Fated To Love You

Fated To Love You
69


__ADS_3

Angga datang ke kantor dan disana ternyata Anin sudah menunggunya. Anin ingin mengajaknya pergi tapi Angga berkata kalau ia sepertinya masih ada yang harus dikerjakan dulu. Anin pun tak masalah dan dia mau menunggu sampai Angga selesai.


Anin melihat meja kerja Angga tak ada lagi foto mereka berdua. Dia menjadi heran dan bertanya dimana foto mereka yang biasanya Angga taruh di meja?Angga juga bingung sejak kapan dia memindahkannya. Lalu dia menjawab mungkin ada di laci. Angga pun segera memeriksa laci.


Ternyata foto mereka memang ada di laci. Saat foto-foto itu sudah kembali diletakkan di meja kerja Angga, dia kemudian menatap permen Cherry Pink yang ternyata juga berdiam di dalam laci mejanya. Angga mengambil permen itu dan menatapnya lama. Seolah ada magnet yang menariknya.


Anin lalu bertanya apakah permen Cherry Pink itu penting? Angga hanya diam. Tiba-tiba detik itu juga semua ingatan Angga kembali. Mulai dari saat dimana dia di Bali bersama Icha. Diapun ingat bahwa Anin sama sekali tidak pernah datang ke Bali dan lebih memilih impiannya daripadanya.


Angga kemudian menatap Anin lalu berkata “Anin jawab aku… Apakah tiga bulan yang lalu.. Kau tidak pernah datang ke Bali? Kau tidak datang dan tidak kulamar.”


Anin mencoba menjelaskan tapi Angga sepertinya tidak peduli, dia bergegas pergi dan Anin menyusulnya. Anin memegang lengannya dan memohon agar Angga tidak pergi. Tapi Angga menjawab “Anin… Entah mengapa aku merasa kehilangan sesuatu yang penting. Sangat penting.”


Angga memberitahunya sepertinya dia ingin berhenti bersama dengan Anin. Lalu Anin pun terdiam. Angga berkata, orang yang harus dia beri perhatian adalah Icha. Dia harusnya bersama Icha saat ini karena Icha adalah istrinya.


Anin menolak dan ia berkata Angga tidak bisa meninggalkannya. Anin merasa ia tidak lagi menjadi orang yang istimewa bagi Angga.


Angga pun memberitahunya dia ingin berada di sisi Icha. Meskipun hubungan itu dimulai dari kesalahan itu sudah terjadi dan karena sudah memulainya ia ingin menjalaninya hingga akhir. Angga juga akan menepati janjinya kepada Icha.


Lalu Angga melangkah pergi dan meninggalkan Anin sendiri. Anin tahu sepertinya dia dan Angga sudah tak mungkin bisa bersama. Mungkin ingatan Angga sudah kembali dan menyadari bahwa sesuatu yang penting itu adalah Icha bukan dirinya.


Angga pergi dan segera ingin menemui Icha. Saat ia bergegas menuju ke tempat Icha berada. Dia mengingat kembali kenangan manisnya bersama Icha. Kenangan saat Icha mencium pipinya di pagi itu. Kenangan itu menyatu dengan kalimat yang pernah dikatakan Icha padanya. Kata-kata dimana Icha dengan jujur mengungkapkan kalau dia ingin memilikinya, walau Icha tahu itu tidak mungkin.


Kenangan lainnya muncul begitu saja di memory Angga. Kenangan ketika dia membacakan dongeng untuk Pangeran kecil di malam sebelum tidur. Lalu kenangan itu berbaur dengan kenangan dimana dia mencium lembut pipi Icha. Mencium untuk mengusap air mata Icha yang terjatuh.

__ADS_1


Lalu yang terakhir adalah kenangan dimana ibu Icha membawa Icha pergi karena surat perjanjian cerai itu terbongkar. Saat itu adalah saat terburuk baginya.


Angga menangis sambil memanggil “Icha” dan "Pangeran kecil." Berkali-kali dia memanggil nama kedua orang yang begitu dia cintai. Dia menyesal sudah melakukan hal terburuk belakangan ini karena amnesia yang tiba-tiba menyerangnya. Penyesalan selalu datang terlambat.






Angga sudah sampai di dekat Restoran Ibu Icha. Ia tidak masuk ke dalam melainkan ia hanya memarkir mobilnya di luar dan saat itu ia melihat Icha sedang duduk di luar sambil menggendong anak Alia. Icha tentu saja tidak menyadari kehadiran Angga yang sedang memperhatikannya karena dia tengah asik mengajak keponakannya bercanda.


Angga kembali ke Rumah Sakit untuk bertemu dengan Dr Heri. Angga langsung bertanya mengenai penyakitnya, apa sudah mulai menyerang? Dia mau Dr Heri jujur padanya mengenai ini.


