
Ny Sekar memberikan tiket untuk mengikuti kelas hamil pada Icha. Ia berkata itu akan bagus untuk perkembangan bayinya dan ia juga menyuruh Icha untuk pergi bersama dengan Angga.
Namun Icha berpikir, pasti Angga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak ingin merepotkan Angga. Tapi ia ingin sekali mengikuti kelas ibu hamil tersebut.
Akhirnya Icha memutuskan pergi ke kantor Angga. Saat ia menuju lobby ia bingung harus kemana, ia tidak tahu dimana ruangan Angga berada. Akhirnya ia hanya bisa duduk menunggu, berharap Angga akan keluar. Jika ia bertanya pada receptionist, ia bingung harus menjawab apa jika ditanya Icha siapanya Angga.
Tiga puluh menit sudah berlalu sejak Icha datang. Ia mulai gelisah dan masih memandangi tiket yang diberikan Ny Sekar padanya. Setidaknya ia harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Tapi bagaimana caranya? Registrasi harus dilakukan bersama dengan pasangan, sementara Icha takut menemui dan memintanya pada Angga.
Lalu tiba-tiba datang seseorang menghampirinya. Orang itu sudah memperhatikan Icha sejak limat menit yang lalu. Ia merasa kenal dengan Icha, makanya ia mendekat dan menghampiri Icha
"kenapa kau hanya duduk disini?" tanya orang itu.
Icha menoleh dari mana asal suara itu. Kemudian dia tersenyum setelah menatap orang itu.
"apakah kau ingin bertemu dengan Angga?" tanya orang itu.
Ia adalah Reza. Icha kembali tersenyum dan menunduk. Reza pun memutuskan untuk duduk disampingnya dan bertanya apakah Icha takkan menjawab pertanyaannya?
"apakah Angga sedang sibuk?" Bukannya menjawab pertanyaan Reza, Icha malah balik bertanya.
Reza menatap arlojinya. Ia ingat Angga saat ini sedang mengadakan pertemuan yang penting. Ia sedang mengurus sesuatu. Itu berarti Angga sedang sibuk, tapi Reza mengatakan pada Icha. Jika Icha mau, Ia akan memberitahukan Angga bahwa Icha datang. Mungkin saja ia akan menyelesaikan pertemuan itu dengan cepat. Namun Icha menolak Reza melakukan itu. Ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Angga.
Angga memang tengah rapat dengan calon pembeli Pabrik Sabun yang berada di kampung halaman Icha. Angga melupakan permintaan Icha untuk tidak menjual pabrik sabun itu.
Namun karena Angga sangat membenci penduduk yang ada di Pulau itu, mereka yang sudah membuat Angga menderita melakukan pernikahan bersama Icha, ia memutuskan untuk menjual saja Pabrik itu dan membalaskan dendamnya pada mereka.
Ia masih menganggap Icha sebagai siput penghisap. Sambil mempraktekkan bentuk siput ditangannya, ia menunggu Presdir yang akan membeli Pabrik itu menyerahkan kontrak jual-beli pada Angga.
__ADS_1
Kemudian Presdir perusahaan yang akan membeli pabrik itu menyodorkan kontrak penjualan pada Angga. Ia langsung membaca isi kontrak itu dan sedikit terkejut karena Presdir tersebut mau membeli dengan harga mahal.
Presdir itu menjawab kalau itu bukanlah harga yang tinggi. Lalu Angga jadi penasaran dan bertanya memangnya apa yang akan Presdir itu bangun di pulau tersebut?
Presdir itu merahasiakannya dan hanya menjawab kalau dia akan menghancurkan pabrik sabun itu lalu menggantinya dengan sebuah gedung. Angga tak peduli presdir itu akan membangun gedung apa dan langsung saja menandatangani surat penjualan itu. Maka, resmilah Angga telah menjual Pabrik Sabun itu tanpa sepengetahuan Icha.
Kembali lagi pada Reza dan Icha. Reza berkata, apakah ada yang bisa ia bantu untuk Icha? Namun Icha langsung menjawab tidak ada.
Kemudian Reza berkata, "apakah aku sudah membuatmu tidak nyaman?"
Icha langsung menggeleng tidak, Ia tidak ingin Reza salah paham dengan maksudnya.
