Fated To Love You

Fated To Love You
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Papa Jo kembali masuk ke dalam kamar putranya setelah tadi sempat turun ke bawah untuk berbicara dengan Astri.


"Kalian berdua ke bawah dulu makan siang," perintah Papa Jo pada Ello dan Alex yang sejak tadi sibuk membantunya.


"Kita belum laper Pa," jawab Alex, namun detik selanjutnya perutnya justru di sikut oleh Ello.


"Yaudah kita turun dulu Pa, kalau ada apa-apa panggil aja." Setelah mengatakan itu, Ello menarik paksa Alex agar mau keluar dari kamar.


"Ngab kenapa sih kita keluar. Gue kan kepo, pengen tau itu siapa perempuan yang di bawa Papa Jo," gerutu Alex tak rela saat tubuhnya di seret dan mulai menuruni satu persatu anak tangga.


"Gue juga gak tau. Mungkin calon ibu tiri Mike."


"Nah lo gak tau kan siapa perempuan tadi. Mangkannya sekarang mending kita balik lagi ke kamar Mike. Gue kepo banget ini," bujuk Alex. Dia mencoba menarik balik Ello agar mau berbalik arah, namun sialnya tenaga Alex justru kalah jauh dari pria beranak satu itu.


"Mereka butuh privasi ngab. Kalaupun dia calon ibu tiri Mike, Papa Jo nanti juga pasti kenalin ke kita. Jadi mending sekarang kita makan, biarin Papa Jo, Mike dan perempuan itu berbicara tanpa ada gangguan."


Meski berat, akhirnya Alex mengalah. Dia harus menahan rasa ingin tahunya, Alex tak mau jika dirinya sampai berlari kembali ke atas hanya untuk menguping pembicaraan pemilik rumah ini.


Di sisi lain, di dalam ruangan bernuansa maskulin, Papa Jo duduk di sisi ranjang untuk mulai pembicaraan dengan sang putra.


"Bagaimana keadaanmu? Masih pusing? Atau ada yang sakit?" tanya Papa Jo dan di balas gelengan kepala oleh Mike.


"Makan dulu ya. Ini udah waktunya makan siang. Tapi kamu bahkan dari pagi belum makan apapun," bujuk Papa Jo. Dan lagi-lagi hanya di balas gelengan kepala oleh Mike.

__ADS_1


Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi sejak di temukan di balkon dalam keadaan hampir pingsan, Mike belum mau berbicara dengan siapapun. Dan sekalipun pria itu mengeluarkan suara, Mike hanya terus bergumam nama Floryn dan Floryn.


"Apa kamu pengen makan sesuatu? Nanti biar Papa minta tolong Bibi buat masakin."


Percuma. Mike sama sekali tak mau makan. Pria itu kini justru memilih memeluk sebuah headset yang sejak tadi selalu berada di sisinya.


"Baiklah kalau kamu belum mau makan. Tapi nanti mau gak mau, kamu harus makan."


Cukup lama ruangan itu kembali dalam suasana hening. Papa Jo masih menimbang-nimbang kalimat apa yang akan dia ucapkan untuk mulai membuka pembicaraan sensitif ini.


"Mike ini Mbak Astri. Kamu masih inget kan?" Mike menatap sekilas wanita paruh baya yang entah sejak kapan sudah berada di dalam kamarnya. Lalu detik selanjutnya Mike menggelengkan kepalanya. Wajah wanita itu nampak familiar, namun Mike sama sekali tak mengenalinya.


"Ini namanya Mbak Astri. Dia orang yang kemarin hampir Papa tabrak," jelas Papa Jo. Mike tak memberi tanggapan apapun, namun Papa Jo tahu jika diamnya Mike kali ini karena ingin menyimak ceritanya.


"Mbak Astri ini kebetulan suster yang ngerawat Oma kamu saat sakit dulu, bahkan sampai Oma kamu meninggal."


"Mbak Astri punya rahasia yang harus kamu ketahui."


"Rahasia? Rahasia apa?" Mike yang sejak tadi diam kini terlihat penasaran dengan rahasia yang di ketahui mantan suster Omanya.


"Ini tentang Mama kamu."


"Mama?"

__ADS_1


Papa Jo menganggukan kepalanya. "Iya Mama kamu, Mama Sita. Papa harap setelah mendengar cerita dari Mbak Astri, kamu bisa memaafkan Mamamu."


"Memaafkan Mama?" tanya Mike lebih ke pada dirinya sendiri.


"Kamu mau denger kan rahasia yang akan Mbak Astri ceritakan?" Mike hanya diam tak memberi tanggapan apapun. Dan hal itu Papa Jo artikan sebagai jawaban iya dari sang putra.


Papa Jo meminta Mbak Astri mendekat. Dan dengan langkah beratnya, wanita itu menuruti perintah mantan tuannya.


"Den Mike, maafin saya." Satu kalimat pembuka yang di lontarkan Astri membuat Mike bingung. Minta maaf? Minta maaf untuk apa?


Dan dengan suara bergetar, Astri mulai menceritakan rahasia masa lalunya yang selalu membuat hidupnya tak tenang. Tak tenang karena diselimuti rasa bersalah yang amat besar.


"Sebenarnya Nyonya Sita gak pernah berselingkuh dengan Aji. Yang terjadi di dalam kamar waktu itu adalah jebakan," ucap Astri yang mulai terisak menahan rasa bersalah karena sudah menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil tuannya.


"Saat itu Nyonya Sita tanpa sadar meminum obat tidur yang saya campur dalam teh hangatnya. Saya minta maaf, saat itu saja di paksa oleh Oma. Kalau saya tidak menjalankan perintahnya, saya akan di pecat. Padahal saat itu saya sedang butuh uang banyak untuk menebus anak saya yang di penjara karena kasus tabrak lari." Astri bersimpuh di kaki Papa Jo untuk meminta ampunan. Dia sudah menyadari perbuatannya yang berakibat sangat fatal.


Papa Jo meminta Astri berdiri. Lalu dengan inisiatifnya, Papa Jo menyambung cerita yang sempat terputus, karena saat ini Astri nampak tak bisa lagi mengontrol rasa bersalahnya.


"Oma kamu memang tak setuju dengan perjodohan kami. Tapi saat itu Papa sudah jatuh cinta sama Mama kamu pada pandangan pertama. Hingga tak ada alasan lagi untuk tidak melanjutkan perjodohan diantara kami."


Ingatan Papa Jo kembali pada masa lalu, dimana setelah ayahnya meninggal, ibunya mulai gencar memintanya untuk menceraikan Sita dengan berbagai macam alasan yang tak jelas.


Saat itu Papa Jo juga menyadari jika Aji sang sopir pribadi menaruh rasa pada istrinya. Namun saat ingin memecatnya, ibunya justru marah dan menganggap Papa Jo adalah orang yang tak punya perasaan karena memecat pekerjanya tanpa alasan yang masuk akal.

__ADS_1


Tak ingin keributan berlansung semakin panjang, Papa Jo memilih mengalah. Namun siapa sangka sikap tak tegasnya justru berbuah kehancuran di keluarga kecilnya.


Ibunya memanfaatkan Aji untuk membuat Sita pergi dari hidupnya. Dan dengan bodohnya ia mempercayai semua yang ibunya katakan tentang hubungan Aji dan sang istri.


__ADS_2