Dr Heri hanya berkata kalau Angga harus banyak istirahat. Angga bertanya lagi apa pingsan dan amnesia sesaatnya kemarin ada hubungannya dengan penyakit itu? Dr Heri tidak punya pilihan lain, dia berkata kalau dulu ayah Angga juga mengalami gejala yang sama seusia Angga, “Aku belum bisa memastikan. Tapi semua memang mirip.”


Angga melangkah lunglai meninggalkan Dr Heri dan Dr Heri lalu berkata agar Angga tidak usah khawatir, semua bisa saja salah. Angga dengan wajah sedih dan tangis tertahan menjawab “Bagaimana aku tidak khawatir? Nenekku, Icha dan Pangeran kecil… keluargaku. Banyak yang harus kupikirkan.” Angga berbalik menatap Dr Heri dan berteriak bagaimana bisa dia tidak khawatir?


Angga hampir tak kuasa menahan tangisnya. Kenapa semua harus seperti ini disaat dia benar-benar ingin membangun keluarga yang harmonis bersama Icha? Apa kesalahannya sehingga dia mendapat takdir seperti ini? Satu-satunya kesalahan yang bisa ia maafkan dan terima yaitu ditakdirkan untuk mencintai Icha.


Icha kembali menemui Reza dan dia meminta maaf karena akhir-akhir ini dia merasa seolah bukan dirinya. Reza lalu bertanya bagaimana jika Angga tidak bisa mengingat kembali?

__ADS_1


“Aku memilih tidak memikirkan yang buruk-buruk. Aku akan mempercayai dan menunggunya.” jawab Icha penuh senyum.


Reza tak tahu harus berkata apa, dia kemudian hanya bilang kalau dia akan ke Perancis minggu depan. Dia memilih memulai bisnis disana dan juga terus mencoba mencari keberadaan adiknya disana. Ada yang bilang adiknya berada di Paris. Icha sedikit terkejut karena ini terlalu mendadak untuknya. Tapi dia tetap menghormati keputusan Reza. Lagipula dia tidak bisa menahan Reza untuk tetap tinggal.


Setelah selesai bertemu dengan Reza, Icha datang sendiri ke kelas hamil. Ini adalah kelas terakhinya. Seperti biasa dia memilih duduk di belakang. Instruktur menjelaskan kalau tugas terakhir mereka di kelas ini adalah menulis surat penuh cinta untuk calon anak mereka semua.


Semua peserta sudah siap menulis, termasuk Icha. Berkali-kali Icha menatap ke arah pintu berharap siapa tahu Angga akan muncul seperti waktu sebelumnya. Tapi kali ini tidak ada dan itu membuatnya sedikit sedih.


Icha mulai fokus menulis, dia berperan sebagai Angga di surat itu. Bahkan ia sengaja membuat suaranya terdengar berat agar lebih mirip seperti Angga. Ia menulis “Pangeran kecil…ini Ayah.”


Tapi kemudian Icha mengganti tulisan itu dengan kalimat “Pangeran kecil..ini aku Angga…Hahahaha”


Angga mencoba menirukan tawa Angga yang khas itu walau pelan. Lalu tiba-tiba terdengar suara tawa Angga mendekat. Icha tentu menjadi kaget dan ternyata Angga memang benar ada di pintu dan sedang melangkah masuk. Dia terus tertawa dengan tawanya yang khas.


Angga duduk di samping Icha dan masih berpura-pura amnesia, dia hanya berkata kalau sekarang dia tahu Icha tengah mengandung anakknya. Jadi dia akan melakukan tugasnya sebagai seorang ayah. Icha menanggapinya dengan senyum manis. Dia pun meminta Icha yang menulis surat untuk anak mereka, sementara dia yang memilih kata-katanya.


Angga mulai berkata “Pangeran kecil…dunia ini sedang berkembang dan hidup ini sangat indah.”


Tapi tiba-tiba, Angga mengganti kalimatnya. Dia berkata kalau dia harus lebih realistis. Icha tak protes, dan bersiap menulis kembali. Kali ini dia berkata “Pangeran kecil...hidup ini sangat sepi dan dunia ini sangat keras. Kekayaan dan ketenaran itu tak ada gunanya kecuali jika kau berumur panjang. Itu artinya..kau harus berusaha yang terbaik untuk bertahan hidup di dunia ini. Berusahalah hindari stress dan berusaha agar tak telalu keras bekerja dan hanya memakan makanan sehat. Hati-hati pada Anjing, mobil, dan api.”


Icha sudah mulai merasa surat Angga terdengar sangat aneh. Dia hanya menatap Angga, tapi Angga terus saja melanjutkan kalimatnya. Kemudian Icha bertanya apa isi surat ini tidak terlalu serius untuk anak mereka nanti, padahal ini kan surat kasih sayang? Angga terus menjawab kalau ini adalah surat untuk mengajarkan anak mereka bagaimana cara hidup nanti. Jadi dia mau Icha terus menulis selagi dia masih ingat dan masih serius.


__ADS_1


__ADS_2