
Angga teringat akan saran pak Rudi, jadi dia harus bergegas pergi ke pulau tempat pabrik sabun itu berada jika ingin masalahnya cepat dan mudah diselesaikan. Ia merasa tidak ada masalah dengan orang-orang disana, lagipula ia sudah membayar karyawan di pabrik itu dengan sepatutnya. Alasan ia menjual pabrik itu karena memang pabrik itu tidak menguntungkan lagi baginya. Tapi karena ulah yang sudah diperbuat Presdir Dodi dengan menjebaknya, membuat Angga harus kerepotan pergi ke pulau itu. Padahal Ia sama sekali tidak menyukai laut.
Pagi-pagi sekali Angga bersama Reza sudah naik kapal pertama yang akan mengantarkan mereka ke pulau tempat yang mereka tuju. Reza menghirup udara yang segar dan bersih terasa. Kemudian ia memuji kemurnian udara di pulau ini.
Namun Angga malah melakukan sebaliknya. Ia benci dengan suasana ini. Ditambah lagi ini ia lakukan karena terpaksa. Jika ia tidak mengurus masalah ini dengan cepat maka video itu pasti akan tersebar. Ia tidak ingin neneknya tahu. Terlebih lagi kalau berita itu sampai ke telinga dewan direksi. Bisa di tendang ia dari posisi yang sudah ia dan neneknya perjuangkan. Ia tidak ingin neneknya sedih dan kecewa padanya.
Angga benar-benar terganggu dengan udara laut. Aroma laut sangat mengganggunya. Kemudian Reza kembali mengingatkan tujuan kedatangan mereka ke pulau ini adalah untuk bernegosiasi, jadi yang harus Angga lakukan adalah berbuat baik agar negosiasi berjalan lancar.
Tentu saja Angga kesal dan bertanya apa dia sudah gila melakukan hal itu? Dia saja sudah sangat malas melihat wajah orang-orang itu, kenapa malah disuruh berbuat baik pada orang yang sudah menjebaknya? Bahkan ia mengumpat dan mengatakan takkan pernah lagi kembali ke tempat ini. Kecuali jika ia harus menikah ditempat ini.
Namun hal itu takkan mungkin terjadi. Ia membenci setiap hal yang ada disini karena kesan buruk yang sudah diberikan Presdir Dodi padanya. Itu benar-benar mendatangkan kesialan baginya.
Tiba-tiba saja tubuh Angga linglung, ia terkena mabuk laut dan udara laut benar-benar tidak cocok baginya.
Reza langsung membantu menepuk-nepuk punggung Angga berharap ia baik-baik saja. Semua isi perut Angga sudah keluar sebelum ia sampai di pinggir pantai. Dia membenci hal ini, benar-benar membuatnya kelihatan lemah tak berdaya.
__ADS_1
Namun berbeda halnya dengan yang terjadi pada Icha. Paginya berjalan dengan gugup dan ketakutan. Ia sudah berada dikamar mandi dengan alat tes kehamilan di tangannya. Ia akan melakukan pengecekan kembali, sesuai saran Alia semalam. Ia sudah memastikan pintu kamar mandi terkunci rapat sehingga tak ada yang tahu ia sedang menyembunyikan apapun disini.
Disaat Icha mencoba dan sudah melakukannya sesuai yang dikatakan Alia. Dia hanya berharap hasil tes di alat uji kehamilan ini adalah negatif. Tapi ternyata, harapan Icha sirna begitu saja saat masih melihat dua garis merah di alat tes tersebut, yang menandakan kalau dia memang hamil.
Icha menjadi sangat frustasi, dia hampir saja berteriak saking kagetnya mengetahui apa yang dia lihat.
Namun ia tak jadi berteriak, tiba-tiba saja ibunya masuk ke kamar mandi, membuat Icha sontak kaget langsung berdiri dan meyembunyikan alat uji kehamilan itu di balik punggunggnya.
Namun ibunya sadar ada yang berbeda dengan putrinya. Icha tampak gugup dan terlihat tengah menyembunyikan sesuatu, diapun bertanya apa yang Icha sembunyikan?
Icha dengan gugup menjawab bukan apa-apa kok. Tapi Ibunya tak percaya dan bertanya lagi, kalau memang bukan rahasia kenapa harus Icha sembunyikan? Ia terlihat seperti maling ayam. Kemudian Ibunya mendekat dan mencoba mengambil paksa apa yang disembunyikan Icha dari balik punggungnya.
__ADS_1
Sang Ibu berhasil mengambil alat tes kehamilan itu dan melihat kalau ada dua garis merah disana. Ibunya menatap dan tampak berfikir. Apa maksudnya dengan ini?
Kemudian tiba-tiba saja Ayu muncul dari balik pintu masuk ke kamar mandi dalam keadaan setengah sadar dari tidurnya. Ia ikut bergabung ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok giginya. Saat mendapati ibunya yang berdiri bingung di hadapannya dan melihat sekilas apa yang dipegang oleh ibunya, ia bergumam dan menjawab dengan santai, "itu tandanya positif hamil"
Kemudian Ayu berlalu dan mengambil air untuk mencuci mukanya. Mendengar jawaban Ayu sontak ibunya kaget dan tak percaya hal itu bisa terjadi pada gadis polosnya, Icha.
Ibunya berteriak mengekspresikan ketidakpercayaannya pada benda yang ia pegang. Bagaimana bisa putrinya hamil sementara Icha belum menikah?
Teriakan sang ibu berhasil membawa Alia ikut bergabung ke kamar mandi. Ia penasaran kenapa pagi-pagi ibunya sudah ribut dan berteriak di kamar mandi? Apakah ada tikus dikamar mandi?
Ayu yang tadinya setengah sadar menjadi sepenuhnya sadar oleh teriakan ibunya. Sementara Icha masih pucat tak bergeming dari posisinya di pojok kamar mandi.
Icha takut ibunya akan melakukan apa padanya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Tak mungkin kan ibunya membunuh putrinya atas apa yang sudah terjadi? Ia hanya bisa pasrah atas apapun keputusan yang dibuat oleh ibunya. Hal ini terjadi karena ketidaksengajaan. Namun ia tak bisa menjelaskannya pada sang ibu.
####
__ADS_1
Note:
Timingnya pas banget Icha ketahuan saat Angga sudah menuju kesana. xixixixi :))