Reza tahu Icha kemari pasti ada alasannya, karena ia tidak ingin merepotkan siapa pun, ia hanya memendamnya sendiri dan tak mau mengatakannya.
Lalu Reza melihat tiket yang Icha pegang dan mengambilnya. Ia membaca tulisan pada tiket itu. Jadi, inilah penyebabnya Icha kemari.
"apa kau ingin menghadiri kelas ini?" tanya Reza setelah mengambil tiket itu dari tangan Icha.
Lalu Icha mengangguk pelan membenarkan pertanyaan Reza dan berkata, "aku bahkan belum melakukan registrasi"
Reza paham sekali, alasan Icha kemari adalah untuk meminta Angga pergi bersamanya. Sebab saat ia membaca tulisan pada tiket itu, tertulis bahwa registrasi harus dilakukan bersama pasangan suami-istri. Itu sebabnya Icha tidak bisa pergi sendiri.
Reza menarik tangan Icha dan membawanya pergi ke ruangan Angga. Lalu ia mengomeli Icha, kenapa tidak memberitahu ini sejak tadi? Namun Icha hanya menunduk diam dan mengikuti Reza.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya sampai di ruangan Angga. Di waktu yang bersamaan, Angga telah selesai dengan rapatnya bersama Presdir yang membeli Pabrik Sabun itu. Ia sudah pergi meninggalkan ruangan Angga. Mereka baru saja berpapasan saat keluar dari ruangan Angga.
Reza membuka pintu dan langsung saja masuk ke ruangan Angga. Ia masih belum melepaskan tangan Icha saat masuk. Tentu saja hal itu dilihat oleh Angga. Ia menatapnya tidak suka, entah tidak suka dengan kedatangan Icha atau tidak suka jika Reza menyentuh miliknya?
"mengapa kau datang bersamanya?" Angga langsung melempar pertanyaan pada Reza.
Lalu Reza melepaskan tangannya dan menyuruh Icha mengatakan alasannya datang. Namun Icha terlihat gugup dan terbata-bata berbicara dengan Angga.
"bicara yang jelas, aku tidak biaa mendengarnya" ujar Angga kesal mendengar cara Icha berbicara.
Kemudian Icha memperlihatkan tiket yang diberikan oleh Ny Sekar dan berkata bahwa neneknya meminta mereka mengikuti kelas itu.
Angga menatap tiket itu tidak berminat, lalu berkata pada Icha untuk tidak perlu menuruti neneknya. Untuk apa mengikuti kelas itu sementara perut Icha bahkan belum membesar. Itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Ia tidak mau melakukan itu.
Tentu saja Icha kecewa dengan pendapat Angga. Padahal ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk calon bayinya. Makanya ia ingin sekali mengikuti kelas ibu hamil tersebut.
"jika tidak ada lagi yang perlu kau katakan, kau boleh pergi. Aku sibuk, jadi aku tidak bisa pergi denganmu" Angga beralasan sibuk, supaya ia tidak pergi dengan Icha.
Ia masih belum bisa menghilangkan kesalahpahamannya pada Icha. Ia masih memungkiri ketulusan Icha. Oleh karena itu, ia masih terus berusaha menghindari Icha.
Mendengar Angga berkata demikian, Icha tak punya pilihan, selain keluar dari ruangan itu. Ia mengambil kembali tiket itu dan memasukkannya kedalam tas. Reza yang menatap Icha, merasa kasihan. Ia tahu Icha sangat menginginkan pergi ke kelas itu. Ia ingin membantu Icha mengabulkan keinginannya itu.
"kau yakin tidak akan pergi dengannya?" Reza kembali bertanya memastikan pada Angga saat Icha sudah keluar.
Lalu Angga langsung menjawab tentu saja, Ia tidak akan pergi.
Kemudian Reza berkata pada Angga, bahwasanya ia perlu keluar dari kantor. Jadi dia perlu Angga mengizinkannya untuk libur setengah hari dari pekerjaannya. Saat Angga bertanya Reza hendak kemana, kenapa tiba-tiba meminta izin? Reza hanya menjawab dia akan pergi ke tempat yang Angga tidak ingin pergi. Lalu Angga memberikannya saja izin untuk pergi.
__ADS_1