji suara Icha yang bagus. Icha tersenyum dan gantian memuji Angga.



__ADS_2